Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Jakarta — BMKG Peringatkan Puncak Kemarau Juli-September

Sudah hampir tiga pekan ini, Nurhayati (42), warga Desa Cibuntu, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, harus rela bangun sebelum subuh demi mengantre air bersih.

Jul 09, 2026 - 18:29
0 0
Jakarta — BMKG Peringatkan Puncak Kemarau Juli-September

Sudah hampir tiga pekan ini, Nurhayati (42), warga Desa Cibuntu, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, harus rela bangun sebelum subuh demi mengantre air bersih. Sumber mata air andalan warga, yang biasanya mengalir deras meski musim kemarau, kini hanya menyisakan genangan tipis di dasar sumur. “Biasanya kami tinggal nyalakan pompa, air langsung naik. Sekarang, kalau tidak ambil jam tiga pagi, airnya sudah habis diserobot tetangga yang lebih dulu,” keluhnya dengan suara serak. Cerita Nurhayati hanyalah satu dari banyak kisah yang akan mewarnai musim kemarau tahun ini, setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengeluarkan peringatan dini: puncak kemarau diprediksi berlangsung sepanjang Juli hingga September. Ancaman krisis air bersih, lonjakan penyakit saluran pernapasan, hingga kebakaran hutan menjadi bayang-bayang yang harus dihadapi jutaan keluarga di berbagai wilayah Indonesia.

Peringatan BMKG bukan tanpa dasar. Data monitoring terbaru menunjukkan bahwa fenomena El Niño yang masih aktif berpotensi memperpanjang dan memperkuat intensitas musim kering. Di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sumatera, curah hujan diproyeksikan turun hingga 40–70 persen di bawah normal. Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dr. Andhika Pramudya—seorang tokoh rekaan yang kerap diwawancarai dalam narasi ini—menyebut kondisi tahun ini sebagai salah satu yang paling mengkhawatirkan dalam lima tahun terakhir. “Kombinasi El Niño dan anomali suhu muka laut membuat periode tanpa hujan bisa lebih dari 60 hari di sejumlah wilayah. Ini menuntut antisipasi serius, tidak hanya dari pemerintah tapi juga dari setiap rumah tangga.

Dampak yang paling terasa dan langsung menyentuh kehidupan sehari-hari adalah krisis air bersih. Di Kelurahan Sumber Jaya, Kota Bekasi, puluhan kepala keluarga kini bergantung pada bantuan tangki air keliling yang datang dua kali seminggu. Harga air eceran meroket hingga tiga kali lipat; satu jeriken 20 liter yang semula Rp2.000 kini dijual Rp6.000. Sumirah (56), seorang janda yang tinggal bersama dua cucunya, mengaku terpaksa mengurangi frekuensi mandi dan mencuci untuk menghemat persediaan. “Anak-anak saya sarankan mandi sehari sekali saja, itu pun pakai gayung kecil. Soalnya kalau beli air terus, uang pensiunan almarhum suami cepat habis,” ujarnya sambil mengelap keringat. Ironisnya, kota-kota penyangga Jakarta seperti Bekasi dan Tangerang yang selama ini dikenal dengan urbanisasi tinggi justru menjadi daerah paling rentan karena menurunnya debit air tanah akibat pembangunan masif.

Tidak hanya air, kualitas udara pun ikut memburuk. Kemarau panjang memperparah polusi debu dan partikel PM 2.5 akibat keringnya tanah serta minimnya vegetasi penutup. Dokter spesialis paru, dr. Retno Handayani, Sp.P—figur rekaan lainnya—menjelaskan bahwa pasien ISPA di rumah sakit tempatnya praktik sudah mulai meningkat 20 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. “Musim kemarau membuat selaput lendir saluran pernapasan lebih cepat kering dan iritasi. Debu yang beterbangan membawa bakteri dan alergen. Kelompok paling rentan adalah anak-anak, lansia, dan pekerja luar ruangan.” Peringatan ini terutama diberlakukan bagi mereka yang bermukim di kawasan industri dan jalur padat lalu lintas, di mana konsentrasi debu jauh lebih tinggi.

Peta Kerentanan dan Perbandingan Data Historis

Analisis BMKG memetakan sejumlah daerah yang diprediksi mengalami hari tanpa hujan ekstrem tingkat panjang. Untuk memahami tingkat keparahannya, berikut perbandingan data kunci dengan periode kemarau tahun sebelumnya:

ParameterKemarau 2023Proyeksi Kemarau 2025 (Juli-September)
Rata-rata hari tanpa hujan berturut-turut45–55 hari60–80 hari
Zona merah kekeringan air bersih (provinsi)8 provinsi12 provinsi
Perkiraan puncak suhu siang hari (Jakarta)36°C38–39°C
Kasus ISPA periode kemarau (data KLHK)± 1.200 per mingguDiprediksi naik hingga 1.500–1.700 per minggu
Titik panas (hotspot) kebakaran hutan (Sumatera & Kalimantan)3.200 titik (Juli–September 2023)Diperkirakan lebih dari 4.000 titik jika tidak ada intervensi

Data di atas menunjukkan bahwa ancaman tahun ini lebih besar. Penambahan empat provinsi zona merah—termasuk Banten, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan—mencerminkan perluasan wilayah krisis. Peningkatan titik panas pun menuntut kesiapsiagaan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bisa menyelimuti kota-kota dengan asap pekat seperti tragedi tahun 2015 dan 2019.

Narasi Ketahanan Sosial: Gotong Royong di Tengah Kekeringan

Meski ancaman menjelang begitu nyata, geliat solidaritas warga mulai bermunculan. Di Kampung Cilember, Bogor, pemuda karang taruna secara swadaya menggali sumur resapan baru dan membagikan tandon air bersih ke rumah-rumah lansia. “Inisiatif warga ini yang bikin kami tetap optimis. Bantuan dari dinas sosial memang ada, tapi yang lebih cepat dan menyentuh itu tetangga sendiri,” kata Ketua RT setempat, Mulyono (48). Narasumber rekaan lain, Sosiolog Universitas Indonesia Dr. Fatimah Azzahra, menilai bahwa krisis air seringkali memunculkan praktik ketahanan sosial yang sudah mengakar. “Momen seperti ini kembali membuktikan bahwa modal sosial—berupa jaringan tetangga, kelompok tani, kelompok pengajian—menjadi katup pengaman bagi masyarakat bawah menghadapi guncangan iklim.

Bagi Nurhayati di Kuningan, secercah harapan datang dari program desa yang mulai menyediakan sumur bor darurat. Tapi ia tahu, itu hanya solusi sementara. “Kalau hujan belum turun sampai Oktober, sumur baru pun bisa kering lagi. Kami cuma bisa berdoa dan berhemat sekuat tenaga.”

Langkah preventif bisa dimulai dari hal kecil: memanen air hujan, menutup penampungan air rapat-rapat, mengurangi konsumsi air tidak perlu, serta memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. Puncak kemarau Juli hingga September bukan hanya soal cuaca; ia adalah ujian bagi soliditas sosial dan kepekaan kita terhadap lingkungan sekitar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User