Pemimpin Anjurkan Pembakaran Fasum Disebut Pengkhianat oleh Prabowo

Di tengah kemeriahan puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79, segenap hadirin yang memadati arena utama terdiam sejenak. Suasana hangat yang semula dihiasi senyum dan tepuk tangan, tiba-tiba be...

Jul 13, 2026 - 10:28
0 0

Di tengah kemeriahan puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79, segenap hadirin yang memadati arena utama terdiam sejenak. Suasana hangat yang semula dihiasi senyum dan tepuk tangan, tiba-tiba berubah hening begitu Presiden Prabowo Subianto menaikkan nada bicaranya. Ia membahas sesuatu yang selama ini menjadi keresahan banyak pihak: masih adanya oknum pemimpin yang justru menyulut amarah dan mendorong aksi perusakan terhadap fasilitas publik.

Pidato Tanpa Kompromi

Dalam pidato yang berlangsung khidmat itu, Prabowo menyampaikan bahwa segala bentuk hasutan untuk membakar atau merusak sarana umum merupakan tindakan yang tidak bisa ditoleransi. Dengan suara lantang, ia menyebut para penggerak aksi semacam itu bukan sekadar pelanggar hukum, melainkan pengkhianat terhadap cita-cita bangsa. “Mereka yang mengaku pemimpin tetapi justru mengajak rakyatnya menghancurkan apa yang sudah dibangun dengan susah payah, sejatinya sedang menginjak-injak amanah,” tegasnya.

Ratusan peserta yang terdiri dari para pelaku koperasi, pejabat daerah, hingga perwakilan komunitas menyimak dengan saksama. Ekspresi di wajah-wajah mereka berganti antara haru dan semangat. Seakan menyadari bahwa menjaga aset bersama bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Fasilitas Umum, Cermin Gotong Royong

Presiden lantas mengaitkan persoalan ini dengan filosofi koperasi itu sendiri. Menurutnya, koperasi mengajarkan arti kepemilikan kolektif dan semangat tolong-menolong. Maka, ketika seorang pemimpin menganjurkan aksi bakar-bakaran terhadap gedung, pasar, atau kendaraan milik rakyat, ia telah mencabik-cabik prinsip paling dasar dari kehidupan berbangsa.

“Apa yang dirusak itu bukan sekadar beton dan besi. Itu adalah hasil keringat ibu-ibu penjual sayur, bapak-bapak penarik becak, dan anak-anak muda yang menabung untuk masa depan. Setiap bara yang dinyalakan dengan sengaja oleh provokator adalah api yang membakar harapan rakyat kecil,” ujar Prabowo dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

Ia juga menyoroti bahwa fasilitas publik yang terbangun selama bertahun-tahun dengan dana pajak masyarakat, bisa luluh lantak dalam semalam hanya karena hasutan yang tidak bertanggung jawab. Di sinilah, menurutnya, letak pengkhianatan itu: saat seseorang yang dipercaya memimpin justru menjadi biang kehancuran.

Lebih Dari Sekadar Parole

Pernyataan Presiden bukan tanpa alasan. Beberapa waktu terakhir, sejumlah daerah mengalami ketegangan sosial yang berujung pada perusakan pasar tradisional, halte, dan bahkan kendaraan patroli keamanan. Penyelidikan di lapangan kerap menemukan adanya aktor intelektual yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan politik tertentu.

Maka, dalam panggung Hari Koperasi yang bertema “Bersama Membangun Negeri,” Prabowo seolah menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi para provokator di bumi Indonesia. “Seorang pemimpin sejati adalah yang menenangkan, bukan yang membakar api kebencian,” tambahnya disambut riuh rendah tepuk tangan hadirin.

Dari Panggung ke Hati Rakyat

Usai menyampaikan pidato, Presiden menyempatkan diri berbincang dengan sejumlah penggerak koperasi dari pelosok negeri. Salah satunya adalah Siti Maryam, perempuan paruh baya asal Lombok yang mengelola koperasi simpan pinjam bagi penenun tradisional. Dengan suara bergetar, ia mengaku tersentuh dengan pesan Prabowo.

“Kami di desa, kalau ada yang ancur-ancurin pasar, ya kami yang paling susah. Kata Pak Presiden tadi pas sekali, itu sama saja mengkhianati kami,” ucap Siti, yang hari itu hadir dengan mengenakan selendang tenun khas daerahnya.

Momen kecil seperti inilah yang menghubungkan antara kata-kata di atas panggung dengan realita yang dirasakan masyarakat akar rumput. Pesan tentang pengkhianatan terhadap bangsa tidak hanya menggema di ruang seremonial, tetapi juga menyusup ke hati para pelaku ekonomi kerakyatan yang menjadi ujung tombak ketahanan nasional.

Harapan Baru bagi Koperasi dan Negeri

Di penghujung acara, semangat yang terpancar tidak lagi sekadar perayaan ulang tahun. Ada tekad baru yang terpatri: bahwa menjaga negeri adalah bentuk cinta yang paling sederhana namun paling menuntut. Dan koperasi, sebagai wadah ekonomi yang paling merakyat, menjadi benteng terdepan untuk menolak segala bentuk pengkhianatan yang menyamar di balik kata “perjuangan.”

Presiden pun menutup pidatonya dengan sebuah janji yang sederhana namun penuh bobot. “Kita tidak akan mundur. Siapa pun yang mencoba memecah belah dan merusak negeri ini akan berhadapan dengan kekuatan rakyat yang bersatu.”

Maka, Hari Koperasi Nasional ke-79 bukan lagi sekadar kalender peringatan. Ia menjadi saksi lahirnya pernyataan tegas dari seorang pemimpin tertinggi, bahwa pengkhianat sejati adalah mereka yang merusak fasilitas umum atas nama apa pun, dan pengkhianatan itu tidak akan pernah mendapat tempat di bumi Pertiwi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User