Kebakaran TPA Jatiwaringin Masuki Hari Kedelapan, Petugas Masih Berjuang
TANGERANG — Memasuki hari kedelapan, kobaran api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, masih belum sepenuhnya padam.
TANGERANG — Memasuki hari kedelapan, kobaran api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, masih belum sepenuhnya padam. Kepulan asap tebal terus membumbung tinggi dari tumpukan sampah yang terbakar, mengganggu aktivitas warga dan memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan. Hingga Selasa (07/07/2026), petugas gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman dengan berbagai metode.
Kronologi dan Penyebab
Kebakaran pertama kali dilaporkan pada Senin (30/6) siang. Berdasarkan penyelidikan awal, diduga api berasal dari reaksi gas metana yang terakumulasi di dalam timbunan sampah akibat cuaca panas ekstrem beberapa hari terakhir. Dinas Lingkungan Hidup menyebut suhu permukaan sampah mencapai lebih dari 60 derajat Celsius, memicu swabakar.
Luas lahan yang terdampak diperkirakan telah mencapai 2,5 hektare dari total 15 hektare area TPA. Angin kencang turut mempercepat perluasan api ke zona lain, termasuk area penimbunan sampah baru yang lebih kering.
Upaya Pemadaman
Ratusan personel dari pemadam kebakaran, BPBD, TNI, dan relawan dikerahkan. Strategi yang digunakan meliputi penyekatan titik api dengan alat berat, penyiraman air menggunakan 10 unit mobil pemadam, serta water bombing menggunakan helikopter yang menyedot air dari Danau Cipondoh. “Kami terus berupaya maksimal, namun karakter api di timbunan sampah sangat sulit dipadamkan karena berada di lapisan dalam,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Tangerang.
“Kendala utama adalah api bawah permukaan yang terus menyala meski bagian atas sudah basah. Kami harus membongkar dan menyiram terus-menerus,” jelas Komandan Regu Pemadam, Suryadi.
Sejak hari ketiga, tim memfokuskan pada pemadaman di titik-titik akses warga untuk mengurangi paparan asap. Pemerintah daerah juga mulai mengevakuasi sampah yang belum terbakar ke lokasi sementara.
Dampak pada Warga dan Lingkungan
Asap pekat mengepung permukiman di radius 2 kilometer. Setidaknya 150 warga dari dua desa terpaksa mengungsi ke posko kesehatan akibat keluhan sesak napas dan iritasi mata. Dinas Kesehatan mendirikan tenda oksigen gratis dan membagikan masker N95. Kualitas udara di sekitar TPA tercatat pada level berbahaya dengan indeks ISPU di atas 300.
- 150+ warga mengungsi sementara
- 2 sekolah diliburkan selama 3 hari
- Peningkatan kasus ISPA sebesar 25% di Puskesmas Jatiwaringin
- Potensi pencemaran air tanah akibat meresapnya air pemadam ke sumur warga
Pemerhati lingkungan menyoroti ancaman jangka panjang dari residu pembakaran yang mengandung dioksin dan furan. Mereka mendesak evaluasi total manajemen TPA yang selama ini menggunakan sistem open dumping.
Langkah Selanjutnya
Pemkab Tangerang mengalokasikan anggaran darurat sebesar Rp5 miliar untuk penanganan dan penyelidikan. Menteri Lingkungan Hidup dijadwalkan meninjau lokasi pada Rabu besok. Sementara itu, tim teknis tengah mempertimbangkan penyuntikan air melalui pipa ke kedalaman 10 meter untuk memadamkan api bawah permukaan.
Di sisi lain, warga berharap kejelasan soal relokasi TPA yang sudah direncanakan sejak 2023. “Setiap kemarau pasti begini. Kami ingin solusi permanen, bukan sekadar pemadaman,” tutur Ketua RW 05.
[SOCIAL_TWEET]: Hari ke-8 kebakaran TPA Jatiwaringin: asap masih mengepul, 150 warga mengungsi. Cuaca panas diduga picu metana terbakar. #TPAJatiwaringin #Kebakaran #Tangerang[SOCIAL_TG]: 🔥 Hari ke-8, petugas masih berjibaku padamkan api di TPA Jatiwaringin, Tangerang. Asap tebal, 150 warga mengungsi, ISPA meningkat. Semoga segera selesai.
Comments (0)