Mengantar Temon Pulang dalam Pelukan Doa Gereja

Langit siang itu mendung, seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti lorong kecil menuju rumah duka di sisi gereja. Di sudut ruangan berukuran 4x5 meter itu, puluhan lilin kecil menyala, menciptakan ...

Jul 12, 2026 - 19:54
0 0
Mengantar Temon Pulang dalam Pelukan Doa Gereja

Langit siang itu mendung, seolah ikut merasakan duka yang menyelimuti lorong kecil menuju rumah duka di sisi gereja. Di sudut ruangan berukuran 4x5 meter itu, puluhan lilin kecil menyala, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding bercat putih. Sebuah peti kayu sederhana berwarna cokelat muda tertutup rapat, di atasnya tersemat rangkaian bunga mawar putih yang masih segar. Itulah tempat Temon kini terbaring, setelah perjalanan panjang melawan sakit yang menggerogoti tubuh mudanya.

Beberapa jam sebelumnya, suasana di rumah sakit masih sunyi. Hanya suara detak mesin medis yang menjadi saksi bisu. Pukul sembilan pagi, pintu ruang jenazah terbuka perlahan. Petugas berseragam putih keluar sambil mendorong brankar beroda. Di atasnya, jenazah Temon telah dibalut kain putih bersih, siap memulai perjalanan terakhir. Ibunya, seorang perempuan paruh baya berambut setengah kelabu, berdiri di samping sambil menggenggam erat ujung brankar. Tangannya gemetar menahan isak, namun langkahnya tetap tegap, seakan tak ingin menunjukkan kerapuhan di hadapan anak bungsunya yang baru saja berpulang.

"Kamu tenang saja, Nak. Ibu kuat. Ibu ikhlaskan kamu pulang ke rumah Bapa." bisiknya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh deru ambulans yang mulai menyala di halaman.

Langkah Pertama Menuju Gereja

Prosesi pemindahan dari rumah sakit ke gereja memakan waktu sekitar empat puluh menit. Ambulans putih melaju perlahan melintasi jalanan kota yang mulai ramai. Di dalam, selain sopir dan seorang petugas kesehatan, duduklah ibu Temon bersama dua putrinya. Tak banyak percakapan di sepanjang perjalanan. Hanya sesekali terdengar suara lantunan doa, dan satu-dua kali bunyi notifikasi ponsel dari kerabat yang mengirimkan ucapan belasungkawa. Mobil melintasi pasar, toko-toko kelontong, dan sekolahan yang pernah menjadi bagian dari keseharian Temon semasa hidupnya. Setiap sudut kota itu seakan menyimpan sejuta kenangan yang kini terasa begitu berat untuk dikenang.

Sesampainya di halaman gereja, sejumlah pelayat yang sebagian besar mengenakan pakaian serba hitam sudah menanti. Mereka berdiri membentuk dua barisan, memberi jalan bagi peti untuk diangkut masuk. Seorang pastor berjubah putih memimpin doa singkat tepat di depan pintu gereja. Suaranya yang berat mengalun menggetarkan udara, mengiringi setiap ayunan langkah para pengusung peti yang terdiri dari enam pemuda—sahabat-sahabat Temon semasa remaja. Wajah mereka tegang menahan emosi. Salah seorang di antaranya, yang bernama Yosafat, terlihat menggigit bibirnya kuat-kuat, menolak menyerah pada tangis. "Dia yang selalu bilang jangan galau. Sekarang dia pergi duluan," bisiknya kepada teman di sebelahnya, sebelum akhirnya air matanya jatuh juga.

Di Balik Senyum yang Dikenang

Di dalam gereja, peti diletakkan di depan altar, diapit dua karangan bunga besar. Nama lengkap Temon tertera di papan ucapan duka yang dipasang tepat di samping pintu masuk. Beberapa rekan kerjanya dari sebuah bengkel kecil tempatnya bekerja sebagai mekanik terlihat berdiri di sudut dengan wajah kusut. Bagi mereka, Temon bukan sekadar rekan kerja; dia adalah sosok yang selalu ceria, sanggup mencairkan suasana dengan lelucon sederhana bahkan ketika pesanan sedang menumpuk. "Dia itu tukang ketawa, Mas. Kalau ada yang rusak mobilnya, dia bilang 'tenang, ini cuma lagi ngambek', lalu ketawa. Bikin suasana jadi enteng," kenang Agus, pemilik bengkel sambil menyeka peluh dan air mata dengan satu sapuan tangan.

Kesaksian serupa datang dari para tetangga. Temon dikenal rajin membantu tanpa pamrih, suka mengantar warga yang butuh tumpangan ke pasar, atau sekadar duduk menemani orang tua yang kesepian. Di salah satu sudut gereja, seorang nenek berusia tujuh puluh tahunan, yang biasa disapa Mbah Sri, duduk terdiam meremat rosario. Ia tinggal sendirian dan Temon-lah yang sering mengirimkan makanan atau membelikan gas elpiji tanpa diminta. "Saya tidak tahu mau bilang apa. Dia seperti cucu saya sendiri. Selalu bilang 'Mbah, kalau butuh apa-apa, bilang ya'. Sekarang siapa yang mau ngingetin saya minum obat?" ucap Mbah Sri sambil mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca.

Perpisahan yang Tak Melulu Duka

Pastor yang memimpin ibadat peringatan mengajak semua yang hadir untuk tidak hanya meratap, tapi juga merayakan hidup Temon yang singkat namun penuh makna. Dalam khotbahnya, ia menekankan bahwa kepergian Temon bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik awal bagi keluarga yang ditinggalkan untuk belajar mengasihi seperti yang telah dicontohkan almarhum. "Kita berkumpul di sini bukan untuk menyerah pada kesedihan, tetapi untuk saling menguatkan bahwa cinta yang pernah dibagikan oleh saudara kita Temon tidak akan pernah padam. Ia telah menanam benih kebaikan yang akan terus tumbuh di hati kita masing-masing," ujarnya dengan suara yang tenang namun penuh kuasa.

Setelah ibadah selesai, satu per satu pelayat maju memberikan penghormatan terakhir. Ada yang sekadar meletakkan tangan di atas peti dan memejamkan mata sejenak, ada pula yang membisikkan harapan agar Temon beristirahat dalam damai. Ibu Temon berdiri paling akhir, ditemani kedua putrinya yang terus memeluknya erat. Ia menyentuh peti dengan kedua tangannya, lalu mengecup ujung jarinya sendiri dan menempelkannya ke kayu penutup. "Tidur yang nyenyak, Anakku. Terima kasih sudah menjadi cahaya bagi Ibu," katanya, lalu ia berbalik dan berjalan keluar gereja menuju mobil jenazah yang telah siap mengantar ke pemakaman.

Siang itu, hujan rintik-rintik akhirnya turun, seolah langit pun melepas kepergian Temon dengan tetesan air mata terakhir. Satu persatu kendaraan meninggalkan halaman gereja, tetapi kenangan tentang senyum dan kebaikan seorang pemuda sederhana itu akan terus tinggal, hidup di antara doa-doa yang dipanjatkan malam itu.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User