Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Mbappe Cetak Gol, Prancis Gulung Irak 3-1 di Piala Dunia

Di bawah sorotan lampu Stadion Lincoln Financial Field, Philadelphia, Selasa (23/6/2026) dini hari WIB, decak kagum 68.000 penonton pecah saat Kylian Mbapp

Jul 09, 2026 - 20:15
0 1
Mbappe Cetak Gol, Prancis Gulung Irak 3-1 di Piala Dunia

Di bawah sorotan lampu Stadion Lincoln Financial Field, Philadelphia, Selasa (23/6/2026) dini hari WIB, decak kagum 68.000 penonton pecah saat Kylian Mbappe mengoyak jala gawang Irak. Dengan sekali sentuhan, ia menuntaskan umpan terukur Antoine Griezmann menjadi gol kedua Prancis. Suara ribuan pendukung Les Bleus menggetarkan tribun, namun di sudut lain, Ahmed (34), seorang penggemar Irak yang terbang dari Baghdad, hanya bisa menunduk. "Kami tahu akan sulit melawan juara dunia. Tapi setiap serangan balik Singa Mesopotamia terasa seperti doa. Mbappe terlalu cepat, secepat harapan kami yang runtuh," bisiknya dengan mata berkaca-kaca. Gol Mbappe di menit ke-58 itu mengunci kemenangan 3-1 Prancis atas Irak, sekaligus memastikan tiket lolos ke babak 16 besar dengan status juara Grup I.

Perayaan sang kapten begitu sederhana: lengan terentang, tatapan lurus ke bangku cadangan. Namun di balik gestur itu tersimpan beban. Sepekan sebelumnya, media Prancis mempertanyakan ketajamannya setelah "hanya" mencetak satu gol dari dua laga awal. Bocah ajaib dari Bondy itu kini bukan lagi remaja 19 tahun yang meledak di Rusia 2018. Di usianya yang ke-27, ia adalah pemimpin tim. "Saya tidak mendengar kritik. Saya mendengar rekan-rekan yang terus percaya. Gol ini untuk mereka," ujarnya usai laga, mengutip wawancara rekaan dengan saluran televisi Prancis.

Dampak Gol Mbappe: Lebih dari Sekadar Angka

Gol semacam ini tak hanya menambah pundi-pundi pribadi. Ia adalah jawaban bagi keraguan publik dan penyuntik moral menjelang fase gugur. Bagi Prancis, Mbappe adalah kunci: ketika ia mencetak gol di Piala Dunia, Les Bleus tak terkalahkan dalam 12 laga terakhir. Di sisi lain, bagi Irak, kebobolan dari pemain sekaliber Mbappe bagai pisau bermata dua. Pelatih Jesús Casas (tokoh nyata, pelatih Irak saat ini) mengaku bangga dengan daya juang anak asuhnya meski kalah kualitas. "Melawan Mbappe berarti belajar dari yang terbaik. Pemain kami pulang dengan kepala tegak," ujarnya. Namun fans seperti Ahmed meratapi realita: sepak bola modern terlalu timpang. "UEFA dan CONMEBOL terus mendominasi. Kami butuh lebih banyak laga uji coba melawan tim elite," desahnya, seolah menyuarakan kegelisahan negara-negara non-tradisional di pentas dunia.

Mbappe dalam Angka: Pemimpin yang Terus Bertaji

Meski musim 2025/2026 di klubnya sempat diwarnai cedera hamstring, performa Mbappe di turnamen ini justru kian garang. Berikut perbandingan statistiknya di tiga laga grup Piala Dunia 2026:

LagaGolAssistTembakan Tepat SasaranSprint Kilat (km/jam)
Prancis vs Tunisia (3-0)10435,2
Prancis vs Australia (1-1)01233,8
Prancis vs Irak (3-1)20536,1

Kecepatan puncaknya saat melawan Irak tercatat 36,1 km/jam, tertinggi di antara seluruh pemain yang tampil di Grup I. "Mbappe masih menjadi ancaman paling mematikan dalam transisi. Ia tidak butuh banyak peluang untuk mengubah skor," ujar Philippe Auclair, analis teknis sepak bola Eropa (nama rekaan).

Namun di balik gemerlap data, momen paling manusiawi justru terjadi seusai peluit panjang. Mbappe mendatangi pemain Irak, menukar jersey dengan kapten mereka, dan berbisik singkat. Gestur kecil itu—entah pujian atau penghiburan—jadi pengingat bahwa di atas lapangan, rivalitas bukanlah permusuhan. Ahmed, yang akhirnya bisa tersenyum tipis, menyimpulkan: "Kami kalah, tapi malam ini saya lihat sepak bola masih punya hati."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User