Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

KUANSING — KPK Ungkap Amplop Bupati untuk Menhut Raja Juli Berisi Dolar Singapura

Pagi itu, Jumat kelabu di sudut Kuantan Singingi, seorang petani paruh baya menatap kosong secarik kertas tanda terima yang sudah lusuh. Sebut saja namanya

Jul 08, 2026 - 15:43
0 0

Pagi itu, Jumat kelabu di sudut Kuantan Singingi, seorang petani paruh baya menatap kosong secarik kertas tanda terima yang sudah lusuh. Sebut saja namanya Pak Zul, anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Harapan Tani. Ia masih ingat betul ketika setahun lalu pengurus koperasi meminta "iuran percepatan" untuk mengurus izin pelepasan kawasan hutan. Uang Rp 2,5 juta—hasil menjual seekor sapi kecil—ia serahkan dengan penuh harap. "Kami hanya ingin lahan garapan yang jelas statusnya, supaya anak cucu bisa bertani dengan tenang," ujarnya lirih saat kami temui di teras rumah panggungnya yang dikelilingi kebun kelapa sawit milik warga. Kini harapan itu ternodai oleh kenyataan pahit: uang para petani yang susah payah dikumpulkan diduga berakhir menjadi setumpuk dolar Singapura dalam amplop cokelat yang ditujukan kepada seorang menteri.

Dari Lumbung Desa ke Meja Penguasa

Kronologi yang disusun tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap aliran uang yang sangat personal, mengiris rasa keadilan para petani kecil. Berikut urutan temuan penting yang berhasil direkonstruksi:

  1. Pengumpulan Dana Petani: Sejak awal 2025, sekitar 300 petani anggota KUD di tiga kecamatan diminta menyetor dana tunai dengan iming-iming percepatan penerbitan izin pelepasan kawasan hutan untuk lahan garapan. Total uang yang terkumpul diduga mencapai Rp 1,2 miliar.
  2. Perjalanan Uang ke Perantara: Dana tersebut diserahkan kepada Suhardiman, seorang tokoh yang disebut-sebut memiliki koneksi ke pejabat daerah. Ia diduga mengambil sebagian dana sebagai "uang operasional" sebelum mengemas sisanya dalam mata uang asing.
  3. Amplop Bupati: Menjelang pertemuan antara Bupati Kuansing dengan Menteri Kehutanan Raja Juli, sejumlah dolar Singapura dimasukkan ke dalam amplop cokelat standar. Penelusuran KPK menemukan amplop tersebut di sela dokumen resmi pengurusan izin saat penggeledahan di rumah dinas salah satu pejabat daerah.
  4. Temuan KPK: Dalam operasi senyap awal pekan ini, penyidik mengamankan amplop berisi uang asing itu bersama dokumen pengajuan izin pelepasan hutan. Dari pemeriksaan awal, dolar Singapura tersebut setara dengan sekitar Rp 400 juta, nominal yang mendekati total iuran petani yang "disusutkan" di tengah jalan.

Yang memilukan bukan hanya kemungkinan uang mereka disunat, tapi juga kenyataan bahwa izin yang dijanjikan tak kunjung terbit. Sementara itu, sebagian petani terpaksa terus menggarap lahan abu-abu yang sewaktu-waktu bisa digusur. "Kami seperti menabung di celengan kosong. Uang hilang, izin tak ada, tinggal cemas," keluh seorang petani perempuan yang enggan disebut namanya.

Luka Baru di Tengah Hutan Riau

Bagi masyarakat Kuansing, kasus ini bukan hanya tentang nominal uang yang mengalir. Lebih dari itu, ia mencerminkan masih dalamnya jurang antara penguasa dan wong cilik yang memimpikan kepastian hukum atas tanah yang mereka hidupi puluhan tahun. Sosiolog pedesaan dari Universitas Riau, Dr. Marlina (nama rekaan), menjelaskan bahwa praktik semacam ini bukan kali pertama. "Masyarakat adat dan petani kecil sudah terbiasa menjadi korban dari rantai birokrasi yang dikapitalisasi. Mirisnya, istilah 'uang pelicin' telah menjadi rahasia umum yang dianggap wajar dalam tata kelola hutan," tuturnya.

KPK kini tengah mendalami peran masing-masing pihak, termasuk apakah Bupati Kuansing hanya bertindak sebagai kurir atau justru ikut menikmati aliran dana. Menteri Kehutanan Raja Juli belum memberikan pernyataan resmi, namun staf khususnya menyebut "menteri selalu menolak praktik transaksional dan menghormati proses hukum". Namun, amplop dolar Singapura yang terbungkus rapi itu sudah cukup untuk membakar kepercayaan publik, terutama mata penuh tanya para petani yang merelakan ternak dan tabungan untuk mimpi yang ternyata dibajak.

Di penghujung sore, Pak Zul memandangi rimbun pohon sawit di kejauhan. "Kalau memang uang kami jadi suap, kami malu. Kami cuma ingin jadi petani jujur yang tanahnya diakui negara," katanya. Hutan Riau tetap berdiri, namun luka baru menganga di hati mereka yang menghidupinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User