Di sudut timur Jakarta yang ramai, harapan baru bagi para ibu dan bayi mereka kini berdiri. Kamis pagi (9/7/2026), Mayapada Healthcare resmi membuka pintu rumah sakit kedelapannya: Mayapada Hospital Jakarta Timur (MHJT). Bukan sekadar bangunan kaca dan baja, tempat ini dirancang sebagai ruang hangat yang memeluk setiap ibu yang menanti kelahiran buah hati, dan setiap anak yang berhak tumbuh sehat.
“Saya tinggal di kawasan Pondok Kopi, selama ini kalau anak demam tinggi atau butuh kontrol kandungan, suami harus izin kerja setengah hari untuk antar ke rumah sakit besar di pusat kota,” cerita Dina (31), warga sekitar yang datang mengintip gedung baru itu. “Sekarang dalam 15 menit saya bisa sampai. Rasanya seperti didengar.”
Sentuhan personal seperti itulah yang ingin ditanamkan Presiden Komisaris Mayapada Healthcare, Jonathan Tahir. Dalam sambutannya, ia tak banyak bicara soal investasi atau laba. “Kami harap rumah sakit ini bisa membawa keberuntungan. Bukan hanya untuk Mayapada, tapi paling penting rumah sakit ini bisa membawa keberuntungan, bisa membawa berkat bagi masyarakat sekitarnya,” ucapnya, disambut senyum haru sejumlah tenaga medis yang hadir. Jonathan menegaskan, MHJT adalah rumah sakit Mayapada ketiga di DKI Jakarta, namun menjadi yang pertama yang khusus menyasar kawasan timur kota, menjawab kebutuhan fasilitas kesehatan ibu dan anak yang selama ini belum merata.
Mengapa Layanan Ibu dan Anak Jadi Pilihan Strategis?
Bagi Mayapada, fokus pada pasien ibu dan anak bukanlah kebetulan. Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta (2025) menunjukkan angka kematian ibu di Jakarta Timur masih tercatat
48 per 100.000 kelahiran, sedikit di atas rata-rata kota. Sementara itu, cakupan imunisasi dasar lengkap baru menyentuh
82%, di bawah target nasional 95%.
“Ketersediaan layanan obstetri darurat dan neonatal intensif di wilayah timur memang terbatas. Rumah sakit besar lebih terkonsentrasi di pusat dan selatan,” jelas
dr. Riana Kusuma, MARS, pengamat kebijakan kesehatan dari kajian swasta yang akrab dengan jaringan layanan Mayapada. “Kehadiran MHJT menjawab kesenjangan geografis ini. Mereka bukan hanya mendekatkan layanan, tapi juga menyediakan satu ekosistem—mulai dari klinik laktasi, ruang bersalin water birth, hingga unit tumbuh kembang anak.”
Di dalam gedung, koridor ruang anak dihiasi mural hewan laut yang teduh. “Kami tidak ingin anak merasa dihukum saat masuk rumah sakit. Setiap sudut kami buat aman secara psikologis,” kata dr. Bagus, dokter spesialis anak yang akan berpraktek di MHJT.
| Indikator |
Sebelum MHJT Beroperasi |
Dampak Proyeksi MHJT |
| Rata-rata jarak ke RS ibu & anak |
12–18 km |
2–5 km (wilayah sekitar) |
| Kapasitas inkubator NICU publik |
4 inkubator/100.000 populasi |
+3 inkubator tambahan |
| Program laktasi terintegrasi |
Terbatas di 2 puskesmas |
Klinik laktasi rawat jalan |
Sumber: Proyeksi internal Mayapada Healthcare & data Dinkes DKI, 2025
Bagi Siti (29), ibu dua anak yang anak bungsunya lahir prematur tahun lalu, angka di atas berarti kelegaan. “Dulu saya harus antre inkubator di rumah sakit rujukan, akhirnya dapat slot di Jakarta Selatan—jauh dan menguras biaya. Semoga sekarang tetangga saya tak perlu alami itu lagi.”
Mayapada Hospital Jakarta Timur bukan sekadar ekspansi bisnis ke-8 PT Sejahtera Anugrahjaya. Ia adalah janji konkret akan akses, kedekatan, dan ruang penyembuhan yang manusiawi—bagi ibu-ibu yang ingin melahirkan dengan tenang, dan anak-anak yang pantas mendapatkan awal kehidupan terbaik. Ketika pintu kaca rumah sakit itu menggeser terbuka, yang masuk bukan hanya calon pasien, melainkan harapan yang selama ini tertahan.
Comments (0)