Dari Bandara ke Rahasia Bumi, Sebuah Perjalanan Menemukan Makna

Di sudut Terminal 3 yang ramai, seorang pria separuh baya menyeret koper hitamnya. Ia baru saja turun dari pesawat, tubuhnya masih merasakan getaran mesin. Matanya mencari tempat beristirahat sejenak ...

Jul 11, 2026 - 22:13
0 0

Di sudut Terminal 3 yang ramai, seorang pria separuh baya menyeret koper hitamnya. Ia baru saja turun dari pesawat, tubuhnya masih merasakan getaran mesin. Matanya mencari tempat beristirahat sejenak sebelum lanjut terbang ke Banjarmasin. Tak sengaja, sebuah papan nama menuntunnya ke Grand Anara Airport Hotel, yang terselip di antara gerbang keberangkatan dan deru apron.

Di lobi beraroma lembut, ia melangkah melewati kaca besar yang menampilkan landasan pacu. Hotel ini bukan sekadar tempat transit, tapi oase senyap yang menjanjikan kenyamanan modern. Fasilitasnya lengkap: dari tempat tidur berseprai putih, restoran dengan menu lokal, hingga padel court yang baru saja diresmikan. Di ruang olahraga itu, beberapa tamu bertepuk tangan, menyambut pukulan pertama di lapangan kaca. Sang pria tersenyum kecil. ‘Bahkan di bandara, manusia tetap ingin bergerak, tertawa, dan merasa hidup,’ gumamnya.

Bara di Balik Kabut

Esoknya, ia mendarat di Banjarmasin, di tengah udara yang berbau asap tipis. Di kabin bandara, sebuah televisi menyiarkan peringatan dari BPBD Kalimantan Selatan: lahan gambut mengering, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat. Petugas sudah menyiapkan pompa untuk rewetting, pembasahan lahan gambut kritis. ‘Gambut itu ibarat spons raksasa. Kalau kering, ia siap membara,’ ujar seorang petugas di layar, suaranya serak oleh debu. Sang pria termenung. Ia teringat hutan yang pernah ia lintasi, kini menguning dan retak. Di perjalanan darat menuju desa, ia melihat kanal-kanal yang dibangun bertahun lalu, mengeringkan tanah yang seharusnya basah. Seorang warga bercerita, ‘Api tahun lalu merayap di bawah tanah. Tak terlihat, tapi mematikan.’

Rahasia dari Perut Bumi

Malamnya, di penginapan sederhana, ia membuka laptop dan membaca sebuah studi baru: gunung api bawah laut Fani Maoré di Mayotte memuntahkan lava berusia 4,5 miliar tahun. Matanya terbelalak. Lava purba itu berasal dari periode Hadean, masa ketika Bumi masih bayi merah membara. Para peneliti menulis bahwa temuan ini menyingkap rahasia interior planet kita yang sejak awal tak pernah benar-benar diam. ‘Bumi terus berbicara, bahkan dari laut terdalam,’ bisiknya. Ia membayangkan lava itu naik dari mantel, membawa pesan dari masa sebelum kehidupan ada. Di tengah kabut asap Kalsel, ia merasa kecil: di atas, manusia berperang melawan api yang dipicu ulah sendiri; di bawah sana, Bumi menyimpan api purba yang justru melahirkan kehidupan.

Ujian bagi yang Berkuasa

Keesokan harinya, berita lain menyusup di gawainya: sebuah artikel tentang penegakan hukum di Indonesia. ‘Menanti Kedewasaan Penegakan Hukum: Ujian Transparansi Polri dan Kejagung,’ begitu judulnya. Disebutkan bahwa setiap tindakan aparat harus dapat dijelaskan secara transparan, bukan hanya kepada atasan, tetapi kepada publik yang terus mengawasi. Sang pria, yang pernah menjadi jurnalis, menghela napas. Ia teringat liputannya tentang kasus-kasus yang menggantung, tentang keluarga yang menunggu kepastian di depan gedung pengadilan. ‘Keadilan bukan hanya tentang siapa yang menang, tapi tentang bagaimana prosesnya bisa diceritakan dengan jujur,’ ujar seorang narasumber yang ia wawancarai dulu. Di negeri yang sedang berbenah ini, transparansi adalah jembatan yang belum sepenuhnya kokoh.

Pemimpin untuk Masa Depan

Di waktu yang hampir bersamaan, di Jakarta, nama KH Zulfa Mustofa disebut-sebut dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Wakil Ketua Umum itu hanya tersenyum saat dimintai konfirmasi. ‘Saya ini hanya santri biasa, yang dipinjamkan tenaga untuk organisasi,’ katanya merendah, seperti dikutip sebuah media. Sang pria membacanya dengan perasaan campur aduk. Di tengah isu bencana, hukum, dan rahasia purba, kepemimpinan Nahdlatul Ulama terasa sebagai pijakan moral. Zulfa Mustofa, dengan sikap tawaduknya, menggambarkan bahwa di tengah segala kegaduhan, masih ada orang yang menolak untuk sekadar mengejar jabatan. ‘Muktamar nanti akan memilih yang terbaik untuk umat,’ kata Zulfa. Sebuah pernyataan yang sederhana, tapi bagi sang pria, itu mengingatkannya bahwa di atas manusia dan Bumi, masih ada ruang untuk kearifan.

Malamnya, ia kembali ke bandara, menunggu penerbangan pulang. Di kursi tunggu, ia merenungkan seluruh perjalanan: dari kenyamanan hotel hingga tarian api di lahan gambut, dari lava purba hingga ujian transparansi, dan dari hiruk-pikuk politik hingga suara rendah seorang kiai. Perjalanan itu mengajarkan padanya bahwa kehidupan adalah anyaman peristiwa yang saling bertaut. Di setiap sudut, ada kisah manusia yang berjuang, Bumi yang berbicara, dan harapan yang terus menyala. Mungkin, pikirnya, itulah makna sesungguhnya dari sebuah perjalanan: melihat, mendengar, dan memahami bahwa kita tidak pernah benar-benar terpisah satu sama lain.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User