Menabung Rupiah Demi Panggilan Suci, Kisah Emak Penjual Pecel

Di sudut dapur berukuran 2x3 meter yang pengap oleh uap santan mendidih, jemari keriput itu masih cekatan mengiris mentimun. Pukul tiga dini hari, saat seluruh gang sempit di kawasan padat penduduk it...

Jul 13, 2026 - 11:37
0 0

Di sudut dapur berukuran 2x3 meter yang pengap oleh uap santan mendidih, jemari keriput itu masih cekatan mengiris mentimun. Pukul tiga dini hari, saat seluruh gang sempit di kawasan padat penduduk itu masih terlelap, Sainah—atau yang akrab disapa Emak oleh para tetangganya—sudah memulai ritual harian yang telah ia jalani selama 23 tahun: menyiapkan bumbu pecel. Bukan perkara mudah membangunkan badan renta 67 tahun setiap hari, namun ada satu nama yang membuat punggungnya tetap tegak: Makkah.

Kisah ini bermula dari secarik kertas lusuh yang terselip di balik sajadahnya. Di atas kertas itu, tertulis angka demi angka dengan tulisan tangan yang mulai gemetar: tabungan haji. Angkanya tidak besar. Kadang bertambah seratus ribu, kadang hanya bertambah lima puluh ribu rupiah dari hasil berjualan pecel di depan gang. Tapi bagi Emak, angka-angka kecil itu adalah jejak kesabaran selama lebih dari dua dekade.

Dapur Kecil, Mimpi Besar

Setiap pagi, aroma kacang tanah yang disangrai bercampur dengan kencur dan daun jeruk menyebar dari dapur mungilnya. Pelanggan setia Emak sudah hafal: pecel dengan sambal tumpah yang pedasnya nampol, lontong padat buatan sendiri, dan keramahan yang tidak pernah luntur. Mereka tidak tahu bahwa di balik senyum yang selalu mengembang, ada perjuangan menyimpan receh demi receh. "Rezeki pecel memang kecil, Nak. Tapi kalau diniatkan untuk panggilan-Nya, rasanya setiap butir kacang yang kuulek jadi terasa ringan," tutur Emak dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca, suatu sore saat saya menemuinya.

"Saya ini cuma perempuan desa tamatan SD, tidak bisa baca tulis latin dengan lancar. Tapi kalau soal keinginan menghadap Allah di rumah-Nya, jangan ditanya. Sudah jadi dzikir di setiap sujud."

Suaminya, Mbah Darno, telah berpulang 11 tahun silam. Sejak saat itu, Emak semakin menggantungkan hidup pada warung kecilnya. Tiga anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota, tapi Emak menolak halus ketika mereka menawarkan bantuan. "Ini tabungan saya sendiri," katanya dengan nada bangga yang getir.

Tabungan di Balik Kasur

Ada yang tidak biasa dari kebiasaan Emak. Setiap tiga bulan, ia akan menyetor uang tunai ke bank syariah di ujung jalan. Jumlahnya tidak pernah lebih dari dua juta. Tapi rutinitas inilah yang menjadi saksi bagaimana seorang perempuan paruh baya menabur harapan di tengah keterbatasan. Petugas bank hafal betul: setiap kali Emak datang dengan bungkusan plastik kresek berisi uang receh, mereka sudah menyiapkan formulir setoran dengan sabar.

Namun, perjalanan menuju Tanah Suci bukan tanpa badai. Pandemi lima tahun silam sempat membuat Emak nyaris putus asa. Warungnya tutup berbulan-bulan, tabungannya terkuras untuk bertahan hidup. Angka di buku tabungan haji yang semula sudah mendekati target, merosot drastis. "Saya nangis di sajadah waktu itu, Nak. Bukan karena tidak bisa jualan, tapi karena mimpi yang sudah di depan mata tiba-tiba menjauh lagi," kenang Emak sambil mengelap ujung matanya dengan ujung mukena yang tersampir di bahu.

Bangkit dari Titik Nol

Tapi semangat Emak tidak ikut luruh. Begitu keadaan sedikit membaik, ia kembali menggelar tikar di depan gang. Kali ini dengan strategi baru: ia mulai menerima pesanan nasi kotak untuk acara-acara kecil di kampung. Dari sinilah, perlahan tapi pasti, buku tabungan hijaunya kembali terisi. Rekan-rekan pengajian di mushala juga menjadi pelanggan setia. Mereka tahu bahwa setiap bungkus pecel yang dibeli adalah wujud gotong royong mengirimkan seorang Emak ke Tanah Suci.

Yang mengharukan sekaligus mengejutkan terjadi pada awal tahun ini. Ketika nomor porsi haji Emak akhirnya dipanggil oleh Kementerian Agama, tiga anaknya yang selama ini merasa belum bisa membantu secara materi, patungan untuk menutupi kekurangan biaya. Emak menangis bukan karena terharu—tetapi karena merasa perjuangan pribadinya yang sunyi selama 22 tahun akhirnya mendapat restu dari keluarga. "Rupanya Allah mengirimkan rezeki lewat anak-anak yang kupikir tidak tahu perjuanganku," bisiknya.

Sekarang, Emak sedang mempersiapkan diri mengikuti manasik haji. Di sela-sela mengulek sambal, ia menghafalkan doa-doa yang diajarkan oleh ustaz di mushala. Dapur kecilnya tetap mengepulkan asap setiap subuh, tetapi kini ada senyum berbeda yang menghiasi wajah tuanya: senyum seorang perempuan yang akan segera menuntaskan perjalanan spiritual seumur hidup.

Kisah Emak bukan sekadar tentang haji. Ia adalah cermin bagi siapa pun yang percaya bahwa ketekunan dalam kesederhanaan mampu menembus batas-batas kemustahilan. Seperti yang selalu diucapkannya setiap kali ada yang bertanya resep kesabarannya, "Kalau niatnya untuk Allah, jalan itu pasti dibukakan. Meski jalannya lewat sambal pecel."

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User