Jepang Butuh Tenaga Kerja Asing, tapi Banyak yang Merasa Tak Dihargai
Jepang tengah menghadapi dilema besar dalam kebijakan ketenagakerjaannya. Di satu sisi, negara dengan populasi yang terus menua ini sangat membutuhkan pekerja asing untuk mengisi kekosongan di berbag
Jepang tengah menghadapi dilema besar dalam kebijakan ketenagakerjaannya. Di satu sisi, negara dengan populasi yang terus menua ini sangat membutuhkan pekerja asing untuk mengisi kekosongan di berbagai sektor industri. Namun di sisi lain, berbagai kebijakan baru dan dinamika sosial justru membuat para pekerja asing memilih untuk meninggalkan Negeri Sakura tersebut.
Salah satu suara yang mewakili kekecewaan itu datang dari Srijana Sunar, seorang perempuan asal Nepal berusia 29 tahun. Ia telah malang melintang bekerja di berbagai pabrik di Jepang sejak tahun 2018. Sumber penghasilannya dari kerja keras di pabrik-pabrik itu kini terancam oleh kebijakan birokrasi yang dinilainya sangat membebani kantong para pekerja migran.
"Saya kaget. Terlalu mahal jika harus membayar 100.000 yen (sekitar 10 juta Rupiah) untuk memperpanjang visa setiap tiga tahun," ujar Srijana kepada media kami, Selasa (10/12/2026).
Ungkapan keterkejutan Srijana itu merujuk pada regulasi baru yang disahkan pemerintah Jepang pada akhir Mei 2026. Undang-undang tersebut menaikkan biaya maksimum untuk perubahan status izin tinggal atau perpanjangan masa tinggal secara drastis, dari semula 10.000 yen menjadi 100.000 yen. Kenaikan sepuluh kali lipat ini rencananya mulai berlaku paling lambat pada akhir Maret 2027.
Dengan gaji bulanan yang ia terima saat ini sebesar 145.000 yen (sekitar 16 juta Rupiah), biaya perpanjangan visa yang baru akan menggerogoti sebagian besar pendapatannya. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan para pekerja asing berpenghasilan rendah di Jepang.
Rasa Tidak Dihargai di Balik Kerja Keras
Persoalan biaya visa hanyalah puncak gunung es. Di balik itu, ada persoalan mendasar tentang apresiasi terhadap kontribusi tenaga kerja asing. Suami Srijana, Spandan Sunar, yang telah mengabdikan tenaganya di Jepang sejak 2016 di sebuah perusahaan transportasi dan sekolah bahasa Jepang, merasakan hal serupa. Meski telah bertahun-tahun menjadi bagian dari sistem sosial dan ekonomi Jepang, ia merasa kerja kerasnya belum mendapatkan pengakuan yang setimpal.
"Upaya keras saya selama bertahun-tahun tidak mendapat penghargaan dari masyarakat Jepang," ungkap Spandan.
Pernyataan ini menyiratkan adanya kesenjangan antara kebutuhan Jepang terhadap tenaga asing dan penerimaan sosial yang diberikan. Pengalaman pasangan Sunar ini menjadi potret buram dari realitas yang dihadapi banyak pekerja asing di Jepang. Mereka dibutuhkan tenaganya untuk menopang industri, namun kerap menghadapi hambatan birokrasi dan tembok sosial yang membuat mereka sulit untuk sekadar merasa "betah".
Jika kondisi ini terus berlanjut dan para pekerja seperti Srijana dan Spandan memilih untuk mencari peluang di negara lain yang lebih ramah terhadap migran, Jepang berpotensi kehilangan tulang punggung tenaga kerja yang sangat vital bagi perekonomiannya.
Comments (0)