Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Malaysia Perketat Aturan, Mobil Listrik Murah China Makin Sulit Melenggang

Kuala Lumpur, Beritaseputar.com – Pasar mobil listrik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand, dalam beberapa tahun terakhir dibanjiri produk-pro

Jul 08, 2026 - 01:05
0 0

Kuala Lumpur, Beritaseputar.com – Pasar mobil listrik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand, dalam beberapa tahun terakhir dibanjiri produk-produk buatan China yang menawarkan harga terjangkau. Namun, Malaysia mengambil langkah tegas untuk mengubah peta persaingan tersebut. Mulai Juli 2026, Negeri Jiran resmi menerapkan kebijakan baru yang dipastikan akan mempersulit masuknya mobil listrik impor bercitarasa murah, terutama yang datang dari Tiongkok.

Kebijakan anyar yang dikeluarkan oleh Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) Malaysia ini langsung menyasar kendaraan listrik berbasis baterai yang diimpor secara utuh atau completely built-up (CBU). Aturan tersebut menetapkan dua syarat utama yang wajib dipenuhi: nilai cost, insurance, and freight (CIF) minimal RM200.000 atau setara sekitar Rp882 juta, serta tenaga motor listrik paling rendah 180 kW (sekitar 241 daya kuda).

Nilai CIF sendiri merupakan harga kendaraan sebelum dikenakan pajak dan biaya distribusi. Artinya, dengan batas bawah RM200.000, harga jual kepada konsumen akhir bisa melonjak jauh lebih tinggi. Langkah ini secara langsung menghantam mobil-mobil listrik dengan banderol ekonomis yang selama ini gencar dipasarkan oleh pabrikan China seperti BYD, Chery, Omoda, hingga Zeekr.

“Kebijakan ini dirancang bukan untuk menutup pasar, tetapi untuk mendorong investasi produksi lokal. Pemerintah ingin memastikan bahwa kehadiran EV di Malaysia turut menggerakkan industri dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja,” ujar sumber internal MITI yang enggan disebutkan namanya, seperti dilaporkan oleh kontributor Beritaseputar.com.

Saat ini, model seperti BYD Atto 2, Omoda E5, dan Chery eQ1 menjadi primadona di kelas EV terjangkau Malaysia. Dengan spesifikasi yang kerap berada di bawah ambang baru, model-model tersebut diprediksi tidak lagi bisa diimpor secara CBU setelah Juli 2026. Pabrikan yang ingin tetap eksis di Malaysia mau tidak mau harus mempertimbangkan perakitan lokal (CKD) atau mengganti model yang memenuhi persyaratan teknis.

Dampak kebijakan ini juga akan terasa di negara tetangga. Indonesia misalnya, yang saat ini masih membuka lebar keran impor EV murah asal China, berpotensi menjadi pasar pelarian (spillover) bagi pabrikan yang kesulitan menembus Malaysia. Namun, bukan tidak mungkin negara-negara lain di kawasan akan mengikuti jejak Malaysia jika mereka ingin melindungi dan mengembangkan rantai pasok kendaraan listrik di dalam negeri.

Pergeseran Strategi Pabrikan

Beberapa pabrikan besar sebelumnya sudah mulai mengantisipasi aturan ini. BYD, misalnya, telah menjajaki pembangunan pabrik perakitan di Malaysia, sementara Chery dan Zeekr juga tak mau ketinggalan menyusun rencana investasi. Namun, realisasi pabrik baru membutuhkan waktu, sementara batas waktu Juli 2026 terus mendekat.

Berdasarkan data yang dihimpun redaksi Beritaseputar.com, pangsa pasar EV di Malaysia pada tahun 2025 ditopang lebih dari 60 persen oleh merek-merek China. Jika aturan baru ini berjalan tanpa pengecualian, lanskap penjualan bisa berubah drastis. Konsumen yang selama ini dimanjakan dengan harga kompetitif mungkin harus merogoh kocek lebih dalam, atau menunggu hingga pabrikan benar-benar memproduksi EV secara lokal dengan harga yang lebih bersaing.

“Kami berkomitmen untuk terus berinvestasi di Malaysia. Aturan ini tidak mengejutkan karena pemerintah sudah memberi sinyal sejak awal tahun. Kami sedang menyelesaikan rencana CKD untuk beberapa model andalan,” kata perwakilan BYD Malaysia dalam sambungan telepon dengan tim redaksi.

Selain aspek harga dan tenaga, MITI juga dikabarkan akan memperketat persyaratan purna jual, termasuk kewajiban menyediakan suku cadang dan layanan servis yang memadai. Hal ini menambah beban administratif bagi pemain baru yang selama ini mengandalkan volume penjualan dengan margin tipis.

Meski kebijakan ini bersifat protektif, kalangan industri menilai langkah Malaysia sudah tepat untuk menghindari ketergantungan jangka panjang pada satu sumber impor. Di sisi lain, tantangan besar menanti: bagaimana memastikan harga EV produksi lokal tetap bersaing tanpa subsidi besar, sekaligus menjaga target transisi energi bersih yang sudah dicanangkan pemerintah.

Dengan waktu kurang dari satu tahun menuju implementasi, semua mata kini tertuju pada respons para raksasa otomotif China. Apakah mereka akan menelan biaya investasi besar-besaran, atau justru mencari celah lewat kerjasama dengan pemain lokal? Yang jelas, bagi konsumen Malaysia, era mobil listrik asal China yang super murah akan segera berakhir.

(Laporan redaksi Beritaseputar.com)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User