Aug 29, 2026
Hukum

Krisis Air Bersih Meluas, PAM Jaya Imbau Warga Hemat Air

Jakarta – Direktur Utama Perumda Air Minum Jaya (PAM Jaya) Arif Nasrudin menegaskan bahwa penghematan air menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis air b

Krisis Air Bersih Meluas, PAM Jaya Imbau Warga Hemat Air

Jakarta – Direktur Utama Perumda Air Minum Jaya (PAM Jaya) Arif Nasrudin menegaskan bahwa penghematan air menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis air bersih yang kian meluas di ibu kota. Pernyataan tersebut disampaikan Arif dalam dialog interaktif yang dikutip dari kanal YouTube RRI Pro3, Jumat, 28 Agustus 2026.

"Kebiasaan yang sangat kecil, contohnya ketika orang mau sikat gigi biasanya kerannya dinyalakan terus. Padahal ketika sikat gigi kerannya dimatikan tidak apa-apa," kata Arif kepada publik.

Menurut Arif, perubahan perilaku sederhana di tingkat rumah tangga dapat berkontribusi besar dalam menjaga ketersediaan air bersih. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi eksploitasi air tanah secara mandiri. Pemanfaatan jaringan perpipaan resmi dinilai mampu membantu menjaga keberlanjutan sumber daya air dalam jangka panjang.

Pasokan Turun 25 Persen, Konsumsi Warga Masih Tinggi

Arif mengungkapkan bahwa pasokan air bersih ke rumah warga mengalami penurunan hingga 25 persen dari kapasitas normal. Kondisi tersebut diperparah oleh pola konsumsi masyarakat perkotaan yang masih tinggi dan cenderung boros dalam memanfaatkan air setiap hari.

Penurunan pasokan itu terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan air seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi Jakarta. Situasi ini menempatkan operator penyedia air dan pemerintah daerah dalam tekanan untuk terus menjaga produksi sekaligus memastikan keberlanjutan sumber baku air di tengah musim kemarau yang berkepanjangan.

Arif mencontohkan sejumlah kebiasaan kecil yang jika dilakukan serentak oleh jutaan warga akan berdampak signifikan, seperti mematikan keran saat menggosok gigi, menggunakan ember ketika mencuci kendaraan, serta memperbaiki kebocoran pipa rumah tangga yang kerap diabaikan.

Eksploitasi Air Tanah Picu Amblesan Tanah Jakarta

Persoalan air perkotaan tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya debit air permukaan. Pengambilan air tanah secara masif oleh rumah tangga maupun gedung-gedung perkantoran turut memicu persoalan serius berupa amblesan tanah di Jakarta.

Fenomena penurunan muka tanah itu dalam jangka panjang berpotensi memperparah banjir rob, merusak jaringan infrastruktur, hingga mengancam keselamatan bangunan. Karena itu, peralihan dari air tanah menuju layanan perpipaan resmi dinilai menjadi langkah strategis yang harus dipercepat pemerintah bersama operator.

Para pengamat lingkungan menilai pengelolaan air perkotaan tidak bisa hanya mengandalkan produksi semata. Dibutuhkan sinergi antara konservasi sumber air, efisiensi distribusi, penegakan aturan pengambilan air tanah, dan perubahan perilaku konsumen agar krisis tidak semakin dalam.

Peneliti UGM: Kondisi Kian Mengkhawatirkan

Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS Universitas Gadjah Mada (UGM) Hatma Suryatmojo menilai kondisi krisis air bersih yang melanda Jakarta semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, tekanan terhadap sumber daya air akan terus meningkat apabila tidak diimbangi langkah konservasi yang serius dari berbagai pihak, baik pemerintah, operator, maupun masyarakat.

Hatma menekankan bahwa keberlanjutan air bukan semata tanggung jawab penyedia layanan, tetapi juga bergantung pada kesehatan daerah tangkapan air dan perilaku harian setiap warga. Pandangan senada disampaikan sejumlah pegiat lingkungan yang mendorong edukasi hemat air sejak dini di sekolah dan lingkungan permukiman.

AspekKondisiDampak
Pasokan air bersihTurun 25% dari kapasitas normalGangguan distribusi ke rumah warga
Konsumsi air perkotaanMasih tinggiMemperparah defisit ketersediaan air
Pengambilan air tanahMasifAmblesan tanah dan banjir rob
Kebiasaan rumah tanggaKeran dibiarkan menyalaPemborosan air harian

Langkah Konkret yang Dibutuhkan

Menghadapi situasi ini, PAM Jaya mendorong warga untuk mulai membiasakan diri menghemat air dari hal-hal kecil. Selain mematikan keran saat sikat gigi, warga diminta menampung air hujan, memakai kembali air bekas cucian untuk menyiram tanaman, serta melaporkan kebocoran pipa di lingkungan tempat tinggal.

Di sisi lain, pemerintah perlu mempercepat perluasan jaringan perpipaan, menertibkan pengambilan air tanah ilegal, dan merevitalisasi waduk serta sungai sebagai sumber baku air. Dengan pasokan yang menurun 25 persen dan musim kemarau yang masih berlangsung, kolaborasi seluruh elemen menjadi satu-satunya jalan agar krisis air bersih tidak terus meluas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User