Kejayaan Nvidia di Industri AI Mulai Runtuh, Saham Anjlok 15 Persen
Di balik hiruk-pikuk lantai bursa Wall Street, ada kisah yang lebih menyentuh dari sekadar angka. Nvidia, perusahaan yang namanya identik dengan masa depan
Di balik hiruk-pikuk lantai bursa Wall Street, ada kisah yang lebih menyentuh dari sekadar angka. Nvidia, perusahaan yang namanya identik dengan masa depan kecerdasan buatan (AI), mendadak tergelincir. Sahamnya ambles 15% dalam sepekan terakhir, seolah menjadi panggung keheningan setelah tepuk tangan yang begitu gemuruh.
Sinyal Gelap dari Silicon Valley
Bagi para investor awal, Nvidia adalah mimpi yang menjadi nyata. Sahamnya sempat melesat lebih dari 220% dalam dua tahun terakhir. Namun, sejak awal kuartal ini, grafik hijau itu perlahan berubah menjadi merah. Volume penjualan turun, proyeksi pendapatan direvisi, dan yang paling menyakitkan: kapitalisasi pasar Nvidia menyusut hingga US$280 miliar dalam waktu kurang dari 10 hari perdagangan.
“Saya sudah 12 tahun memegang saham Nvidia. Rasanya seperti menonton pahlawan favorit Anda terjatuh di babak final,” ungkap Damar Wicaksono (41), seorang analis pasar modal yang juga investor ritel di Jakarta. “Tapi ini bukan akhir, ini mungkin awal cerita baru.”
Kejatuhan ini tidak terjadi tiba-tiba. Ada sejumlah pemicu yang perlahan mengikis fondasi kejayaan perusahaan yang dipimpin Jensen Huang tersebut.
Tiga Faktor yang Menggoyang Tahta
Pertama, permintaan chip AI mulai melandai. Setelah demam pelatihan model bahasa besar (LLM) mencapai puncaknya pada 2024-2025, kini fase beralih ke inferensi atau penerapan model. Ironisnya, fase ini justru lebih banyak membutuhkan chip hemat energi yang diproduksi para pesaing.
Kedua, embargo teknologi ke Tiongkok yang kian ketat benar-benar memukul jalur distribusi Nvidia. Meski perusahaan meluncurkan chip khusus untuk pasar Tiongkok, tetap saja terjadi penurunan pengiriman hingga 30%.
Ketiga, kompetitor seperti AMD, Intel, dan pemain baru asal Tiongkok mulai agresif. Mereka tak lagi sekadar membuntuti, tapi mulai menyalip dengan harga yang lebih kompetitif dan efisiensi daya yang lebih baik. AMD bahkan mencatat kenaikan saham 8% di periode yang sama saat Nvidia terpuruk.
Pasar Menghukum Ekspektasi yang Terlalu Tinggi
Sebenarnya, Nvidia masih membukukan pendapatan bersih US$35 miliar di kuartal lalu. Namun, pasar tidak lagi memberi ampun terhadap pertumbuhan yang "hanya" 12% secara tahunan. Angka ini jauh di bawah ekspektasi analis yang mematok pertumbuhan 25%. Ekspektasi yang melambung tinggi itulah yang menjadi bumerang.
Di sisi lain, investor institusi mulai memindahkan portofolio mereka ke sektor energi hijau dan infrastruktur digital. Dana kelolaan ARK Invest milik Cathie Wood bahkan diketahui telah melepas 2,1 juta lembar saham Nvidia sepanjang Februari 2026.
Rina Mulyani, seorang penasihat keuangan independen, memberikan perspektif yang lebih manusiawi. “Banyak klien saya yang tadinya pamer untung besar dari Nvidia. Sekarang mereka terdiam. Tapi saya bilang, pasar selalu begitu. Yang penting jangan menaruh semua telur di satu keranjang, meskipun keranjang itu dibuat oleh Nvidia.”
Apa Selanjutnya untuk Nvidia?
Analis dari berbagai rumah investasi masih terbelah. Goldman Sachs mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga US$950 per saham, turun dari sebelumnya US$1.100. Sementara Morgan Stanley menurunkan peringkat menjadi equal-weight. Di balik semua riuh itu, Nvidia bersiap meluncurkan arsitektur baru Rubin pada akhir tahun, yang diyakini bisa menjadi kunci kebangkitan kedua.
Yang pasti, kejayaan Nvidia di era AI sedang diuji. Bukan berarti runtuh sepenuhnya, tetapi kita menyaksikan bagaimana sebuah raksasa teknologi harus beradaptasi dengan realitas baru. Seperti kata Damar, “Mungkin ini saatnya Nvidia membuktikan bahwa mereka bukan hanya jagoan di masa booming, tapi juga petarung di masa sulit.”
[TAGS]: Nvidia, Saham, Kecerdasan Buatan, Pesaing, Pasar Modal [SOCIAL_TWEET]: Era kejayaan Nvidia di AI mulai goyah. Satu pekan, sahamnya anjlok 15% dan kapitalisasi pasar susut ratusan miliar dolar. Pesaing mulai menyalip. Mampukah Nvidia bangkit? Baca kisah lengkapnya. #Nvidia #Saham #AI #WallStreet [SOCIAL_FB]: Nvidia, raksasa chip yang sempat tak tersentuh, kini menghadapi realita pahit. Saham terjun 15% dan pesaing mulai mengikis dominasinya. Apakah ini akhir dari legenda AI, atau justru awal dari kebangkitan kedua? Simak cerita di balik angka. [SOCIAL_TG]: 📉 Kejayaan Nvidia di Era AI Mulai Runtuh? Saham turun 15%, investor panik. Tapi ini bukan akhir. Baca selengkapnya di Beritaseputar. [SOCIAL_THREADS]: Nvidia yang dulu dipuja-puja di bursa, sekarang lagi diuji banget. Sahamnya turun 15% dan banyak yang mulai panik. Tapi mungkin ini cuma jeda napas sebelum lari kencang lagi? 🤔
Comments (0)