Menjelajah Cita Rasa Tangerang: Tempat Makan Keluarga yang Murah dan Berkesan
Di sudut kota yang terus bergerak cepat, ada panggangan kecil mengepulkan asap tipis di Jalan Hasyim Ashari. Jarum jam baru bergerak menuju pukul enam sore ketika Tina dan suaminya, Arman, beserta dua...
Di sudut kota yang terus bergerak cepat, ada panggangan kecil mengepulkan asap tipis di Jalan Hasyim Ashari. Jarum jam baru bergerak menuju pukul enam sore ketika Tina dan suaminya, Arman, beserta dua anak mereka, memasuki halaman sederhana yang dihiasi lampu-lampu kuning redup. Bukan restoran mewah dengan pendingin udara, melainkan sebuah pekarangan rumah yang disulap menjadi ruang makan terbuka. Aroma sambal terasi dan ikan bakar langsung menyambut, seolah menggenggam ingatan masa kecil. Anak sulung mereka, Naura, berbisik, “Bu, wanginya seperti masakan nenek.”
Perjuangan Mencari Tempat Makan Ramah Kantong
Tina mengisahkan, sebagai pasangan muda yang tinggal di perumahan pinggiran Tangerang, mencari tempat makan keluarga dengan anggaran terbatas adalah perjalanan penuh eksperimen. “Dulu kami sering bingung mau makan di mana kalau akhir pekan. Uang pas-pasan, tapi ingin tetap bisa kumpul dan menikmati makanan enak,” kenangnya sambil tertawa kecil. Tempat seperti ini, yang ia sebut ‘saung keluarga’, mulai banyak bermunculan sejak 2025. Konsepnya sederhana: halaman rumah yang diubah jadi tempat lesehan, dengan menu rumahan yang harga satu paketnya hanya Rp15–25 ribu per orang. Di salah satu sudut bernama Dapur Ma’ Ida, satu keluarga bisa memesan paket komplit: nasi liwet lengkap dengan ayam goreng kampung, lalapan, sambal, dan es teh manis seharga Rp80 ribu untuk empat orang. Tidak ada pajak restoran, tidak ada biaya tambahan. Hanya kehangatan dan piring-piring yang kembali kosong dengan sisa suapan terakhir.
Menyajikan Lebih dari Sekadar Hidangan
Di tempat semacam ini, makanan hanyalah setengah dari cerita. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter yang disekat bambu, Naura dan adiknya, Rafa, asyik mewarnai gambar di atas kertas cokelat yang disediakan gratis. Sementara Tina dan Arman bisa berbincang tanpa terburu-buru. “Di restoran cepat saji, anak-anak selesai makan langsung bosan. Di sini, mereka bisa main, kami bisa bernapas,” ujar Arman. Banyak tempat serupa di kawasan Pinang, Ciledug, dan Karawaci—menawarkan sudut bermain, kolam ikan kecil, atau sekadar ayunan ban. Bahkan ada yang menyediakan sesi storytelling dadakan dari si empunya rumah. Ini bukan sekadar strategi bisnis, melainkan cerminan bahwa pemilik tempat mengerti benar makna makan bersama: bukan hanya mengisi perut, tapi mencipta momen.
Inspirasi dari Dapur Sederhana
“Sebenarnya ini berawal dari iseng,” cerita Ida, pemilik Dapur Ma’ Ida. Perempuan 43 tahun itu dulunya hanya sering dimintai tolong katering arisan warga. Pandemi mengajarinya bahwa hobi memasak bisa menjadi tumpuan hidup. Tahun 2024, ia memberanikan diri membuka teras rumahnya untuk umum. Awalnya hanya tiga meja. Sekarang, setiap akhir pekan, ia bisa melayani 30–40 porsi. Menu andalannya adalah nasi bakar ayam suwir dengan bungkus daun pisang yang aroma tanahnya menyatu dengan nasi pulen. “Saya tidak bisa jualan mahal-mahal. Tapi pelanggan saya banyak yang bilang, di sini mereka bisa makan sambil nostalgia,” ucap Ida, matanya berkaca-kaca. Harganya yang tak sampai Rp20 ribu seporsi membuat tempat ini selalu penuh, terutama oleh keluarga muda dan para perantau yang rindu masakan rumah.
Di meja paling pojok, Naura menyodorkan sendok berisi nasi ke mulut ayahnya. Arman menyambutnya dengan tawa, lalu mengelus kepala anaknya. Malam itu, bukan kemewahan yang membuat mereka betah, melainkan kebersamaan yang sederhana—dan harga yang tak membuat dompet menjerit. Di tengah laju kota, ternyata Tangerang masih punya banyak sudut yang merayakan kebersamaan dengan harga bersahabat. Dari dapur-dapur kecil yang dibuka dengan tulus, lahir cerita bahwa mimpi dan kebahagiaan bisa dimulai dari sepiring hidangan hangat yang terjangkau.
Baca juga:
Comments (0)