Palembang — PTBA Gandeng Polda Sumsel Amankan Asa di Ladang Energi
Dini hari di Tanjung Enim, lampu helm Pak Rustam menyala di antara batuan hitam. Pria 52 tahun itu telah 18 musim menjadi operator alat berat di tambang PT
Dini hari di Tanjung Enim, lampu helm Pak Rustam menyala di antara batuan hitam. Pria 52 tahun itu telah 18 musim menjadi operator alat berat di tambang PT Bukit Asam. Baginya, ritme mesin dan deru ban raksasa adalah irama yang menafkahi tiga anak dan satu istrinya di rumah mungil bercat biru. Tapi sejak sepekan lalu, ada yang berbeda—Pak Rustam melihat lebih banyak patroli kepolisian di jalur hauling. “Saya tidur lebih nyenyak,” katanya sambil tersenyum, serpihan debu masih menempel di kerah kemejanya. “Di sini, keamanan itu artinya dapur rumah tetap mengepul.”
Pak Rustam tak sendiri. Ribuan pekerja dan warga sekitar tambang menggantungkan denyut hidup mereka pada stabilitas objek vital nasional ini. Maka, ketika PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan Polda Sumatera Selatan duduk bersama di Ruang Delegasi Mapolda Sumsel, itu bukan sekadar seremoni. Itu tentang roti yang tetap tersedia di meja makan, tentang anak-anak yang bisa terus bersekolah, tentang Indonesia yang listriknya tak padam.
Audiensi di Gedung Presisi
Kamis pagi, sinar matahari membias di kaca Gedung Presisi Polda Sumsel. Rombongan PTBA yang dipimpin Direktur Utama Letjen TNI (Purn.) Bambang Ismawan tiba pukul 09.30 WIB. Mereka disambut langsung Kapolda Irjen Pol Sandi Nugroho beserta jajaran pejabat utama. Suasana hangat—ada senyum, jabat tangan erat, dan obrolan ringan tentang cuaca Palembang yang mulai panas.- Pukul 10.00 WIB: Pertemuan dibuka dengan paparan kondisi keamanan terkini di area operasi PTBA seluas 66.414 hektare, meliputi tiga kabupaten—Muara Enim, Lahat, dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
- Pukul 10.30 WIB: Kapolda menyampaikan komitmen pengamanan objek vital nasional. “Ini bukan hanya aset perusahaan, tapi penopang 20% pasokan batubara nasional. Setiap batu yang keluar dari sini menggerakkan 34 pembangkit listrik di Jawa dan Sumatera,” ucapnya, suaranya rendah tapi tegas.
- Pukul 11.00 WIB: Dirut PTBA memaparkan rencana pengembangan operasi dan kebutuhan sinergi intelijen. Beliau, yang latar belakangnya prajurit, mengerti betul bahwa ancaman non-tradisional bisa menyusup di celah-celah terak—mulai pencurian, penyelundupan, hingga gangguan sosial.
- Pukul 11.45 WIB: Kedua pihak menyepakati empat pilar kerja sama: patroli terpadu, pertukaran informasi intelijen, pelatihan mitigasi bencana, dan pemberdayaan masyarakat lingkar tambang.
- Pukul 12.15 WIB: Audiensi ditutup dengan sesi foto bersama di depan logo Mapolda. Bambang Ismawan memberi cinderamata berupa miniatur batu bara. “Ini pengingat bahwa di balik benda hitam ini, ada negeri yang berpijar,” katanya.
Comments (0)