Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Relawan Al-Quds Sajikan Makanan Hangat bagi Anak-anak Gaza

Pagi belum sepenuhnya terang ketika aroma rempah dan uap nasi mulai mengepul dari sebuah tenda putih di sudut kamp pengungsian Khan Younis. Di dalam, tanga

Jul 08, 2026 - 06:30
0 0
Relawan Al-Quds Sajikan Makanan Hangat bagi Anak-anak Gaza

Pagi belum sepenuhnya terang ketika aroma rempah dan uap nasi mulai mengepul dari sebuah tenda putih di sudut kamp pengungsian Khan Younis. Di dalam, tangan-tangan cekatan para relawan Al-Quds Volunteer bergerak serempak — mengaduk, menanak, dan menyendok — seolah waktu adalah sesuatu yang harus dikejar. Di luar, puluhan mata kecil sudah menanti, membawa piring plastik yang kadang retak, namun tetap dicengkeram erat sebagai bekal harapan.

"Setiap kali melihat anak tersenyum saat menerima nasi hangat, rasa lelah kami hilang seketika," ujar Ahmad (34), koordinator relawan Al-Quds Volunteer, sambil terus mengisi wadah-wadah lauk tanpa mengangkat kepala. "Mereka tidak butuh banyak. Sepiring makanan hangat saja sudah membuat mereka merasa diperhatikan, merasa tidak sendirian."

Dapur Darurat yang Tak Pernah Padam

Dapur darurat ini beroperasi setiap hari, tepat di samping reruntuhan bekas sekolah yang kini menjadi penampungan sementara. Al-Quds Volunteer, sebuah inisiatif akar rumput yang digerakkan oleh warga lokal, mulai menyediakan hidangan matang sejak gelombang pengungsian terbaru membuat ribuan keluarga kehilangan akses ke dapur pribadi. Dengan peralatan seadanya, mereka memasak untuk ratusan anak setiap hari, mengubah beras, kacang-kacangan, dan sayuran yang tersisa menjadi piring-piring sederhana namun penuh gizi.

Senyum yang Lahir dari Kepulan Nasi Hangat

Bagi Fatima (9), yang tinggal di tenda bersama ibu dan dua adiknya, antrean pagi di dapur Al-Quds adalah ritual yang paling dinanti. "Aku suka baunya. Baunya seperti rumah dulu," katanya lirih, masih memegang potongan roti yang ia simpan dari jatah kemarin. Fatima adalah satu dari lebih dari 200 anak pengungsi yang setiap hari menggantungkan asupan harian mereka pada dapur relawan ini.

Menurut Ahmad, antusiasme anak-anak itulah yang membuat timnya bertahan. "Mereka bukan sekadar datang untuk makan. Mereka datang karena di sini ada orang dewasa yang menyapa, yang menanyakan kabar, yang mengelus kepala mereka. Di tengah kekacauan, kami ingin dapur ini jadi ruang aman."

Kronologi Satu Hari di Dapur Al-Quds

  1. Pukul 04.00 dini hari — Tiga relawan mulai menyalakan tungku kayu dan mencuci beras. Sumber air didapat dari truk tangki yang datang dua kali seminggu, sehingga setiap tetes sangat berharga.
  2. Pukul 05.30 — Sayuran sumbangan dari petani lokal — biasanya kentang, wortel, dan kadang tomat — mulai dipotong. Hari ini mereka memasak 125 kilogram beras, cukup untuk dijadikan lebih dari 500 porsi nasi berlauk.
  3. Pukul 06.45 — Menu selesai dimasak. Relawan membagi hidangan ke dalam wadah-wadah besar, lalu memindahkannya ke meja saji di depan tenda. Terpal di atas meja dipasang seadanya untuk menahan sinar matahari yang akan segera terik.
  4. Pukul 07.00 — Anak-anak mulai berbaris. Beberapa datang sendiri, beberapa digandeng ibu atau kakak. Relawan memberikan satu piring nasi hangat, satu potong telur dadar tipis, dan sejumput sayuran kepada setiap anak.
  5. Pukul 09.00 — Makanan habis. Bagi yang tidak kebagian, relawan membagikan biskuit dan air putih. Tak ada yang pulang dengan tangan kosong.

Lebih dari Sekadar Makanan

Di balik setiap piring yang dibagikan, ada cerita tentang bertahan. Hana (27), relawan yang sejak awal bergabung, mengaku bahwa kegiatan ini menyelamatkan dirinya sendiri dari rasa putus asa. "Saya kehilangan rumah. Tapi dengan memasak untuk anak-anak ini, saya merasa masih punya tujuan. Mereka mengingatkan saya bahwa hidup harus terus berjalan." Hana kini bertanggung jawab mengatur stok bahan makanan dan memastikan tidak ada anak yang mendapat porsi kurang.

Meski keterbatasan logistik kerap menghantui — kadang beras habis, kadang gas tak tersedia — Al-Quds Volunteer terus mencari cara. Donasi dari komunitas diaspora, lembaga kemanusiaan kecil, hingga warga setempat yang menyisihkan sebagian jatahnya, menjadi napas bagi dapur ini. Setiap butir beras yang mereka terima langsung berubah menjadi senyuman.

"Yang kami lakukan mungkin kecil dibanding kebutuhan di luar sana," kata Ahmad, matanya menerawang ke arah tenda-tenda pengungsian yang berderet. "Tapi kami percaya, selama ada yang mau peduli, anak-anak ini akan tumbuh dengan ingatan bahwa mereka pernah disayangi. Bukan hanya oleh keluarga mereka, tapi juga oleh orang-orang yang bahkan tak mereka kenal."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User