JPO Tendean Dibongkar, Warga Bingung Cari Jalan Menyeberang
Suasana Jalan Tendean, Jakarta Selatan, mendadak berubah drastis setelah pemerintah DKI membongkar jembatan penyeberangan orang (JPO) ikonik di kawasan ter
Suasana Jalan Tendean, Jakarta Selatan, mendadak berubah drastis setelah pemerintah DKI membongkar jembatan penyeberangan orang (JPO) ikonik di kawasan tersebut pada Selasa malam (17/4). Proyek yang berlangsung hingga dini hari itu sempat memicu kemacetan panjang, namun setelah rambu-rambu dan reruntuhan dibersihkan, arus kendaraan kembali normal. Ironisnya, hilangnya penghubung pejalan kaki justru meninggalkan kebingungan massal—warga kini tak lagi memiliki akses resmi untuk melintas di atas jalan protokol yang padat tersebut.
JPO Tendean selama bertahun-tahun menjadi urat nadi mobilitas ratusan pekerja, pelajar, dan pedagang di sekitar Mampang Prapatan. Tanpa jembatan, banyak yang nekat menerobos lalu lintas cepat atau berjalan puluhan meter mencari celah. Pemprov DKI menyebut pembongkaran bagian dari revitalisasi kawasan, tetapi minimnya sosialisasi dan ketiadaan jalur alternatif sementara membuat keputusan ini dipertanyakan.
Kronologi: Malam Pembongkaran yang Panjang
Pantauan di lapangan, alat berat mulai beroperasi pukul 22.00 WIB. Arus lalu lintas dari arah Mampang menuju Blok M dialihkan sebagian, menciptakan antrean kendaraan hingga satu kilometer. Seorang petugas Dinas Bina Marga yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa pengerjaan ditargetkan selesai sebelum subuh. “Kami sengaja pilih jam malam agar tidak terlalu mengganggu aktivitas warga,” ujarnya singkat.
Namun, saat fajar menyingsing, yang tersisa hanyalah puing-puing beton dan dua pilar kosong. Tidak ada papan informasi, tidak ada petunjuk rute pengalihan pejalan kaki. Banyak warga yang pagi itu baru mengetahui JPO telah tiada ketika hendak menyeberang seperti biasa. Situasi ini sontak memicu keluhan di media sosial.
Dampak pada Pejalan Kaki dan Lalu Lintas
Data sementara dari kepolisian menunjukkan terjadi peningkatan pelanggaran penyeberangan sebesar 34% dalam 24 jam pertama pasca-pembongkaran. Pejalan kaki memilih menyeberang langsung di trotoar yang tidak dilengkapi zebra cross, terutama pada jam sibuk pagi (06.30-08.00) dan sore (16.30-18.30). “Saya lihat ibu-ibu sambil gandeng anak lari-lari ngelewatin tiga lajur. Ngeri banget,” tutur Yanto (42), pengemudi ojek online yang mangkal di dekat lokasi.
“Setiap hari saya lewat sini buat antar barang. Sekarang bingung, harus muter jauh lewat lampu merah Mampang—itu pun tambah 10 menit jalan kaki. Mana hujan-hujan begini,” keluh Rini, kurir paket yang terpaksa menenteng muatan lebih berat dengan rute memutar.
Meski kendaraan kini bisa melaju tanpa hambatan penyeberang di atas, pengendara justru mengeluhkan munculnya titik konflik baru. Tanpa JPO, pejalan kaki sering muncul tiba-tiba di median jalan, memaksa pengemudi mengerem mendadak. Kecelakaan ringan pun nyaris terjadi beberapa kali, menurut laporan warga sekitar.
Respons Warga dan Rencana Pemerintah
Pemprov DKI melalui akun Instagram resmi menyebut pembongkaran JPO Tendean sebagai langkah awal penyesuaian kawasan untuk proyek underpass atau jembatan baru yang lebih modern. Namun, rencana pembangunan pengganti baru akan dimulai pada triwulan ketiga 2025, meninggalkan jeda setidaknya enam bulan tanpa fasilitas penyeberangan yang memadai.
Anggota Komisi D DPRD DKI, yang membidangi infrastruktur, mendesak adanya jembatan temporer segera. “Tidak bisa dibiarkan seperti ini. Keselamatan warga taruhannya. Saya akan panggil dinas terkait minggu ini untuk hearing percepatan solusi,” tegasnya kepada awak media.
Sementara itu, sejumlah komunitas pejalan kaki mengusulkan penempatan petugas manual pada jam sibuk untuk membantu warga menyeberang. Mereka juga menggalang petisi agar pemda menyediakan pelican crossing darurat hingga jembatan permanen selesai. “Harusnya ada mitigasi risiko sebelum dibongkar, bukan malah dibiarkan chaos begini,” ujar Fahmi, pegiat dari Koalisi Pejalan Kaki Jakarta.
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Di balik kekacauan, sebagian warga berharap pengganti JPO nanti benar-benar ramah disabilitas dan terintegrasi dengan halte bus. “Kalau memang mau dibangun ulang, sekalian yang bagus, ada lift-nya. Tapi jangan lama-lama,” harap Partini, lansia yang setiap pagi harus menyeberang untuk berjualan sayur di pasar tumpah seberang jalan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda pemasangan pagar pengaman atau rambu peringatan di bekas lokasi JPO. Polres Jakarta Selatan menyatakan akan menambah personel patroli di titik rawan tersebut, khususnya saat jam masuk dan pulang sekolah. Warga pun hanya bisa menanti dan mewaspadai setiap langkah yang kini lebih berbahaya dari biasanya.
[SOCIAL_TWEET]: Warga bingung usai JPO Tendean tiba-tiba lenyap. Penyeberangan kacau, pejalan kaki nekat terobos jalan. Kapan penggantinya? #JPOTendean #PejalanKaki #Jakarta[SOCIAL_TG]: 🚧 JPO Tendean resmi dibongkar! Warga bingung cari jalan tikus buat nyebrang. Pemprov janji ganti, tapi 2025 baru dimulai. Sementara gimana? Baca detailnya👇
Comments (0)