Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Malioboro — Pedagang Cemas Wisatawan Kabur dengan Rencana Full Pedestrian 24 Jam

Senja di Malioboro selalu punya cara untuk menyihir siapa pun. Lampu-lampu jalan mulai menyala, mencipta bias keemasan di atas aspal yang perlahan dipenuhi

Jul 08, 2026 - 05:36
0 0
Malioboro — Pedagang Cemas Wisatawan Kabur dengan Rencana Full Pedestrian 24 Jam

Senja di Malioboro selalu punya cara untuk menyihir siapa pun. Lampu-lampu jalan mulai menyala, mencipta bias keemasan di atas aspal yang perlahan dipenuhi langkah kaki. Di sudut Teras Malioboro, Slamet Santoso mengelap kaca etalase tokonya dengan gerakan pelan, nyaris tanpa suara. Matanya menerawang pada arus kendaraan yang mengalir pelan—suara klakson, deru becak, dan gelak tawa wisatawan. Pemandangan yang sudah ia kenali selama belasan tahun berjualan di sini. Namun, di balik rutinitas itu, hatinya sedang bergolak. Rencana Pemerintah Daerah DIY untuk menjadikan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian 24 jam mulai November 2026 membuat Slamet gamang. Bukan hanya soal macet dan parkir, baginya ini soal nyawa penghidupannya.

Suara dari Teras Malioboro

Di antara deretan kios yang menjual batik, kerajinan perak, dan kuliner khas, Slamet Santoso (52) adalah wajah yang akrab. Ia bukan sekadar penjual, melainkan saksi hidup denyut Malioboro sejak era 2000-an awal. Ketika kabar pedestrianisasi total itu sampai ke telinganya, yang pertama kali terlintas bukan soal kenyamanan pejalan kaki, melainkan wajah-wajah pelanggan yang selama ini datang membawa mobil dan parkir di sekitar kawasan. “Saya bukannya menolak Malioboro yang bersih. Tapi kalau parkir saja belum jelas, bagaimana mereka mau datang?” ujarnya dengan nada getir.

"Masalah transportasi yang saya sampaikan masih belum bisa memenuhi atau infrastruktur terkait dengan masalah parkiran. Kami cuma pedagang kecil. Kalau wisatawan susah parkir, ya ke tempat lain saja."

Kata-kata Slamet menggema di gang-gang sempit Malioboro sore itu. Bukan hanya dia. Beberapa pedagang lain di Teras Malioboro juga berbisik tentang ketakutan yang sama: wisatawan bisa kabur ke destinasi lain yang lebih ramah kendaraan. Sebut saja Tunjungan di Surabaya atau Jalan Braga di Bandung yang tetap membolehkan akses mobil. “Malioboro itu urat nadinya Jogja. Kalau kawasan ini sepi, bisa mati suri,” gumam Slamet sambil menunjuk deretan kios kosong yang belum lama ditinggalkan penyewa.

Parkir: Simpul yang Belum Terurai

Isu parkir memang jadi biang kekhawatiran. Para pedagang menilai belum ada kantong parkir besar yang memadai dalam radius berjalan kaki. Slamet bercerita, saat uji coba pedestrian malam hari saja, banyak pelanggan mengeluh harus parkir di lokasi yang jauh dan gelap. “Bayangkan kalau 24 jam penuh. Tamu hotel, pembeli grosir, rombongan keluarga—mereka bawa barang banyak. Masa harus jalan setengah kilometer dengan tangan penuh tentengan?” katanya sambil menggeleng.

Di sisi lain, Bu Ratih, seorang penjual pecel legendaris di ujung selatan Malioboro, punya cerita lebih pribadi. “Saya sudah 30 tahun di sini. Pelanggan tetap saya banyak yang pensiunan, lansia. Mereka biasa parkir dekat warung, turun, duduk, pesan. Sekarang kalau harus jalan jauh, mungkin mereka tak sanggup. Jadi saya takut kehilangan pelanggan setia.” Suaranya bergetar saat menceritakan seorang pelanggan tua yang selalu datang naik mobil setiap Minggu pagi. “Nanti beliau mungkin cari sarapan di tempat lain.”

Rencana pedestrianisasi memang punya tujuan mulia: mengembalikan Malioboro sebagai ruang manusia, mengurangi polusi, dan mendongkrak kenyamanan wisata. Namun Slamet dan pedagang lain punya kacamata berbeda. Mereka melihat data lapangan: sekitar 60 persen wisatawan Malioboro masih menggunakan kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil. “Kita tidak bisa pukul rata. Wisatawan dari luar kota, rombongan keluarga, orang tua—mereka butuh akses. Kalau dipaksa, mereka bisa lari ke tempat wisata lain yang lebih mudah dijangkau,” imbuh Slamet.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Meski gelisah, Slamet dan pedagang lain tidak ingin sekadar mengeluh. Mereka berharap Pemda mendengar dan memastikan infrastruktur parkir raksasa di beberapa titik pinggir Malioboro sudah beroperasi sebelum kebijakan penuh berlaku. “Kami ingin Malioboro tetap hidup. Tapi tolong, pikirkan juga kami yang menggantungkan hidup di sini,” pintanya. Ia membayangkan parkir bertingkat dengan shuttle ramah lansia, jalan setapak yang teduh, dan penerangan yang aman hingga malam. “Bukan sekadar menutup jalan lalu beres. Itu menyakiti kami.”

Saat malam turun dan geliat Malioboro perlahan mereda, lampu-lampu toko padam satu per satu. Slamet mengunci etalasenya, menyimpan kunci di saku lusuh, lalu pulang dengan pertanyaan yang belum terjawab: akankah rencana besar ini membawa berkah, atau justru melahirkan Malioboro yang sunyi tanpa pelanggan? Di tengah semilir angin malam Jogja, pedagang seperti dia hanya bisa berharap, suara mereka tak lenyap di tengah kemajuan kaki lima yang ingin diubah menjadi catwalk pejalan kaki abadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User