Haul Akbar Al Marom, Pendorong Ekonomi Warga Grobogan
Di bawah langit yang dihiasi ribuan sanad doa, suasana di sekitar kompleks Al Marom pada hari itu berdenyut pelan namun pasti. Ratusan umat datang tak hanya untuk menghidupkan tradisi keagamaan, tetap...
Di bawah langit yang dihiasi ribuan sanad doa, suasana di sekitar kompleks Al Marom pada hari itu berdenyut pelan namun pasti. Ratusan umat datang tak hanya untuk menghidupkan tradisi keagamaan, tetapi juga menyambut rezeki yang melekat di setiap sudut kegiatan. Di antara lantunan puji-pujian dan aroma dupa, tercatat kisah tentang perputaran uang yang diam-diam menebar berkah bagi warga Grobogan.
Hajatan Rakyat, Ladang Rezeki Masyarakat Kecil
Puluhan tenda berdiri rapi di sepanjang jalan menuju lokasi utama. Bukan hanya panggung pengajian, melainkan juga deretan lapak yang menawarkan aneka hidangan hingga cendera mata Islami. Seorang penjual sate, Slamet (47), mengaku mampu mengantongi omzet lima kali lipat dari hari-hari biasa. "Rasanya seperti dapat bonus lebaran. Stok seribu tusuk habis sebelum zuhur," kisahnya sembari melipat uang receh yang baru saja ia terima dari pembeli.
Fenomena serupa dialami oleh Siti Aminah, penjual nasi pecel khas Grobogan. Dalam sekejap, dagangannya bersih tanpa sisa. Ia bahkan harus memanggil kerabatnya untuk membantu memasak di dapur umum darurat yang didirikan oleh panitia. "Kalau acara seperti ini, hati terasa senang. Bukan hanya untung uang, tapi juga bisa ikut memuliakan tamu-tamu para habib dan kiai," tuturnya sambil melemparkan senyum kepada pengunjung yang terus mengalir.
Perputaran ekonomi rakyat itu tidak hanya berhenti pada santapan. Jasa parkir dadakan, penitipan sandal, hingga angkutan ojek pun turut terserap. Muda-mudi desa memanfaatkan momen ini untuk menjajakan minuman dingin dan kopi keliling menggunakan gerobak sederhana. Bagi mereka, haul adalah titik terang di tengah penghasilan harian yang kadang seret.
Gus Yasin: Dagangan Laris, Semua Kebagian Berkah
Di sela-sela padatnya kunjungan, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen hadir dan menyempatkan diri menyapa para pedagang. Dengan penuh keakraban, ia menyusuri deretan lapak, sesekali berhenti untuk bertanya kabar dan menghitung pemasukan mereka. "Dagangan laris semua," komentar Gus Yasin, panggilan akrabnya, ketika melihat hampir tak ada sisa barang jualan.
Bagi Gus Yasin, fenomena semacam ini adalah bukti bahwa kegiatan keagamaan bukan sekadar ritual spiritual, melainkan juga pengungkit ekonomi kerakyatan yang konkret. "Lihat saja sendiri, dari jualan kopi sampai sate untungnya naik berkali-kali lipat. Ini bukan teori, tapi kenyataan yang bisa langsung dirasakan oleh wong cilik," ujarnya di hadapan beberapa tokoh masyarakat setempat.
Ia pun mendorong agar pemerintah daerah dan panitia keagamaan terus mengintegrasikan perayaan haul dengan program pemberdayaan UMKM. "Kalau bisa tahun depan, kita petakan titik-titik yang bisa dimanfaatkan pedagang lokal lebih banyak. Jangan sampai mereka kalah dengan penjual dari luar kota," imbuhnya memberi catatan.
Lebih dari Sekedar Ziarah: Dampak Ekonomi Berlapis
Melihat lebih jauh, Haul Akbar Al Marom tidak hanya menghidupkan lapak-lapak kecil. Hotel-hotel di sekitar pusat Grobogan melaporkan tingkat okupansi penuh sepekan sebelum acara. Bahkan, warga pun menyulap bagian depan rumahnya menjadi kamar penginapan darurat bagi peziarah yang tak kebagian tempat. Tarif yang dipatok tetap ramah di kantong, namun cukup untuk membeli beras beberapa kilogram.
Transportasi lokal ikut tergeliat. Supir angkutan pedesaan menyetor pendapatan tambahan yang lumayan. Mereka dengan sabar memandu para tamu dari luar kota yang belum akrab dengan liku-liku jalan menuju Al Marom. "Penumpang naik dua kali lipat. Biasanya sepi, sekarang tiap jam ada saja yang naik," kata Joko, sopir angkot rute Grobogan–Purwodadi, dengan suara berbinar.
Di balik semua itu, warga tetap menjaga esensi haul sebagai ajang memperkuat ikatan spiritual dan meneladani leluhur yang dimuliakan. Namun, mereka juga menyadari bahwa setiap orang yang datang membawa selembar cerita kemanusiaan, termasuk cerita tentang perut yang kenyang dan dompet yang terisi. Perpaduan ini menjadikan haul bukan semata-mata milik langit, melainkan juga kidung kehidupan di bumi yang saling menopang.
Akhir acara, ketika para pedagang mulai melipat tenda dan menghitung laba, sebaris doa syukur tak lupa mereka lantunkan. Bukan hanya untuk arwah suci yang di-haul-i, melainkan juga untuk anugerah ekonomi yang terus berkesinambungan. Haul Akbar Al Marom, dengan segala kemeriahannya, telah mengisahkan bahwa keberkahan sejati adalah ketika langit dan tanah, iman dan penghidupan, berpadu dalam satu napas yang sama.
Baca juga:
Comments (0)