Prabowo Kritik Keras DPR dan Bohir Demo Bayaran di Gorontalo
Gorontalo — Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik pedas terhadap kinerja lembaga legislatif dan para pembiaya demonstrasi bayaran dalam pidatonya di
Gorontalo — Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik pedas terhadap kinerja lembaga legislatif dan para pembiaya demonstrasi bayaran dalam pidatonya di Puncak Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani dan Nelayan Andalan XVII Tahun 2026. Acara yang digelar di GOR David-Tony, Kecamatan Limboto, Gorontalo, pada Rabu (24/6/2026) itu menjadi panggung pelampiasan kekesalan Prabowo yang disaksikan langsung Panglima TNI, Kapolri, serta ribuan peserta.
Dengan nada meninggi dan gestur emosional, Prabowo mengawali cerita masa lalunya saat menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia mengaku pernah merasakan sakit hati luar biasa ketika aspirasi petani diabaikan oleh pemerintah meskipun telah melalui proses dialog bertingkat.
Kekecewaan Mendalam terhadap Lembaga Perwakilan
Momen paling menyita perhatian terjadi ketika Prabowo tiba-tiba meninggikan suara di depan para pejabat tinggi. Dia mempertanyakan fungsi lembaga perwakilan rakyat yang dinilainya tidak mampu mewakili suara konstituen.
"Saya sudah pernah jadi Ketum HKTI, saya sudah pernah bertemu dengan pemerintah. Saya sampaikan masalah petani, nelayan, tapi tidak didengar. Untuk apa kita punya DPR, DPD! Kalau rakyat tidak didengar?"
Ucapan itu langsung disambut riuh tepuk tangan peserta. Prabowo yang masih berdiri di mimbar pun melanjutkan dengan nada lebih tinggi bahwa lembaga legislatif seharusnya menjadi corong rakyat, bukan justru menjadi penghambat aspirasi. Ia menekankan bahwa keterputusan antara wakil dan konstituen sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan.
Prabowo kemudian mengisahkan pengalamannya membawa delegasi petani ke gedung parlemen—hanya untuk mendapati janji kosong. "Bertahun-tahun kita berjuang, ujung-ujungnya ketemu tukang stempel. Mereka tidak pernah benar-benar dengar kita," kenangnya dengan nada getir.
Sumber di lingkungan istana menyebut ketidaksabaran Prabowo terhadap birokrasi dan politisasi di parlemen semakin memuncak pasca-rapat-rapat koordinasi yang berlarut tanpa keputusan konkret. "Beliau ingin langsung turun tangan, tapi sering dihambat di tingkat legislatif," ujar sumber yang enggan disebutkan namanya.
Peringatan Keras untuk Pembayar Demo
Tak berhenti di kritik parlemen, Prabowo kemudian melempar peringatan keras kepada pihak-pihak yang diduga kerap membiayai demonstrasi bayaran. Dengan wajah serius, ia menyebut mengetahui dengan persis siapa saja "bohir" di balik aksi-aksi tersebut.
"Hati-hati, hati-hati, gue tahu siapa itu. Saya kenal betul siapa yang biasa bayar-bayar demo. Hari ini bukan zamanmu lagi," tegas Prabowo, yang kembali disambut gemuruh hadirin.
Prabowo tidak menyebut nama, namun ancaman itu diyakini ditujukan pada beberapa figur yang selama ini bersebrangan dengan pemerintah. Pengamat politik menilai model mobilisasi massa berbayar masih marak digunakan untuk menekan kebijakan pemerintah, terutama menyangkut proyek strategis nasional. "Saya sudah lewati banyak hal. Jangan main-main dengan saya, karena saya tahu semuanya," ujarnya.
Ia mengacu pada pola yang disebutnya "provokasi berbayar" yang kerap digunakan untuk menggagalkan proyek pangan nasional. "Saya tahu bagaimana mereka bergerak. Mereka pikir saya tidak lihat? Saya punya mata di mana-mana," katanya. Ancaman itu langsung menjadi trending topic di media sosial, dengan warganet terbelah antara dukungan dan kritik.
Aparat keamanan yang hadir langsung mencatat pernyataan tersebut sebagai langkah preventif. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Laksamana Yudo Margono terlihat serius mengikuti pidato presiden. Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari pihak-pihak yang diduga dimaksud Prabowo.
Konteks PENAS dan Harapan Baru
PENAS sendiri merupakan wadah komunikasi petani dan nelayan se-Indonesia yang tahun ini mengusung tema "Kedaulatan Pangan untuk Kesejahteraan Bangsa". Presiden awalnya dijadwalkan memberikan sambutan ringan, namun justru menyampaikan aspirasi akar rumput yang ia serap sebagai Ketum HKTI dan kini sebagai kepala negara.
Pengurus PENAS mengapresiasi ketegasan Prabowo. "Ini yang kami tunggu, presiden yang berani bicara tanpa tedeng aling-aling," kata Ketua Panitia Yanto. Prabowo pun menutup pidatonya dengan janji akan terus memperjuangkan kepentingan petani dan nelayan, walau harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan besar. "Saya sudah tidak muda lagi. Hidup saya tinggal untuk bangsa dan negara. Saya tidak akan mundur," pungkasnya.
[SOCIAL_TWEET]: Prabowo ngegas di PENAS Gorontalo: 'Untuk apa kita punya DPR, DPD kalau rakyat tidak didengar!' Presiden juga ancam bohir demo bayaran. #Prabowo #PENAS2026 #DemoBayaran[SOCIAL_TG]: 🔥 Presiden Prabowo meledak di PENAS Gorontalo! Kritik DPR & ancam bohir demo bayaran. Baca selengkapnya di sini.
Comments (0)