Mal Sampoong Runtuh, 502 Tewas Akibat Bos Abaikan Perbaikan
Langit Seoul pada 29 Juni 1995 tampak biasa saja, tetapi nasib ribuan orang berubah dalam sekejap. Tepat pukul 17.52 waktu setempat, Sampoong Department St
Langit Seoul pada 29 Juni 1995 tampak biasa saja, tetapi nasib ribuan orang berubah dalam sekejap. Tepat pukul 17.52 waktu setempat, Sampoong Department Store—pusat perbelanjaan termegah di Korea Selatan saat itu—runtuh dalam hitungan detik. Bangunan lima lantai yang setiap hari dipadati pengunjung itu luluh lantak, menewaskan 502 orang dan melukai lebih dari 900 lainnya. Bencana ini tidak disebabkan oleh gempa atau serangan teror, melainkan oleh kelalaian fatal sang pemilik yang menolak mengeluarkan biaya perbaikan.
Kemewahan yang Dibangun di Atas Pondasi Goyah
Sampoong Department Store awalnya dirancang sebagai gedung perkantoran empat lantai. Namun, pemiliknya, Lee Joon, memutuskan untuk mengubah fungsinya menjadi pusat perbelanjaan megah. Tanpa memperkuat struktur, ia menambahkan lantai kelima secara ilegal dan memasang atap beton yang sangat berat. Yang lebih parah, ia memerintahkan pemindahan pendingin udara raksasa ke atap, menambah beban yang semestinya tidak sanggup ditopang gedung. Sejumlah insinyur telah memperingatkan bahwa kolom penyangga mulai menunjukkan retakan sejak tahun 1993, tetapi manajemen tetap bersikeras bahwa gedung aman.
“Manajemen puncak hanya peduli pada keuntungan. Mereka menyebut perbaikan sebagai pemborosan. Kami para insinyur hanya bisa terdiam karena takut dipecat,” kenang seorang mantan staf teknik yang selamat karena tidak masuk kerja pada hari nahas itu.
Tanda Bahaya yang Diabaikan
Pada hari runtuhnya, beberapa pertanda mengerikan sebenarnya sudah muncul. Pagi harinya, petugas keamanan melaporkan adanya retakan baru pada langit-langit restoran di lantai lima. Manajer gedung memutuskan hanya menutup restoran itu saja, sementara aktivitas mal tetap berjalan normal. Ratusan orang masih berbelanja, bersantap, dan bermain. Sebuah laporan internal menyebutkan adanya getaran tidak wajar dan suara gemuruh kecil dari struktur atas, namun pengelola memilih mengabaikannya. Biaya perbaikan kolom retak diperkirakan sekitar 10 juta won, jumlah yang sebenarnya kecil dibandingkan total pendapatan mal yang mencapai miliaran won per bulan. Namun, sang pemilik menolak.
20 Detik Kehancuran Total
Menurut saksi mata, runtuhnya Sampoong terjadi dalam waktu kurang dari 20 detik. Kolom penyangga utama yang sudah lama retak tidak mampu lagi menahan beban. Atap ambles terlebih dahulu, lalu seluruh lantai di bawahnya runtuh secara progresif seperti rumah kartu. Ratusan pengunjung dan karyawan terkubur hidup-hidup. Tim penyelamat dari seluruh pelosok negeri dikerahkan, tetapi sebagian besar korban sudah tidak tertolong. Di antara 502 korban tewas, sebagian besar adalah ibu rumah tangga muda dan anak-anak yang sedang menikmati liburan sekolah.
Investigasi dan Pengadilan
Penyelidikan mengungkapkan serangkaian pelanggaran fatal dalam konstruksi dan manajemen gedung:
- Pengurangan jumlah dan ketebalan kolom penyangga dari spesifikasi awal.
- Penambahan beban atap berupa pendingin udara dan lantai tambahan tanpa izin.
- Pemalsuan dokumen inspeksi keselamatan yang dilakukan secara rutin.
- Penyuapan pejabat kota untuk meloloskan perizinan dan menutupi pelanggaran.
Lee Joon dijatuhi hukuman 7,5 tahun penjara atas dakwaan kelalaian dan korupsi. Sementara itu, sejumlah pejabat pemerintahan yang menerima suap juga turut dijebloskan ke penjara. Kendati begitu, publik Korea marah dan menganggap hukuman tersebut terlalu ringan dibandingkan dengan besarnya korban jiwa.
Warisan Kelam dan Reformasi Keamanan
Tragedi Sampoong menjadi titik balik keselamatan bangunan di Korea Selatan. Pemerintah merevisi undang-undang konstruksi dan memberlakukan inspeksi gedung secara nasional. Ratusan bangunan yang diduga memiliki struktur serupa diperiksa dan puluhan di antaranya ditutup atau diperkuat. Di lokasi runtuhan, kini berdiri apartemen mewah, tetapi sebuah monumen kecil didirikan untuk memperingati para korban yang kehilangan nyawa karena keserakahan.
Runtuhnya Sampoong Department Store bukan sekadar musibah. Ia adalah cermin buram bagaimana mentalitas rakus pemilik modal bisa mengorbankan ratusan jiwa. Seorang ibu yang kehilangan putrinya dalam tragedi ini menulis di buku tamu memorial: “Kau hanya butuh 10 juta won untuk memperbaiki gedung. Tapi kau memilih menukarkannya dengan 502 nyawa.” Pesan itu, meski pahit, tetap menggema sebagai pengingat bahwa keselamatan publik tidak bisa ditawar dengan uang.
[SOCIAL_TWEET]: 502 nyawa melayang di Sampoong Department Store bukan karena gempa, tapi karena bosnya menolak perbaiki retakan gedung. Duit 10 juta won lebih berharga dari nyawa? Cerita pahit dari Seoul #Sampoong #Tragedi1995 #KoreaSelatan[SOCIAL_TG]: 🏢💥 Mal terbesar di Korsel runtuh, 502 tewas. Bukan gempa—tapi bosnya abai pada retakan gedung demi hemat duit. Ini cerita Sampoong tahun 1995.
Comments (0)