Melepas Penat di Atas Kertas: Momen Intim Workshop Journaling

Ibu jari itu berhenti sejenak di atas lembaran kertas karton berwarna pastel. Di hadapannya, puluhan potongan gambar, pita washi bermotif bunga, dan spidol berujung halus menunggu sentuhan. Di sudut T...

Jul 13, 2026 - 16:23
0 1
Melepas Penat di Atas Kertas: Momen Intim Workshop Journaling

Ibu jari itu berhenti sejenak di atas lembaran kertas karton berwarna pastel. Di hadapannya, puluhan potongan gambar, pita washi bermotif bunga, dan spidol berujung halus menunggu sentuhan. Di sudut Teras by Plataran, Jakarta, suara tawa kecil dan bisik-bisik antusias berpadu dengan alunan lagu akustik yang mengalir pelan. Siang menjelang sore itu, sekelompok perempuan duduk melingkar, bukan untuk rapat atau pertemuan resmi, melainkan untuk sebuah perjalanan kecil ke dalam diri sendiri: journaling dan scrapbooking.

Acara bertajuk "Journaling & Scrapbooking: Merawat Diri di Tengah Riuh Kota" ini digagas oleh komunitas perempuan Fimelahood bersama Ruang Rupa Perempuan. Bukan seminar, bukan pula kelas teori. Hanya 25 orang yang hadir, sengaja dibatasi agar setiap peserta bisa merasakan kedekatan personal dan bebas berbagi tanpa sekat. Di atas meja-meja kayu, tersaji aneka perlengkapan: gunting, lem, kertas-kertas berpola vintage, stiker-stiker lucu, dan tentu saja, buku jurnal kosong yang siap diisi.

Bukan Sekadar Hobi

Bagi banyak orang, journaling mungkin dipandang sebagai sekadar menulis catatan harian. Namun bagi para peserta sore itu, kegiatan ini jauh lebih dalam. Ia menjadi katup pelepas tekanan, wadah menuangkan emosi yang tak selalu mudah diucapkan. "Di rumah, saya selalu sibuk dengan urusan anak dan suami. Rasanya, kehilangan ruang untuk sendiri," bisik seorang peserta, sebut saja Dina, yang datang dari Tangerang. Wajahnya sumringah saat memilih gambar bunga mawar untuk ditempel di sampul jurnalnya. "Di sini, saya merasa punya waktu untuk kembali mendengarkan diri sendiri."

Ruang Rupa Perempuan, sebuah inisiatif yang fokus pada kesehatan mental melalui seni, memandu sesi dengan lembut. Mereka mengajak peserta untuk tidak berpikir terlalu keras, melainkan membiarkan tangan bekerja secara intuitif. Hasilnya, setiap halaman jurnal menjadi cerminan unik kepribadian pemiliknya. Ada yang memilih warna-warna lembut dan tenang, ada pula yang berani dengan komposisi kontras dan potongan kata-kata penuh semangat. Semuanya mendapat tempat tanpa penghakiman.

Luka Kecil yang Disulam Warna

Salah satu momen paling mengharukan terjadi ketika sesi berbagi cerita. Seorang peserta, sebut saja Maya, menempelkan foto kecil almarhumah ibunya di tengah halaman, dikelilingi origami kupu-kupu. Dengan suara bergetar, ia mengisahkan bahwa journaling membantunya melewati duka yang tak kunjung usai. "Saya tidak sanggup bercerita ke siapa pun, tapi menulis dan menempel ini seperti memeluk luka saya sendiri," ujarnya, air mata menggenang namun senyum tetap merekah. Ruangan hening sejenak, lalu disusul pelukan hangat dari peserta di sebelahnya.

Bukan hanya duka, kisah-kisah ringan pun mewarnai sore itu. Mulai dari mimpi membuka usaha kecil, perasaan lelah menjadi pekerja kantoran, hingga kegelisahan hati yang tak jelas ujungnya. "Journaling mengajarkan bahwa semua perasaan valid, dan setiap kita berhak merayakan atau merawat apa pun yang sedang kita rasakan," tutur fasilitator dari Ruang Rupa Perempuan. Kata-kata itu seakan menjadi mantra baru bagi banyak yang hadir.

Merajut Komunitas di Tengah Kesibukan

Di balik kegiatan menggunting dan menempel, terjalin benang-benang persaudaraan yang tak terduga. Para peserta yang semula asing perlahan saling bertukar stiker, meminjamkan lem, dan memberi pujian tulus pada hasil karya masing-masing. "Saya datang sendirian, pulang bawa teman baru," kata seorang mahasiswi yang tampak malu-malu di awal acara. Ia mengaku jarang bersosialisasi, namun suasana hangat dan tanpa prasangka membuatnya nyaman.

Fimelahood sebagai penggagas berharap acara ini bukan yang terakhir. Mereka melihat bahwa kebutuhan perempuan akan ruang aman untuk berekspresi dan berkumpul semakin tinggi di tengah tekanan hidup modern. "Kami ingin menghadirkan lebih banyak momen seperti ini—di mana perempuan bisa rehat sejenak, merawat jiwa, dan saling menguatkan," ungkap perwakilan komunitas tersebut.

Sore menjelma senja ketika workshop berakhir. Jurnal-jurnal telah terisi halaman-halaman pertama yang penuh warna dan makna. Beberapa peserta terlihat enggan beranjak, masih asyik menambahkan detail terakhir. Satu per satu, mereka membawa pulang bukan hanya buku tempelan, melainkan juga sedikit kelegaan dan banyak ingatan manis yang menempel di hati. Jakarta boleh terus riuh, namun sore itu, di sudut Senayan, sekelompok perempuan telah menemukan cara sederhana untuk kembali utuh.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User