Pagi itu, ruang rapat di gedung DPRD Bali bergema dengan suara langkah
Sekretariat DPRD Bali menginisiasi sebuah langkah strategis dengan menggali berbagai regulasi yang telah disusun oleh Pemerintah Daerah dan DPRD DKI Jakart
Sekretariat DPRD Bali menginisiasi sebuah langkah strategis dengan menggali berbagai regulasi yang telah disusun oleh Pemerintah Daerah dan DPRD DKI Jakarta. Tujuannya satu, yaitu percepatan transformasi energi bersih di Bali. Studi ini bukanlah formalitas belaka, melainkan pengakuan bahwa Bali, dengan seluruh keindahan dan tantangan geografisnya, membutuhkan kerangka hukum yang kuat untuk beralih dari ketergantungan energi fosil.
Mengapa Bali Melirik Jakarta?
Pada pandangan pertama, Bali dan Jakarta terlihat seperti dua dunia yang berbeda. Bali dengan sawah terasering dan pura-pura megah, sementara Jakarta dengan beton dan gedung pencakar langit. Namun, di balik perbedaan itu, keduanya menghadapi isu yang sama: kebutuhan mendesak untuk membersihkan udara, menurunkan emisi karbon, dan menghadirkan energi yang ramah lingkungan bagi warganya. Jakarta telah lebih dulu menyusun regulasi yang mendorong penggunaan kendaraan listrik, pemasangan panel surya di gedung pemerintahan, hingga insentif bagi bangunan hijau. Bali melihat jejak itu sebagai cetak biru yang bisa disesuaikan.
Salah satu regulasi kunci yang digali adalah peraturan gubernur tentang pembatasan emisi kendaraan bermotor dan peta jalan energi terbarukan di tingkat provinsi. Kedua instrumen ini dianggap vital untuk menciptakan ekosistem energi bersih yang terintegrasi. “Kami tidak perlu memulai dari nol. Jakarta sudah melewati masa uji coba, pasang surut, bahkan kegagalan. Kami bisa belajar dari itu, lalu meracik formula yang cocok untuk karakter Bali,” ungkap I Wayan Suardika, salah satu pejabat Sekretariat DPRD Bali yang ikut dalam kunjungan tersebut.
Cerita dari Ruang-Dengar
Dalam sesi diskusi yang berlangsung hangat, para delegasi Bali menyimak pemaparan dari tim DPRD DKI Jakarta tentang perjalanan mereka menyusun regulasi. Bukan hanya aspek teknis, pengalaman tentang bagaimana meyakinkan masyarakat dan pelaku usaha untuk beralih ke energi bersih menjadi catatan penting. Sebab, di Bali, sektor pariwisata adalah tulang punggung ekonomi, dan setiap kebijakan harus menjaga keseimbangan antara keberlanjutan dan kelangsungan bisnis lokal.
“Saya terkesan dengan fakta bahwa Jakarta bisa menurunkan emisi sektor transportasi hingga 12 persen dalam tiga tahun terakhir berkat regulasi yang terintegrasi. Itu memberi kami harapan bahwa perubahan di Bali sangat mungkin terjadi, asal ada komitmen bersama.”
— Luh Putu Ariani, anggota DPRD Bali.
Ungkapan itu menyiratkan optimisme sekaligus kesadaran bahwa pekerjaan rumah masih banyak. Delegasi juga menggali insentif fiskal yang diberikan Jakarta kepada pelaku usaha yang beralih ke energi terbarukan, seperti pengurangan pajak bumi dan bangunan untuk hotel yang memasang panel surya. Bali bisa mengadaptasi model ini untuk mendorong partisipasi pelaku pariwisata yang selama ini menjadi penyumbang konsumsi energi terbesar di pulau itu.
Tantangan dan Harapan di Pulau Dewata
Transformasi energi bersih di Bali bukan hanya urusan teknis atau anggaran. Ada dimensi budaya dan sosial yang harus dijaga. Banyak desa adat yang memiliki sistem kelistrikan semi-mandiri, sehingga setiap intervensi harus selaras dengan kearifan lokal. “Kami ingin energi bersih lahir dari komunitas, bukan sekadar proyek dari atas. Karena jika masyarakat merasa memiliki, perubahan akan berkelanjutan,” kata Wayan Suardika lagi.
Salah satu wacana yang mencuat dari kunjungan ini adalah percepatan penyusunan rancangan peraturan daerah (raperda) tentang energi terbarukan Bali, yang mengadopsi elemen-elemen sukses dari Jakarta, namun diperkaya dengan nuansa lokal. Regulasi ini nantinya akan mencakup target penurunan emisi, kewajiban pemasangan panel surya di kawasan wisata, dan kemudahan investasi di sektor energi bersih.
Kisah tentang upaya ini bukan hanya tentang teknologi atau hukum. Ini tentang manusia Bali yang mendambakan langit biru tanpa polusi, petani yang berharap aliran sungai tetap jernih, dan generasi muda yang memimpikan masa depan yang tidak dihantui krisis iklim. Langkah DPRD Bali menggali regulasi Jakarta adalah babak awal dari perjalanan panjang yang penuh tantangan, namun juga sarat makna. Sebab di tangan merekalah, masa depan energi bersih Bali akan ditentukan.
Comments (0)