Jakarta — BMKG Prediksi Puncak Kemarau Juli-September, Warga Diminta Waspada
Langkah kaki terasa lebih ringan saat melintasi tanah yang mulai merekah di halaman rumah Marsinah, warga Desa Kedungbanteng, Jawa Tengah. Perempuan 54 tah
Langkah kaki terasa lebih ringan saat melintasi tanah yang mulai merekah di halaman rumah Marsinah, warga Desa Kedungbanteng, Jawa Tengah. Perempuan 54 tahun itu mengusap keningnya yang basah oleh keringat, menatap sumur yang airnya kian surut. “Biasanya, bulan-bulan begini masih bisa ambil air buat nyiram tanaman. Sekarang, ember saja susah penuh,” keluhnya, suaranya bercampur antara pasrah dan cemas.
Kegelisahan Marsinah bukan tanpa alasan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan peringatan dini: puncak musim kemarau akan melanda Indonesia secara bertahap mulai Juli hingga September 2026. Ini bukan sekadar prediksi cuaca biasa. Di balik angka-angka zona musim, tersimpan potret perjuangan jutaan keluarga kecil yang harus beradaptasi dengan tanah yang mengeras dan udara yang menusuk tenggorokan.
Gelombang Kering yang Merayap Pelan
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa pada Juli 2026, sebanyak 83 Zona Musim (ZOM)—sekitar 12,26 persen dari total daratan Indonesia—akan memasuki fase puncak kemarau. Angka ini ibarat riak kecil di permukaan danau. Namun, riak itu akan segera berubah menjadi gelombang besar. Pada Agustus, cakupan wilayah yang mencapai puncak kekeringan melonjak drastis menjadi 369 ZOM, mencakup hampir setengah dari wilayah daratan, atau tepatnya 48,84 persen.
“Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk bersiap. Dampaknya bisa sangat personal—mulai dari petani yang gagal panen, ibu yang anaknya batuk-batuk karena debu, hingga ancaman kebakaran yang bisa menghanguskan lahan tempat mereka menggantungkan hidup,” ujar Faisal dalam konferensi pers virtual, Kamis lalu.
Musuh Tak Kasat Mata Bernama ISPA
Jika kekeringan adalah luka yang terlihat, maka Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah ancaman yang merayap diam-diam. Di puskesmas-puskesmas wilayah pinggiran, dokter mulai bersiaga. Debu jalanan yang beterbangan, minimnya air bersih untuk menjaga higiene, serta turunnya kualitas udara akibat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah resep sempurna bagi menyebarnya penyakit pernapasan.
Ratih, seorang bidan di kawasan rawan karhutla di Kalimantan Selatan, masih ingat jelas musim kemarau dua tahun lalu. “Anak-anak datang dengan mata merah, batuk terus-menerus. Stok masker dan obat ISPA kami hampir selalu habis. Tahun ini, kami berharap masyarakat lebih siap. Jangan tunggu sakit dulu baru pakai masker,” katanya sembari merapikan tumpukan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) kesehatan di meja kerjanya.
Domino yang Menjatuhkan Sendi Kehidupan
Kemarau panjang tak hanya tentang haus dan debu. Ia adalah domino pertama yang jika jatuh, akan menyeret sektor lain. Berikut beberapa dampak yang patut diwaspadai:
- Krisis Air Bersih: Sumur-sumur dangkal mengering, memaksa warga membeli air dengan harga berkali lipat.
- Ancaman Karhutla: Lahan gambut yang retak bagaikan bensin yang menunggu percikan api. Satgas dan relawan harus bersiaga 24 jam.
- Gagal Panen: Petani tadah hujan harus merelakan sawahnya beralih fungsi menjadi lahan tidur, kehilangan pendapatan selama berbulan-bulan.
Faisal menekankan bahwa mitigasi bencana hidrometeorologi ini membutuhkan partisipasi semua pihak. Dari pemerintah yang menjamin distribusi air, hingga masyarakat yang bijak menggunakan air dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Bagi Marsinah, prediksi BMKG adalah alarm yang sudah berbunyi nyaring. Ia mulai menabung untuk membeli tandon air tambahan. “Saya cuma bisa bersiap. Alam sudah bicara, tinggal kita mau dengar atau tidak,” ujarnya pelan, sebelum berlalu kembali ke rumahnya yang sederhana, membawa ember kosong yang mungkin akan semakin sering ia bawa dalam beberapa bulan ke depan.
Comments (0)