Dewi Gita Hadir, Sampaikan Haru di Balik “Lastri”

Suasana di sebuah ruang konferensi pers di Jakarta Selatan pada Kamis (9/7/2026) terasa berbeda. Di antara sorot kamera dan kerlap lampu panggung, penyanyi Dewi Gita duduk dengan tenang di sisi kiri m...

Jul 12, 2026 - 06:27
0 0
Dewi Gita Hadir, Sampaikan Haru di Balik “Lastri”

Suasana di sebuah ruang konferensi pers di Jakarta Selatan pada Kamis (9/7/2026) terasa berbeda. Di antara sorot kamera dan kerlap lampu panggung, penyanyi Dewi Gita duduk dengan tenang di sisi kiri meja panjang. Kehadirannya bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar film horor terbaru, Lastri: Arwah Kembang Desa. Wajahnya memancarkan emosi yang dalam, seolah menyimpan cerita yang baru akan terurai.

Awalnya, banyak yang bertanya mengapa seorang biduan sekaliber Dewi Gita bersedia terlibat dalam proyek film bergenre misteri tanah Jawa. Jawabannya pun mengalir dari hati. “Saya tidak membaca naskah, saya merasakan naskahnya,” ucapnya dengan suara bergetar. Bagi Dewi, proyek ini lebih dari sekadar pekerjaan; ia adalah panggilan batin yang membawanya kembali ke akar budaya dan pengalaman pribadi sebagai seorang ibu.

Ketika Suara Menjadi Nyawa Film

Di balik layar, Dewi Gita tidak tampil di depan kamera sebagai tokoh utama. Perannya justru lebih subtil namun menusuk: ia dipercaya mengisi soundtrack orisinal yang menjadi napas bagi adegan-adegan paling emosional dalam film. Lagu bertajuk “Sekar Petang” itu digubah khusus untuk menggambarkan perjalanan batin karakter Lastri, seorang arwah gadis desa yang gelisah namun penuh cinta. Dalam sesi mendengarkan singkat yang digelar usai konferensi pers, sejumlah awak media bahkan tak kuasa menahan air mata saat alunan vokal Dewi melantunkan bait pertama.

“Saya merekam lagu ini hanya dalam sekali take, karena saya tidak sanggup mengulang emosi yang sama,” tutur Dewi sambil tersenyum tipis. Pengakuannya langsung disambut tepuk tangan hangat dari hadirin. Momen itu menjadi puncak haru dari acara peluncuran yang sesungguhnya penuh antisipasi terhadap genre horor.

Mimpi yang Lahir dari Kisah Lisan

Film Lastri: Arwah Kembang Desa sendiri bukanlah cerita horor konvensional yang hanya mengandalkan lompatan mengejutkan. Sang sutradara menjelaskan bahwa naskahnya diinspirasi dari folklor lisan yang nyaris punah di daerah pesisir selatan. “Kami ingin mengangkat kisah yang sudah dilupakan, tentang bagaimana masyarakat desa dulu memandang kematian tidak sebagai akhir, melainkan sebagai proses menuju keabadian yang penuh kasih,” ujarnya. Dewi Gita mengangguk mendengar penjelasan itu, matanya berkaca-kaca. Ia mengaku ingat pada mendiang ibunya yang kerap menuturkan legenda serupa di masa kecil.

Ketertarikan Dewi pada proyek ini juga dipicu oleh keinginannya untuk mewariskan kisah-kisah leluhur kepada generasi muda, termasuk putrinya. “Anak-anak sekarang mungkin lebih akrab dengan hantu dari film luar. Padahal, kita punya Lastri, arwah yang justru melindungi, bukan meneror. Ini tugas saya sebagai seniman untuk menjembatani,” katanya mantap.

Lebih dari Sekadar Peluncuran

Konferensi pers itu sendiri dikemas dengan sangat intim. Alih-alih sesi tanya jawab kaku, para produser memilih format berbagi cerita. Dewi Gita duduk berdampingan dengan aktris pemeran Lastri dan penata musik, menciptakan kesan kekeluargaan yang kental. Saat salah satu wartawan bertanya tentang tantangan terbesar, Dewi menjawab dengan jujur, “Tantangannya adalah bagaimana saya tidak ikut larut dalam kesedihan Lastri. Setiap kali membaca lirik lagu Sekar Petang, hati saya serasa diremas. Karakter ini begitu menderita, tapi cintanya kepada manusia tidak pernah luntur.”

Pernyataan itu sontak membuat sebagian hadirin terisak. Bagaimana tidak, Dewi menyampaikannya dengan getaran suara yang seakan menyatu dengan jiwa Lastri sendiri. Dia bukan hanya menyanyi; dia menjadi wadah bagi suara arwah yang rindu dan mengharukan. Momen sederhana itu membuktikan bahwa pertemuan antara musik, film, dan emosi manusia bisa menghasilkan energi yang tak terduga.

Bangkit dari Duka Pribadi

Di ujung sesi, Dewi Gita mengungkapkan sisi lain keterlibatannya. Tanpa disadari banyak orang, ia sebenarnya tengah melewati proses pemulihan dari kehilangan yang mendalam—wafatnya sahabat terdekatnya setahun sebelumnya. “Saya sempat berhenti bernyanyi untuk sementara waktu. Saya merasa kosong. Tapi ketika membaca naskah Lastri, saya menemukan kembali tujuan saya. Kisah ini mengajarkan bahwa duka itu harus dijadikan kekuatan. Arwah Lastri sendiri mengalami kehilangan yang jauh lebih besar, tapi ia memilih untuk tetap mengasihi.” Suaranya parau, namun senyumnya tulus. Perjalanan pribadinya seakan paralel dengan pesan film: bahwa dari luka terdalam, bisa lahir karya yang paling menyentuh.

Tak pelak, kehadiran Dewi Gita telah mengubah konferensi pers menjadi lebih dari sekadar ajang promosi. Ia menjadi inspirasi tentang bagaimana seorang seniman bisa bangkit dan menuangkan pengalaman hidupnya ke dalam seni. “Saya tidak lagi sekadar menyanyi, saya sedang menceritakan hidup saya, kehidupan banyak orang, lewat lensa Lastri,” pungkasnya.

Film Lastri: Arwah Kembang Desa dijadwalkan tayang pada akhir tahun. Namun bagi para awak media yang hadir, hari itu bukan tanggal rilis yang mereka ingat, melainkan kehangatan sebuah kisah yang diceritakan kembali melalui suara emas Dewi Gita—dan ketulusan yang mampu menyulap jumpa pers menjadi perjumpaan hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User