Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Kampus dan Kenangan: Ketika Gedung Fakultas Ushuluddin Menjadi Saksi Bisu Perjalanan Spiritual Mahasiswa

Ciputat, Beritaseputar — Hawa sejuk langsung menyergap siapa pun yang melangkah memasuki pelataran Gedung Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Syarif Hidayatullah

Jul 08, 2026 - 06:25
0 0
Kampus dan Kenangan: Ketika Gedung Fakultas Ushuluddin Menjadi Saksi Bisu Perjalanan Spiritual Mahasiswa
Ciputat, Beritaseputar — Hawa sejuk langsung menyergap siapa pun yang melangkah memasuki pelataran Gedung Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bangunan bernuansa putih dan biru itu tak sekadar tempat kuliah. Bagi ribuan mahasiswa yang pernah singgah, gedung ini adalah rumah kedua—tempat pikiran-pikiran kritis tentang ketuhanan dan kemanusiaan bermula.

Ahmad, mahasiswa semester akhir Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, duduk bersila di selasar lantai dua. Matanya menerawang ke arah taman kecil di halaman depan, tempat dulu ia sering berdebat dengan kawan-kawannya tentang makna hidup. "Saya datang ke sini tahun 2021, masih pandemi. Gedungnya sepi, tapi justru dari kesunyian itu saya belajar banyak," ujarnya, sembari tersenyum mengenang.

Gedung FU bukan hanya ruang belajar. Ia seperti kapsul waktu yang menyimpan ribuan cerita—diskusi larut malam di musala kecil, gelak tawa di kantin yang legendaris dengan kopi tubruknya, hingga tangis haru saat ujian akhir tiba. Bagi banyak orang, gedung ini justru mengajarkan bahwa ilmu agama tidak melulu soal teks, melainkan soal rasa.

Lebih dari Sekadar Ruang Kuliah

Dosen senior Fakultas Ushuluddin, Prof. Asep, menyebut gedung ini sebagai "laboratorium jiwa". Menurutnya, desain arsitekturnya yang terbuka dengan banyak ventilasi seolah menjadi simbol keterbukaan ilmu ushuluddin itu sendiri. "Ilmu ini mengajak kita berpikir mendalam, dan gedung ini mendukung itu. Mahasiswa butuh ruang yang tenang untuk berdialog dengan dirinya sendiri," ucapnya saat ditemui di ruang kerjanya.

"Gedung ini seperti kakek tua yang selalu punya cerita baru setiap kali kita datang. Ia menyaksikan kami jatuh bangun memahami teks-teks suci, lalu menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari." — Nisa, alumni Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Namun, gedung ini juga menyimpan ironi. Ketika hujan deras mengguyur Ciputat, beberapa sudutnya bocor. Genangan air kerap muncul di koridor. Meski demikian, civitas akademika memakluminya—bagi mereka, keterbatasan itu justru mengajarkan arti kesederhanaan.

Di balik dinding-dindingnya, lahir para pemikir dan praktisi yang kini tersebar di berbagai penjuru negeri. Ada yang menjadi akademisi, peneliti, hingga aktivis sosial. Mereka semua membawa sepotong ingatan tentang gedung yang pernah menjadi panggung intelektual mereka.

Pandemi dan Kebangkitan Kembali

Pandemi COVID-19 sempat membuat gedung ini "tidur panjang". Hampir dua tahun, koridor-koridornya lengang. Hanya suara satpam yang memecah keheningan. Namun, saat perkuliahan luring kembali dimulai, gedung ini bangkit. Hiruk-pikuk mahasiswa kembali mewarnai hari-harinya—seperti tak pernah ada jeda panjang.

Kepala Bagian Umum FU, Rahmat, mengungkapkan bahwa gedung ini mengalami renovasi ringan pasca pandemi. "Kami mengecat ulang beberapa bagian, memperbaiki fasilitas, dan menambah ruang baca. Intinya, kami ingin mahasiswa merasa betah dan kerasan," katanya.

Bagi mahasiswa baru angkatan 2025, gedung ini adalah lembaran kosong yang siap ditulis. Bagi para alumni, ia adalah buku harian yang selalu dirindukan.

Pada akhirnya, Gedung Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta bukan sekadar struktur beton. Ia adalah tempat di mana pertanyaan-pertanyaan besar tentang kehidupan menemukan jawabannya—atau justru melahirkan pertanyaan baru yang lebih dalam. Dan di sanalah, hakikat belajar yang sesungguhnya menemukan bentuknya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User