Paris dan Berlin mendesak Komisi Eropa memperkuat sikap dagangnya menjelang putaran negosiasi dengan Beijing. Dua kekuatan ekonomi terbesar di Uni Eropa itu sepakat menyerukan pembentukan kekuatan perdagangan baru yang bisa dengan cepat menutup akses negara asing ke pasar Eropa. Usulan yang diajukan Prancis dan Jerman ini kerap disebut sebagai mekanisme "kill switch" atau saklar mati perdagangan.
Langkah ini menandai pergeseran posisi yang signifikan, terutama bagi Jerman. Selama ini Negeri Puma dikenal lebih berhati-hati dibanding Prancis dalam memberlakukan pembatasan terhadap China, mengingat banyaknya perusahaan Jerman yang bergantung pada pasar raksasa Asia tersebut. Namun tekanan persaingan yang makin ketat akhirnya memaksa Berlin mengambil sikap yang lebih tegas.
Kesenjangan Dagang Jadi Pemicu
Di balik desakan ini terdapat keluhan panjang dari para produsen Eropa. Mereka menuduh barang impor dari China yang murah dan ditopang subsidi pemerintah telah menggerus daya saing produk mereka. Sepanjang tahun lalu, Uni Eropa mencatat defisit perdagangan barang dengan China sekitar €360 miliar atau setara 400 miliar dolar AS. Angka tersebut menjadi bukti betapa timpangnya hubungan dagang kedua pihak.
Beijing membantah penjelasan bahwa subsidi negara adalah alasan di balik keunggulan kompetitif produk-produk Tiongkok di pasar global.
Pemerintah China bersikeras bahwa daya saing produk mereka lahir dari rantai pasok yang efisien, inovasi teknologi, serta skala produksi besar, bukan semata-mata karena bantuan pemerintah. Bantahan ini membuat ketegangan dagang makin sulit diredakan lewat jalur diplomasi biasa.
Saling Balas Investigasi Anti-Dumping
Situasi memanas karena kedua belah pihak sama-sama mempercepat penyelidikan terhadap ekspor masing-masing. Pada Sabtu lalu, Beijing membuka penyelidikan terhadap sebuah bahan kimia asal Eropa yang digunakan dalam industri pewarna, obat-obatan, dan pestisida. Langkah itu diambil setelah produsen China mengeluhkan adanya praktik dumping.
Penyelidikan China tersebut muncul sebagai balasan atas tiga penyelidikan anti-dumping yang lebih dulu diluncurkan Uni Eropa terhadap produk kimia dari Negeri Tirai Bambu. Sikap saling serang ini menunjukkan bahwa perang dagang Eropa-China perlahan berkembang menjadi front yang lebih luas.
Secara umum, penyelidikan anti-dumping menilai apakah suatu barang diekspor dengan harga yang tidak wajar rendah sehingga merugikan produsen lokal. Hasil penyelidikan ini bisa berujung pada penambahan bea masuk impor untuk melindungi industri dalam negeri.
Langkah Strategis Menjelang Negosiasi
Usulan "saklar mati" ini diajukan tepat saat Uni Eropa mempersiapkan putaran negosiasi perdagangan dengan China. Dengan kekuatan baru tersebut, Brussel diyakini bisa merespons lebih cepat terhadap praktik perdagangan yang dianggap tidak adil tanpa harus melewati proses birokrasi panjang.
- Prancis dan Jerman bersatu menyerukan kekuatan dagang baru bagi Uni Eropa.
- Pergeseran posisi Jerman yang tadinya lebih lunak terhadap China.
- Defisit €360 miliar dicatat Uni Eropa dalam perdagangan barang dengan China.
- Saling balas penyelidikan terjadi antara Brussels dan Beijing.
- Beba masuk impor bisa dinaikkan sebagai hasil penyelidikan anti-dumping.
Para analis menilai langkah ini sekaligus menjadi uji nyata bagi solidaritas internal Uni Eropa. Beberapa negara anggota yang memiliki hubungan dagang erat dengan China diperkirakan bakal lebih berhati-hati dalam memberikan dukungan penuh.
Comments (0)