Kim Jae-joong Jadi Dukun di The Shrine, Selidiki Mahasiswa Hilang di Kuil

Di tengah remang cahaya lilin yang menari-nari di altar tua, sesosok pria dengan jubah putih berlumur dupa mulai merapal mantra. Matanya terpejam, tapi ketegangan menyelinap di setiap ujung jarinya. K...

Jul 12, 2026 - 10:57
0 0
Kim Jae-joong Jadi Dukun di The Shrine, Selidiki Mahasiswa Hilang di Kuil

Di tengah remang cahaya lilin yang menari-nari di altar tua, sesosok pria dengan jubah putih berlumur dupa mulai merapal mantra. Matanya terpejam, tapi ketegangan menyelinap di setiap ujung jarinya. Kim Jae-joong, yang selama ini dikenal sebagai penyanyi dan ikon K-pop, berdiri bukan di atas panggung—melainkan di jantung sebuah kuil yang menyimpan gelap misteri. Di sinilah cerita The Shrine dimulai: bukan dengan teror yang melompat tiba-tiba, melainkan dengan keheningan mencekam yang memeluk raibnya seorang mahasiswa.

Melampaui Panggung, Menjelma Dukun

Perjalanan Kim Jae-joong memerankan sosok dukun bukanlah lompatan instan. Di balik layar, aktor kelahiran 1986 itu menghabiskan berminggu-minggu mempelajari ritual-ritual tradisional Korea, duduk bersila bersama para praktisi spiritual, bahkan menjalani puasa bicara demi menghayati dimensi batin tokohnya. "Saya ingin penonton melihat bahwa apa yang tampak mistis sebenarnya sangat manusiawi," ujarnya, suaranya yang lembut seolah masih membawa gaung mantra. Bagi Jae-joong, ini adalah kisah tentang seseorang yang dianggap berbeda oleh masyarakat, namun justru di pundaknya beban pencarian kebenaran diletakkan. Di tengah dinginnya set kuil yang dibangun khusus, ia sering terlihat berdiri mematung seusai pengambilan gambar—masih larut dalam energi karakternya.

Ketika Mahasiswa Menghilang di Antara Dupa

Plot The Shrine mengisahkan sekelompok mahasiswa yang melakukan kunjungan riset ke sebuah kuil terpencil di pegunungan. Apa yang bermula sebagai proyek akademis berubah menjadi petaka saat salah satu dari mereka lenyap tanpa jejak. Polisi menyelidiki, logika buntu. Di titik itulah sosok dukun yang diperankan Jae-joong dipanggil—bukan untuk mengusir setan, melainkan untuk membaca fragmentasi kenangan yang masih mengambang di antara dinding-dinding suci. Sutradara film ini, dalam keterangannya, menyebut bahwa The Shrine lebih dari sekadar thriller supernatural. "Kami ingin menggugah rasa kehilangan yang nyata, yang mungkin pernah dirasakan siapa pun ketika orang tercinta hilang tanpa kepastian," jelasnya. Adegan-adegan di dalam kuil pun dibangun dengan tempo lambat, membiarkan penonton meresapi setiap sudut ruang yang menyimpan rahasia.

Yang menarik, pendekatan film ini tidak bertumpu pada kejutan-kejutan seram, melainkan pada drama psikologis yang menyentuh. Kamera sering kali menyorot raut wajah Jae-joong yang sedang bergulat dengan penglihatan-penglihatan tak kasatmata. Ada momen mengharukan ketika sang dukun menemukan secarik kertas berisi coretan mahasiswa yang hilang—bukan mantra, melainkan pesan singkat untuk ibunya. Air mata Jae-joong dalam adegan itu disebut-sebut sebagai salah satu yang paling jujur sepanjang kariernya.

Inspirasi dari Luka Kolektif

Di balik pembuatan film ini, tersimpan keinginan untuk merangkul luka kolektif yang sering dipendam. Sosok dukun, yang kerap dipandang sebelah mata atau bahkan dicap sebagai penipu, dalam The Shrine justru menjadi jembatan antara dunia nyata dan realitas yang tak terjelaskan. "Karakter ini berjuang melawan skeptisisme, termasuk dari dirinya sendiri," tutur Jae-joong. "Tapi justru dari keraguan itulah kekuatannya lahir." Dalam satu adegan, sang dukun dengan rendah hati meminta maaf kepada arwah yang gelisah, mengakui bahwa ia hanyalah manusia biasa yang mencoba mendengarkan. Dialog sederhana itu, meski pendek, menjadi inti dari keseluruhan cerita: bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, melainkan tetap melangkah meski ketakutan menyelimuti.

Penggambaran kuil sebagai ruang liminal—antara hidup dan mati, ingatan dan lupa—dieksekusi dengan artistik yang memukau. Asap dupa yang membubung, bunyi gemericik air suci, serta langkah-langkah kecil di lantai kayu menjadi orkestrasi sunyi yang mengiringi pencarian. Para kru mengisahkan, selama syuting berlangsung, mereka beberapa kali merasakan kehadiran yang tidak bisa dijelaskan. Jae-joong sendiri mengaku sempat terbawa mimpi yang sama berulang kali, seolah karakter dukun itu benar-benar meresap ke dalam tidurnya. "Saya terbangun dengan perasaan bahwa ada yang harus saya selesaikan," katanya. Bagi seorang aktor, pengalaman seperti itu adalah berkah sekaligus tantangan yang menguras emosional.

Bangkit dari Stigma, Merayakan Kemanusiaan

Lebih dari sekadar hiburan, The Shrine menawarkan permenungan tentang bagaimana stigma seringkali menyelimuti hal-hal yang tidak kita pahami. Dukun dalam film ini bukanlah tokoh mahatahu; ia adalah individu yang penuh luka, yang memilih untuk memeluk ketidakpastian demi secercah harapan. Kim Jae-joong berhasil menyampaikan kompleksitas itu dengan gestur-gestur kecil: tatapan mata yang kosong saat menerima wahyu, atau senyum getir yang muncul setelah ritual panjang usai. "Saya ingin penonton pulang dengan keyakinan bahwa setiap kehilangan menyimpan makna, dan setiap pencarian layak dihargai," pesannya.

Film ini juga menyisipkan kritik halus terhadap masyarakat modern yang sering abai terhadap tradisi dan luka batin. Ketika mahasiswa yang hilang akhirnya ditemukan—bukan dalam wujud fisik yang utuh, melainkan dalam butiran kenangan yang dikumpulkan sang dukun—penonton diajak untuk menerima bahwa tidak semua misteri harus terpecahkan, kadang cukup diikhlaskan. The Shrine dengan demikian menjadi kisah tentang perjalanan batin, tentang bangkit dari keterpurukan, dan tentang arti mendengarkan suara-suara yang sering terabaikan. Bagi para penggemar Kim Jae-joong, film ini adalah pembuktian bahwa batas antara panggung musik dan altar spiritual bisa dijembatani dengan hati yang tulus. Dan bagi penonton umum, ini adalah undangan untuk duduk sejenak, menyelami sunyi, dan merenungkan betapa mahalnya arti sebuah kehadiran.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User