Sabrina Chairunnisa Tinggalkan S3 UI, Ini Alasan Menyentuhnya

Senja di bilangan Jakarta Selatan itu basah oleh gerimis yang jatuh perlahan. Di sudut kafe yang tak terlalu ramai, Sabrina Chairunnisa duduk sendiri, menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca....

Jul 12, 2026 - 12:27
0 1
Sabrina Chairunnisa Tinggalkan S3 UI, Ini Alasan Menyentuhnya

Senja di bilangan Jakarta Selatan itu basah oleh gerimis yang jatuh perlahan. Di sudut kafe yang tak terlalu ramai, Sabrina Chairunnisa duduk sendiri, menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Jarinya bergetar saat mengetik beberapa kalimat yang kemudian ia unggah ke media sosial—sebuah pengumuman yang mengakhiri satu babak panjang perjuangannya. Bukan kabar bahagia tentang proyek baru atau pencapaian karier, melainkan kata pamit dari bangku kuliah. Ia memutuskan mundur dari program doktor di Universitas Indonesia.

Keputusan itu, bagi sebagian orang, mungkin terasa mengejutkan. Bagaimana tidak? Sabrina bukan sekadar publik figur yang hobi berbagi tips kecantikan. Selama ini ia kerap membagikan proses kuliahnya, bercerita tentang riset, dosen pembimbing, hingga suka-duka menjalani peran ganda sebagai mahasiswa dan profesional. Namun di balik unggahan-unggahan penuh semangat itu, tersimpan lelah yang tak lagi bisa ditampik.

Momen Sulit di Balik Keputusan Besar

Sabrina mengisahkan, titik balik itu datang saat ia duduk di depan cermin, pukul dua dini hari, dengan setumpuk jurnal internasional yang belum selesai ia baca. Di ruang kerjanya yang hanya berukuran empat kali lima meter, ia merasa sesak. Bukan karena sempitnya ruang, melainkan karena tuntutan akademik yang semakin tinggi beradu dengan tanggung jawabnya di dunia hiburan serta kehidupan rumah tangga.

“Aku mencintai ilmu. Tapi aku juga harus mencintai diriku sendiri,” begitu kalimat yang ia ucapkan lirih, seolah sedang meyakinkan hati kecilnya.

Bulan-bulan terakhir sebelum pengumuman itu, Sabrina lebih sering termenung. Ia kehilangan waktu bersama keluarga, melewatkan banyak momen sederhana yang dulu begitu ia nikmati. Tubuhnya sering jatuh sakit, sinyal bahwa beban mental itu sudah berubah menjadi gejala fisik. Setiap kali membuka laptop untuk mengerjakan disertasi, yang muncul bukan lagi antusiasme, melainkan air mata.

Menarik napas panjang, Sabrina mengakui bahwa perjalanan S3 bukan sekadar soal kecerdasan, melainkan ketahanan mental yang luar biasa. “Banyak yang bilang, ‘tinggal sedikit lagi, sayang kalau berhenti’. Tapi justru kata-kata itu yang bikin aku semakin tertekan. Karena yang mereka lihat hanya jarak menuju gelar, bukan jarak yang harus kutempuh untuk bertahan waras.”

Lika-liku Mahasiswa Publik Figur

Menjadi mahasiswa bukan perkara mudah. Apalagi ketika wajahmu dikenal banyak orang. Setiap nilai, setiap keterlambatan, bahkan setiap kali izin tidak masuk kelas, selalu ada yang mengawasi dan berkomentar. Sabrina merasakan sendiri bagaimana sorotan publik kadang menambah beban studi yang sudah berat.

Suatu kali, ia mendapat komentar pedas dari warganet yang menanyakan progres studinya. “Katanya S3, kok sering keliatan syuting?” Padahal, Sabrina sudah berusaha keras membagi waktu. Syuting adalah bagian dari pekerjaannya, dan ia tetap menyelesaikan tugas-tugas kuliah di sela-sela istirahat. Namun, tidak semua orang melihat perjuangan di balik layar itu.

Teman-teman dekatnya berkisah, Sabrina sering menangis di lokasi syuting. Bukan karena letih bekerja, tapi karena pikirannya terus berlari pada tenggat penelitian. Di satu sisi, ia ingin menjadi mahasiswa yang baik. Di sisi lain, ia juga punya tanggung jawab finansial dan kontrak kerja yang harus dipenuhi. “Seperti berjalan di atas tali,” ujarnya, “sedikit saja goyah, semuanya bisa runtuh.”

Pesan Hangat untuk Para Pejuang Ilmu

Kendati memilih mundur, Sabrina tidak ingin keputusannya dimaknai sebagai kegagalan. Justru, di situlah letak keberanian yang sesungguhnya. Ia ingin semua orang—terutama mereka yang sedang berjuang di bangku kuliah—tahu bahwa berhenti bukan berarti kalah. Terkadang, berhenti adalah cara paling bijak untuk menyelamatkan diri sendiri.

“Aku tidak menyerah pada ilmu. Aku hanya memilih untuk belajar dengan cara yang berbeda, di tempat yang berbeda, tanpa harus mengorbankan kewarasan dan kebahagiaanku,” tulis Sabrina dalam unggahannya yang dibanjiri dukungan dari penggemar dan rekan artis.

Sejak pengumuman itu, banyak yang mengirim pesan pribadi. Beberapa bercerita mengalami dilema serupa: terjebak di antara keinginan menyelesaikan studi dan kebutuhan mendengarkan suara hati. Sabrina pun membalas satu per satu dengan kalimat yang menghangatkan. “Kamu hebat, apa pun pilihanmu. Jangan biarkan gelar mendikte nilaimu sebagai manusia.”

Langkah Baru yang Lebih Ringan

Kini, hari-hari Sabrina terasa lebih lapang. Ia kembali menikmati pagi tanpa rasa cemas berlebih. Ada waktu untuk sekadar menyeduh teh dan berbincang ringan dengan suami, tanpa diburu rasa bersalah karena belum membaca literatur. Ada ruang untuk kembali menulis hal-hal ringan di blog pribadinya, yang dulu sempat ia tinggalkan.

Ia belum tahu akan dibawa ke mana langkah berikutnya. Tapi satu hal yang pasti: ia berjanji tidak akan lagi mengabaikan suara kecil di dalam dirinya. “Mungkin aku akan kembali belajar suatu saat. Atau mungkin tidak. Tapi aku ingin setiap langkah yang kuambil dilandasi cinta, bukan ketakutan.”

Kisah Sabrina Chairunnisa yang memilih pamit dari program doktor Universitas Indonesia bukanlah kisah tentang mundurnya seorang selebriti dari dunia akademik. Ini adalah cerita tentang manusia yang berani memilih dirinya sendiri. Tentang kelegaan yang lahir dari keputusan yang sulit. Dan dari sudut kafe di senja yang basah itu, ia tersenyum—mungkin untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir—tanpa beban.

Bagi siapa pun yang sedang berada di persimpangan serupa, Sabrina meninggalkan pesan sederhana namun dalam: “Hidupmu lebih berharga dari sekadar selembar ijazah. Jangan takut memilih bahagia, meski dunia menyebutnya berhenti.”

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User