Jakarta, Beritaseputar.com - Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mempertegas perannya dalam diplomasi iklim global lewat dua kesepakatan strategis dengan Singapura. Dalam pertemuan bilateral Leaders’ Retreat antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Lawrence Wong di Istana Merdeka, perlindungan lingkungan resmi menjadi pilar utama kemitraan kedua negara, menandai babak baru kolaborasi ekonomi hijau di kawasan Asia Tenggara.
Kesepakatan tersebut tertuang dalam dua Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani langsung oleh para pemimpin. MoU pertama adalah Kerja Sama Perlindungan Lingkungan Hidup, yang mencakup pertukaran te
Kesepakatan tersebut tertuang dalam dua Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani langsung oleh para pemimpin. MoU pertama adalah Kerja Sama Perlindungan Lingkungan Hidup, yang mencakup pertukaran teknologi, konservasi keanekaragaman hayati, serta pengendalian pencemaran lintas batas. MoU kedua, yang menjadi sorotan utama, adalah Kolaborasi Kredit Karbon berdasarkan Pasal 6 Persetujuan Paris. Melalui skema ini, Indonesia dan Singapura akan membentuk kerangka bilateral perdagangan kredit karbon yang memungkinkan mobilisasi pendanaan iklim serta investasi hijau secara lebih terukur dan transparan.
“Kolaborasi kredit karbon ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperoleh insentif dari proyek pengurangan emisi, sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon yang berkeadilan,” ujar Menteri Lingkungan Hidup dalam keterangan resmi yang diterima Beritaseputar.com usai penandatanganan.Pasal 6 Persetujuan Paris memungkinkan negara-negara untuk bekerja sama secara sukarela dalam mencapai target kontribusi nasional (NDC) mereka. Dengan adanya MoU ini, Indonesia dapat menjual kredit karbon yang dihasilkan dari restorasi hutan, rehabilitasi mangrove, pengembangan energi terbarukan, serta efisiensi energi kepada entitas di Singapura yang membutuhkan kompensasi emisi. Mekanisme ini diharapkan tidak hanya mendatangkan devisa baru, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama pasar karbon global mengingat cadangan karbon alamnya yang sangat besar.
Comments (0)