Project Pop: 30 Tahun, Masih Forever Young dan Fun

Di sebuah sudut studio latihan yang beraroma kabel dan kayu, di bilangan Jakarta Selatan yang mulai meredup, tawa renyah empat sahabat itu pecah tanpa bisa dibendung. Yosi, Udjo, Oon, dan Tika — waj...

Jul 12, 2026 - 14:34
0 0
Project Pop: 30 Tahun, Masih Forever Young dan Fun

Di sebuah sudut studio latihan yang beraroma kabel dan kayu, di bilangan Jakarta Selatan yang mulai meredup, tawa renyah empat sahabat itu pecah tanpa bisa dibendung. Yosi, Udjo, Oon, dan Tika — wajah-wajah yang telah menjadi bagian dari gelak tawa negeri ini — duduk melingkar di atas karpet tipis, seolah waktu belum banyak mengubah apa pun. Di tangan Yosi, selembar lirik lawas "Dangdut Is The Music Of My Country" usang termakan usia, namun lantunan spontan yang mereka mulai langsung mengisi ruangan dengan energi yang sulit dilukiskan. Inilah Project Pop, sebuah nama yang tiga dekade lalu hanya dianggap proyek iseng, kini bersiap menulis bab puncak perjalanan mereka lewat konser Forever Young – Forever Fun.

Malam itu, binar di mata mereka seakan berkata: jalan panjang ini bukanlah tentang piala atau angka penjualan. Ini tentang bagaimana empat manusia biasa memutuskan untuk tidak pernah berhenti menjadi penghibur, sekaligus sahabat yang saling menjaga. "Kami nggak pernah menyangka bisa sampai di titik ini," bisik Udjo, setengah tersenyum, seolah tiga puluh tahun hanyalah satu tarikan napas panjang yang lega.

Dari Lelucon Kampus Menjadi Suara Generasi

Perjalanan Project Pop tak pernah dimulai dengan rencana besar. Pada awal 1990-an, sekelompok mahasiswa Bandung yang tergabung dalam Paduan Suara Mahasiswa Universitas Parahyangan hanya ingin melepaskan penat dari rutinitas akademik. Mereka melontarkan parodi lagu-lagu populer dengan lirik jenaka yang membumi — dan tanpa sadar, tengah menciptakan bahasa humor yang kelak akan ditangkap oleh jutaan telinga. Album perdana Lumpia Vs Bakpia yang rilis pada 1996 menjadi bukti bahwa tawa adalah jembatan universal; dari anak kos hingga eksekutif muda, semua ikut menyenandungkan bait-bait konyol yang tak bisa dilupakan.

Yang menarik, di balik selera humornya yang kadang absurd, Project Pop sejatinya adalah potret sosial yang jujur. Mereka mengisahkan keresahan generasi transisi — dari kegamangan mencari kerja, patah hati yang dibalut canda, hingga kritik ringan terhadap budaya pop yang semakin seragam. "Kami cuma ingin orang ingat bahwa tertawa itu sehat, dan parfois, lewat ketawa, pesan yang lebih dalam justru sampai," ujar Tika, personel perempuan yang kerap menjadi penyeimbang di antara dominasi vokal laki-laki. Perannya bukan sekadar pelengkap; ia adalah warna yang mengingatkan bahwa kebersamaan sejati tidak mengenal sekat gender.

Konser Sebagai Pesta Kenangan Kolektif

Konser Forever Young – Forever Fun yang akan mengguncang Jakarta dalam waktu dekat ini dirancang bukan semata sebagai panggung musik. Ini adalah pesta kenangan kolektif. Setiap lagu yang akan dibawakan — dari "Kamu Dimana", "Metal vs Dugem", hingga "Ingatlah Hari Ini" — adalah kepingan masa kecil dan dewasa bagi para penggemar yang kini mungkin telah menjadi orang tua. Di pojok tribun, seorang bapak dua anak bernama Dito berencana hadir bersama istri dan anak sulungnya. "Saya pertama dengar Project Pop waktu masih SMP, dari kaset bajakan yang diputar teman di radio tape. Sekarang saya ingin anak saya tahu, musik itu bisa bikin kita ketawa sampai nangis, dan itu menyembuhkan," tuturnya, suaranya bergetar oleh haru yang tak bisa disembunyikan.

Bagi Project Pop sendiri, panggung adalah tempat pulang. Oon, yang selama ini dikenal sebagai otak di balik banyak aransemen unik, mengaku bahwa konser nanti akan menghadirkan kejutan yang belum pernah mereka lakukan. "Ada kolaborasi yang nggak terduga, dan kami juga akan membawakan lagu-lagu lama dengan nuansa baru. Kami ingin penonton merasa bahwa meski waktu terus berjalan, semangat forever young itu nyata," katanya sambil menunjuk secarik partitur yang penuh coretan.

Lebih dari Musik, Sebuah Gerakan Bahagia

Jika ditelusuri, yang membuat Project Pop bertahan selama tiga puluh tahun bukanlah formula komersial atau tren sesaat, melainkan konsistensi mereka dalam merawat persahabatan. Di tengah industri yang kerap memisahkan artis dari jati dirinya, Yosi, Udjo, Oon, dan Tika justru semakin erat menggenggam nilai-nilai sederhana: saling mendengar, saling menertawakan diri sendiri, dan tak pernah menganggap pencapaian sebagai akhir dari segalanya. "Kami cuma manusia biasa yang beruntung bisa terus bersama. Dan konser ini adalah kado untuk semua yang sudah menemani kami, dari yang dulu cuma punya radio, sampai yang sekarang nonton lewat platform digital," ujar Yosi, diamini anggukan tiga rekan lainnya.

Momen yang paling mengharukan selama persiapan, menurut kesaksian salah satu kru, adalah ketika keempatnya secara spontan menyanyikan "Gosip" tanpa alat musik, hanya bermodalkan tepuk tangan dan hentakan kaki. Suara mereka yang mulai dewasa itu berpadu dengan lirik jenaka yang sama seperti puluhan tahun silam, dan tiba-tiba ruangan menjadi hening, hanya diisi oleh rasa syukur yang mengambang di udara. Di balik layar, air mata haru seorang staf produksi tak terbendung — ia menyadari bahwa ia sedang menyaksikan sejarah kecil yang tak ternilai harganya.

Jakarta Siap Bergoyang, Hati Siap Tersenyum

Menjelang hari H, hiruk-pikuk persiapan kian terasa. Dari pemilihan set panggung yang akan menghadirkan instalasi berbentuk kaset raksasa, hingga latihan vokal yang kadang diselingi tawa karena lupa lirik, semuanya berlangsung seperti mimpi yang perlahan menjadi nyata. Project Pop ingin memastikan bahwa setiap kursi di venue Jakarta akan menjadi saksi perayaan yang tak melulu tentang nostalgia, tapi juga tentang keberanian untuk tetap muda dalam hati, dan tetap fun di tengah dunia yang semakin serius.

Konser Forever Young – Forever Fun bukan hanya milik Project Pop, melainkan milik siapa pun yang pernah merasa bahwa hidup terlalu singkat untuk dijalani tanpa senyum. Seperti yang diucapkan Tika dengan mata berbinar, "Selama masih ada yang tertawa, kami akan terus bernyanyi. Karena bagi kami, energi dari tawa itu adalah bensin yang membuat perjalanan ini tak pernah kehabisan arah." Dan malam itu, Jakarta akan menjadi kota yang bukan sekadar diguncang dentuman musik, tapi juga dipeluk oleh hangatnya persahabatan sejati yang telah teruji waktu — tiga puluh tahun, dan akan terus bertambah.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User