Jakarta — Antrean Panjang dan Wajah Cemas Warnai Hari Pertama Kenaikan Harga BBM
Langit Jakarta Sabtu siang itu sedikit mendung, namun bukan cuaca yang membuat wajah-wajah di SPBU Kuningan tampak muram. Tangan Pak Adi, 52 tahun, gemetar
Langit Jakarta Sabtu siang itu sedikit mendung, namun bukan cuaca yang membuat wajah-wajah di SPBU Kuningan tampak muram. Tangan Pak Adi, 52 tahun, gemetar ringan saat memasukkan nozzle Pertalite ke tangki motornya. Angka di layar mesin pompa melompat lebih cepat dari biasanya. "Biasanya isi full cuma Rp 40 ribu, sekarang tembus Rp 48 ribu," keluhnya pelan.
Pemerintah resmi mengumumkan penyesuaian harga BBM bersubsidi per Sabtu (3/9/2022). Pertalite yang semula Rp 7.650 per liter kini melonjak menjadi Rp 10.000. Solar naik dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800, sementara Pertamax kini bertengger di Rp 14.500 per liter dari sebelumnya Rp 12.500. Keputusan ini langsung mengirim gelombang kejut ke seluruh lapisan masyarakat.
Di sudut lain SPBU, Sari, seorang ibu dua anak, menggigit bibir bawahnya sambil mengawasi meteran bensin mobil keluarganya. Ia baru saja membatalkan rencana berbelanja kebutuhan sekolah anaknya minggu ini.
"Saya harus pilih: isi bensin untuk suami kerja, atau beli sepatu anak yang sudah sobek. Tidak bisa dua-duanya sekarang," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Pemandangan serupa terlihat di berbagai pelosok. Antrean kendaraan mengular bukan hanya karena panic buying, tapi juga karena setiap tetes bensin kini terasa lebih mahal. Di grup-grup WhatsApp warga, topik hangat bukan lagi soal drama selebriti, melainkan hitung-hitungan ulang anggaran rumah tangga yang mendadak kedaluwarsa.
Di balik angka-angka yang tampak dingin itu, tersimpan kisah tentang mimpi yang harus dikemas ulang, perjalanan yang harus dihemat, dan masa depan yang tiba-tiba terasa lebih jauh. Bu Rina, pemilik warung kelontong di pinggiran Tangerang, harus memutar otak lebih keras kini.
"Harga sembako pasti ikut naik. Ongkos kirim dari agen pasti disesuaikan. Pelanggan saya juga pada ngirit, saya terjepit di tengah," tuturnya.
Para pengemudi ojek online merasakan pukulan paling telak. Bagi mereka, bensin adalah urat nadi penghasilan. Irfan, 27 tahun, pengemudi ojek online selama tiga tahun, harus merelakan setoran hariannya tergerus sekitar 15 persen.
"Pendapatan bersih saya biasanya Rp 150 ribu sehari, sekarang paling sisa Rp 120 ribu setelah potong bensin. Itu pun kalau orderan lagi ramai," katanya sambil menatap layar ponsel yang sepi notifikasi.
Di tengah penyesuaian yang menyakitkan ini, ada kisah ketangguhan yang sunyi. Warga mulai berbagi rute alternatif yang lebih irit BBM melalui komunitas komplek. Tetangga yang biasanya berangkat sendiri-sendiri dengan mobil, kini mulai berani menawarkan nebeng. Solidaritas sosial yang sudah lama meredup, perlahan menyala kembali, berharap bisa menerangi jalan di tengah badai ekonomi yang datang tanpa aba-aba.
Poin Penting Kenaikan Harga BBM
- Pertalite: Naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000 per liter — kenaikan sekitar 30%.
- Solar bersubsidi: Naik dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800 per liter.
- Pertamax: Naik dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.
- Kebijakan berlaku serentak sejak Sabtu, 3 September 2022 di seluruh Indonesia.
Comments (0)