Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

[JAKARTA] — Changan Deepal S05 REEV Hadirkan Daya Jelajah 1.200 Kilometer

Pagi itu, mentari Jakarta belum sepenuhnya naik ketika Irfan (38) mematikan mesin sedan tuanya di halaman rumah. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan kem

Jul 09, 2026 - 01:14
0 0
[JAKARTA] — Changan Deepal S05 REEV Hadirkan Daya Jelajah 1.200 Kilometer

Pagi itu, mentari Jakarta belum sepenuhnya naik ketika Irfan (38) mematikan mesin sedan tuanya di halaman rumah. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan kemacetan dan ongkos bensin yang terus menanjak, tangan kanannya kini menggenggam kunci dengan logo yang masih asing bagi banyak orang: Changan Deepal. Di garasi, sebuah SUV ramping berwarna biru elektrik menunggu. Bukan sembarang SUV. Inilah Changan Deepal S05, versi Range Extender Electric Vehicle (REEV)—jawaban atas keresahan jutaan pengendara Indonesia yang mendamba mobil listrik, namun masih gamang dengan infrastruktur pengecasan.

Keresahan yang Mempertemukan

"Setiap kali lihat berita mobil listrik, saya selalu mikir: bagaimana kalau tiba-tiba kehabisan baterai di jalan tol yang sepi?" tutur Irfan, seorang konsultan proyek yang kerap bepergian dari Jakarta ke Surabaya. Keresahan itu sempat membuatnya bertahan dengan mobil konvensional, hingga seorang rekan sesama kontraktor bercerita tentang teknologi REEV—mobil yang bergerak dengan motor listrik, namun membawa mesin bensin kecil sebagai 'pembangkit' darurat untuk mengisi baterai saat melaju.

Maka bermulalah kisah Irfan bersama Deepal S05. Pada awal Mei lalu, ia memberanikan diri mengikuti test drive yang digelar di kawasan Senayan. Di situlah ia pertama kali mendengar angka yang membuat jantungnya berdebar: daya jelajah total hingga 1.200 kilometer dalam kondisi tangki penuh dan baterai terisi. Angka yang nyaris dua kali lipat jarak Jakarta–Surabaya pulang pergi.

Sebuah Lompatan Teknologi di Jalanan NKRI

Berita tentang Changan Deepal S05 REEV memang mulai berembus sejak pertama kali diumumkan kehadirannya di pasar Indonesia. Mobil ini mengombinasikan baterai lithium iron phosphate (LFP) berkapasitas 28,39 kWh dengan mesin bensin 1.500 cc yang berfungsi eksklusif sebagai generator. Tidak ada transmisi konvensional; roda sepenuhnya diputar motor listrik. Konsumsi bahan bakarnya pun diklaim sangat irit: hanya 4,5 liter per 100 kilometer saat bekerja dalam mode hibrida.

Bagi pengamat otomotif rekaan, Lukman Nurhakim, ini adalah strategi cerdas. "Changan seolah membaca peta psikologis konsumen Indonesia. REEV menghilangkan 'range anxiety' tanpa harus bergantung penuh pada stasiun pengecasan cepat yang masih langka di luar Jawa," ujarnya. "Mereka menawarkan mobil listrik dengan nyawa cadangan—sesuatu yang sangat manusiawi di negara kepulauan seperti kita."

Perjalanan yang Mengubah Ragu Menjadi Percaya

Titik balik bagi Irfan terjadi pada akhir pekan ketiga bulan Juli. Ia memutuskan mengajak istri dan dua anaknya mudik ke kampung halaman di Madiun, menggunakan Deepal S05 yang baru seminggu ia miliki. Berikut kronologi perjalanan yang ia abadikan dalam catatan pribadinya:

  1. Keberangkatan dari Jakarta (pukul 04.30 WIB) — Baterai penuh 100%, tangki bensin penuh. Dashboard menunjukkan estimasi total jarak tempuh 1.180 kilometer.
  2. Istirahat di Rest Area KM 228 (pukul 07.10 WIB) — Setelah menempuh 192 kilometer, baterai tersisa 40%. Irfan memilih tidak mengisi daya dan melanjutkan perjalanan; mesin generator otomatis menyala untuk menjaga level baterai di ambang 20%.
  3. Memasuki Gerbang Tol Madiun (pukul 14.45 WIB) — Total jarak tempuh mencapai 710 kilometer. Indikator bahan bakar masih menunjukkan setengah tangki, dan baterai stabil di 22% berkat pengisian kontinu dari mesin bensin.
  4. Perjalanan Pulang Tiga Hari Kemudian — Irfan hanya mengisi bensin penuh sekali di Madiun. Ia sama sekali tidak bergantung pada stasiun pengecasan listrik, karena generator bekerja optimal di kecepatan konstan tol.

"Anak-anak saya tidur pulas sepanjang perjalanan. Tidak ada suara mesin meraung, tidak ada getaran. Istri saya sampai bilang, 'Ini mobil atau ruang tamu berjalan?'" kenang Irfan sambil tertawa kecil. Kutipan itu bukan sekadar lelucon keluarga—ia mencerminkan lompatan kenyamanan yang ditawarkan kendaraan listrik modern.

Dampak Sosial yang Mulai Terasa

Kisah Irfan bukanlah satu-satunya. Di forum daring dan grup media sosial pemilik Deepal, semakin banyak cerita serupa bermunculan. Seorang pengusaha UMKM di Semarang, Rahayu (45), mengaku biaya operasional distribusi kue keringnya turun hingga 40 persen setelah mengganti armada lamanya dengan Deepal S05 REEV. "Dulu saya keluar Rp300 ribu untuk bensin pulang-pergi Semarang–Jogja. Sekarang, cukup Rp80 ribu. Uangnya bisa saya alihkan untuk beli bahan baku lebih bagus," tuturnya dalam sebuah wawancara rekaan melalui telepon.

Perubahan ini, meski masih berskala personal, menyingkap potensi dampak sosial yang lebih luas. Ketika biaya mobilitas turun secara signifikan, ruang ekonomi baru terbuka—baik bagi keluarga pekerja, pelaku usaha kecil, maupun komunitas di kota-kota sekunder yang selama ini terhambat ongkos logistik. Changan Deepal S05 REEV, dengan daya jelajah lintas provinsi dan kemandirian dari infrastruktur pengecasan, seolah menawarkan bukan sekadar mobil, melainkan sebuah penyetaraan akses.

Hingga tulisan ini dibuat, Deepal S05 REEV dijual dengan harga kompetitif di kisaran Rp 450 juta (on-the-road Jakarta), menjadikannya salah satu opsi paling terjangkau di kelasnya. Kombinasi antara teknologi REEV, kenyamanan kabin SUV modern, dan angka daya jelajah yang memecah kecemasan lama, perlahan menggeser perbincangan dari "mau beli mobil listrik atau tidak" menjadi "kapan ganti ke mobil listrik". Bagi Irfan, jawabannya sudah ia parkir di garasi setiap petang: sebuah kendaraan yang tak hanya membawanya dari titik A ke B, tapi juga membawa harapan akan mobilitas yang lebih hijau, tenang, dan manusiawi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User