Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Ruang utama Jakarta Convention Center bergetar dalam senyap. Dua ribu enam ratus

Minggu pagi itu, 28 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto melangkah ke mimbar Sarasehan Kebangsaan dengan gestur yang tak biasa. Tidak ada podium tebal yang

Jul 09, 2026 - 13:30
0 0
Ruang utama Jakarta Convention Center bergetar dalam senyap. Dua ribu enam ratus

Minggu pagi itu, 28 Juni 2026, Presiden Prabowo Subianto melangkah ke mimbar Sarasehan Kebangsaan dengan gestur yang tak biasa. Tidak ada podium tebal yang memisahkan. Ia memilih berdiri di tepi panggung, seolah ingin mendekat ke aula yang dipenuhi para penggerak intelektual Indonesia.

Bukan Sekadar Sambutan Presiden

Yang terjadi di JCC pagi itu bukanlah orasi politik. Prabowo berbicara lirih di beberapa penggal kalimat, menghentikan diri, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih bulat. Ia menyebut angka-angka yang jarang muncul di berita utama: rasio dosen-mahasiswa yang timpang di kawasan timur Indonesia, akreditasi internasional yang baru diraih 14 persen perguruan tinggi nasional, dan dana riset yang masih setara 0,2 persen dari PDB.

“Saya tidak datang untuk memberi tahu Bapak-Ibu tentang apa yang harus dilakukan,” ucapnya, setengah berbisik. “Saya datang untuk mendengarkan. Karena bangsa ini terlalu lama berbicara dari Jakarta, sementara Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua—mereka hanya menjadi obyek kebijakan.”

"Selama puluhan tahun saya mengajar, baru kali ini seorang presiden duduk dan mencatat sendiri masukan dari kami, dosen-dosen dari kampus kecil di Maluku Utara. Saya lihat sendiri, tangannya bergerak menulis saat saya bicara tentang kesulitan akses jurnal internasional," tutur Prof. Renata Makatita, salah satu peserta yang hadir dari Universitas Khairun, dengan suara bergetar.

Narasi dari Pinggiran Panggung

Sarasehan itu dirancang melingkar. Bukan seminar vertikal di mana presiden bicara dan peserta pasif. Selama hampir empat jam, Prabowo terlihat mendengarkan curhat para akademisi: tentang proposal riset yang mandek karena birokrasi, tentang mahasiswa yang putus kuliah karena biaya hidup, tentang kampus yang hanya menjadi tempat mencetak ijazah tanpa daya kritis.

Satu momen hening terjadi ketika seorang dosen muda dari PTS kecil di Nusa Tenggara Timur berdiri. Ia menceritakan bagaimana mahasiswanya harus menyeberang laut setiap pagi untuk kuliah, dan banyak yang akhirnya menyerah. Presiden Prabowo tidak langsung menjawab. Ia menunduk sejenak, lalu berkata, “Ini bukan soal infrastruktur. Ini soal janji kemerdekaan yang belum tuntas.”

"Saya melihat mata beliau berkaca-kaca. Mungkin berlebihan kalau saya bilang begitu, tapi saya merasa ada perubahan suasana di ruangan ini. Dari skeptis menjadi... entahlah, mungkin sedikit percaya," ungkap Dr. Benyamin Laga, pemuda yang menjadi pusat perhatian itu.

Di Balik Panggung, Sebuah Janji Kecil

Selepas acara utama, hal-hal kecil terjadi yang jarang tertangkap kamera. Prabowo terlihat mendekati kelompok dosen dari Papua, duduk melingkar tanpa dikawal protokoler ketat. Mereka berbicara dalam bahasa yang tak formal—tentang gaji dosen honorer, tentang kurikulum yang tak relevan, tentang perasaan menjadi “warga negara kelas dua” dalam peta pendidikan nasional.

“Kalian adalah pasukan senyap republik ini,” katanya, nada suaranya naik sedikit. “Guru, dosen. Kalian yang membuat Indonesia bisa bermimpi.”

Enam Kata yang Meninggalkan Jejak

Menjelang penutupan, Presiden Prabowo kembali ke mimbar, kali ini membawa setumpuk kertas kecil. Ternyata itu catatan tangannya sendiri dari sesi dialog. Ia membacakan satu per satu poin yang ia tulis, lalu mengakhiri dengan kalimat yang membuat aula hening sejenak sebelum meledak tepuk tangan:

"Mulai besok, saya ingin setiap kebijakan pendidikan lahir dari ruang-ruang seperti ini—bukan dari meja ber-AC di Senayan."

Sebagai penutup, ia menjanjikan dana riset yang ditingkatkan tiga kali lipat dalam APBN mendatang, dan memerintahkan pembentukan dewan penasihat presiden yang berisi para akademisi dari seluruh provinsi. Tapi yang paling menyentuh, mungkin, bukan janji anggaran itu. Melainkan permintaan maafnya—karena negara “sering lupa menyapa para penerang bangsa”.

Hari itu, JCC bukan hanya lokasi acara protokoler. Ia menjadi saksi bahwa ketika 2.600 penggerak intelektual Indonesia berkumpul, yang mereka butuhkan bukan sekadar pidato. Melainkan didengar. Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mereka benar-benar merasakannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User