Nuya Susantono: Merajut Lagu, Membangun Jiwa di Senja Teduh Pelita

Di sudut ruang latihan yang remang, seorang perempuan duduk bersila di lantai kayu yang mulai mengilap dimakan usia. Matanya terpejam, tetapi bibirnya bergerak lirih, mengikuti not-not yang hanya bisa...

Jul 12, 2026 - 06:06
0 0
Nuya Susantono: Merajut Lagu, Membangun Jiwa di Senja Teduh Pelita

Di sudut ruang latihan yang remang, seorang perempuan duduk bersila di lantai kayu yang mulai mengilap dimakan usia. Matanya terpejam, tetapi bibirnya bergerak lirih, mengikuti not-not yang hanya bisa didengarnya sendiri. Ia bukan sedang bermeditasi, melainkan tengah merasakan setiap tarikan napas dari lagu yang akan ia hidupkan di atas panggung. Perempuan itu adalah Nuya Susantono, sutradara yang berdiri di balik layar Senja Teduh Pelita, sebuah teater musikal yang berani mengadaptasi lagu-lagu legendaris Maliq & D’Essentials menjadi kisah manusia yang menyentuh.

Proyek ini bukan sekadar pekerjaan bagi Nuya. Ia mengakuinya sebagai perjalanan pulang ke akar kreativitasnya: teater dan musik yang saling berpelukan. “Saat pertama kali mendengar ide ini, ada getaran aneh di dada,” kenangnya. “Bukan karena beban ekspektasi, tapi karena saya tahu lagu-lagu ini menyimpan ribuan cerita yang belum selesai dituturkan.”

Menemukan Kisah di Antara Nada

Tantangan terbesar bukanlah mengubah lirik menjadi dialog, melainkan menerjemahkan ruang sunyi di antara bait-bait lagu yang penuh perasaan. Setiap komposisi Maliq & D’Essentials sudah memiliki jiwa—tugas Nuya adalah menggali lebih dalam tanpa merusak keasliannya. Ia menghabiskan berminggu-minggu hanya untuk mendengarkan satu lagu berulang kali, sambil menuliskan adegan-adegan di buku catatannya yang mulai kusam. “Kadang saya hanya duduk di pojok kafe, menangis sendiri,” ujarnya sambil tersenyum getir. “Lagu ‘Semesta’ misalnya, saya putar sampai puluhan kali sebelum akhirnya menemukan benang merah: tentang seorang ibu yang kehilangan, tapi justru menemukan kekuatan dalam kepergian.”

Proses itu tidak berjalan mulus. Ada kalanya ia merasa tersesat di labirin nada yang sama, hingga akhirnya ia memutuskan untuk melibatkan para pemain dalam sesi “mendengar bersama”. Di situlah titik balik terjadi. “Ketika seorang aktor bilang, ‘Saya mendengar hujan di lagu ini, dan saya ingin membasahi panggung dengan air mata,’ saat itu juga saya sadar, cerita ini bukan lagi milik saya. Ini milik semua yang pernah terluka oleh cinta dan bangkit lagi,” tutur Nuya dengan mata berbinar.

Latihan yang Melahirkan Keluarga

Ruang latihan seluas 8x10 meter itu menjadi saksi bisu lahirnya ikatan yang melampaui hubungan profesional. Nuya tidak hanya mengarahkan blocking dan penghayatan, ia juga kerap menjadi pendengar setia bagi para pemain yang mendadak terbawa emosi. “Ada satu momen yang tidak akan pernah saya lupa,” katanya dengan suara bergetar. “Salah satu pemain tiba-tiba berhenti di tengah latihan dan menangis tersedu-sedu. Ia teringat almarhum ayahnya, dan saya hanya bisa memeluknya tanpa berkata apa-apa. Hari itu kami tidak melanjutkan latihan. Kami hanya duduk melingkar, berbagi cerita sampai subuh.”

Dari sanalah lahir apa yang disebut Nuya sebagai “kepekaan kolektif”—sebuah energi yang membuat setiap adegan tidak lagi sekadar akting, melainkan pengakuan dosa dan harapan yang tulus. Properti sederhana seperti bangku taman atau lampu meja mendadak bermakna dalam ketika para aktor sudah terbiasa saling menopang. “Kami tidak lagi perlu banyak kata, cukup tatapan mata sudah bisa membuat satu panggung bergerak,” jelasnya.

Malam Itu, Panggung Menjadi Doa

Malam pertunjukan perdana tiba. Nuya berdiri di sisi panggung, memegang erat skrip yang sudah lusuh. Tangannya sedikit gemetar, tetapi hatinya penuh. Lampu sorot perlahan menyala, mengungkapkan set sederhana yang didesain seperti sudut kota yang basah oleh gerimis. Satu per satu lagu Maliq & D’Essentials mengalun, tetapi kali ini bukan sekadar nada—ia menjelma menjadi dialog, gerak, dan air mata yang jatuh di atas panggung kayu.

“Saat penonton mulai terisak di lagu ‘Setapak Sriwedari’, saya tahu kami berhasil,” ucap Nuya dengan suara nyaris berbisik. “Mereka tidak melihat kami sebagai aktor yang menyanyikan ulang lagu hit, melainkan sebagai manusia yang sedang berjuang menyembuhkan diri sendiri.”

Pertunjukan itu bukan tanpa cela. Ada mikrofon yang sempat mati, ada properti yang terjatuh. Namun, justru di situlah keajaiban terjadi. Para pemain saling mengisi, berimprovisasi dengan hati, dan penonton tak lagi peduli pada kesempurnaan teknis. Mereka terhanyut pada kisah tentang kehilangan, penantian, dan keberanian untuk kembali mencintai. “Itu adalah malam di mana panggung berubah menjadi doa bersama,” kenang Nuya.

Pesan dari Senja yang Teduh

Kini, setelah pementasan usai, Nuya sering merenung di balkon rumahnya sambil menatap langit senja. Ia sadar bahwa Senja Teduh Pelita bukan hanya tentang teater musikal yang sukses. Ini adalah bukti bahwa lagu bisa menjadi jembatan bagi jiwa-jiwa yang lelah untuk saling berpegangan. “Senja itu teduh, tapi di dalamnya ada pelita. Itulah hati manusia: mungkin tampak redup, tapi selalu menyimpan cahaya yang siap menyala untuk orang lain,” katanya sebagai penutup.

Bagi siapa pun yang pernah meragukan kekuatan seni untuk menyembuhkan, kisah Nuya Susantono adalah jawaban yang tak perlu banyak argumen. Di tangannya, not-not musik tidak melayang di udara, ia mendarat ke tanah, menjadi jejak-jejak perjuangan yang manusiawi, sederhana, dan amat menyentuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User