80% Penderita Autoimun adalah Perempuan, Ini Kata Pakar
Jakarta – Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap fakta mengejutkan: 80 persen dari total penderita penyakit autoimun di seluruh duni
Jakarta – Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap fakta mengejutkan: 80 persen dari total penderita penyakit autoimun di seluruh dunia adalah perempuan. Angka ini kembali menegaskan adanya kesenjangan gender yang signifikan dalam epidemiologi penyakit kronis tersebut. Pakar imunologi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Andini Pratiwi, Sp.PD-KAI, memberikan penjelasan mendalam tentang faktor-faktor yang memicu dominasi perempuan dalam kasus autoimun.
Mengapa Perempuan Lebih Rentan?
Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi justru menyerang sel dan jaringan sehat. Kondisi ini dapat menyerang berbagai organ, seperti sendi, kulit, ginjal, hingga sistem saraf. Lupus, rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, dan tiroiditis Hashimoto adalah beberapa contoh yang paling sering ditemukan pada pasien perempuan.
"Kerentanan perempuan terhadap autoimunitas bukanlah sebuah kebetulan biologis. Ada dua kunci utama: faktor hormonal dan ekspresi gen pada kromosom X," ujar Prof. Andini saat ditemui di sela-sela seminar nasional di Jakarta, Rabu (09/07/2026).
"Perempuan memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya satu. Salah satu gen pengatur respons imun, seperti TLR7, terletak di kromosom X. Pada perempuan, meskipun satu kromosom X tidak aktif secara acak, proses ini sering tidak sempurna sehingga gen-gen imun tertentu dapat mengalami over-ekspresi."
Peran Hormon Estrogen
Selain genetika, hormon estrogen juga berperan besar. Estrogen dikenal mampu memodulasi sistem imun dengan meningkatkan produksi antibodi dan aktivitas sel B. Prof. Andini menjelaskan bahwa pada kondisi normal, hal ini membantu perempuan melawan infeksi lebih efisien. Namun, pada individu yang memiliki predisposisi genetik, lonjakan estrogen saat pubertas, kehamilan, atau penggunaan kontrasepsi hormonal dapat memicu disregulasi imun yang berujung pada autoimunitas.
Fakta kunci: Studi longitudinal yang dipublikasikan di Journal of Autoimmunity (2024) menemukan bahwa perempuan dengan riwayat penggunaan pil kontrasepsi kombinasi dosis tinggi memiliki risiko 30% lebih tinggi mengembangkan lupus eritematosus sistemik dibandingkan yang tidak menggunakan.
Pemicu Lingkungan dan Gaya Hidup
Tak hanya faktor internal, paparan lingkungan juga turut berkontribusi. Prof. Andini menyebut zat kimia seperti bisphenol A (BPA) yang banyak ditemukan dalam plastik kemasan makanan, pestisida, dan polusi udara dapat bertindak sebagai xenoestrogen — zat asing yang meniru estrogen dalam tubuh. Akumulasi paparan ini, terutama pada perempuan yang sudah memiliki beban hormonal lebih tinggi, menciptakan "badai sitokin" yang mengacaukan toleransi imun.
Statistik dari Indonesian Autoimmune Registry 2025 mencatat peningkatan kasus autoimun sebesar 22% dalam lima tahun terakhir, dengan 76% di antaranya adalah perempuan usia produktif (20–45 tahun).
Penyakit Autoimun yang Banyak Menyerang Perempuan
| Penyakit | Prevalensi Perempuan (%) | Gejala Utama |
|---|---|---|
| Lupus Eritematosus Sistemik | 90% | Ruam kupu-kupu, nyeri sendi, gangguan ginjal |
| Sindrom Sjögren | 95% | Mulut dan mata kering, kelelahan kronis |
| Tiroiditis Hashimoto | 85% | Hipotirodisme, berat badan naik, depresi |
| Multiple Sclerosis | 75% | Gangguan saraf, kelemahan otot, kebutaan parsial |
| Artritis Reumatoid | 70% | Nyeri dan bengkak sendi simetris |
Deteksi Dini dan Penanganan
Meskipun sebagian besar penyakit autoimun belum dapat disembuhkan, deteksi dini sangat menentukan kualitas hidup pasien. Gejala awal seperti kelelahan ekstrem, nyeri sendi berpindah, demam ringan berkepanjangan, dan ruam kulit seringkali diabaikan. Prof. Andini menekankan pentingnya pemeriksaan ANA (antinuclear antibody) sebagai skrining awal.
"Perempuan harus lebih waspada. Jika memiliki riwayat keluarga dengan autoimun, lakukan pemeriksaan rutin dan hindari paparan zat kimia berbahaya," pesannya.
Dengan semakin tingginya prevalensi, para pakar mendorong pemerintah untuk meningkatkan akses diagnosis dan terapi imunosupresan yang terjangkau, terutama bagi perempuan di daerah terpencil.
[SOCIAL_TWEET]: Data WHO: 80% penderita autoimun adalah perempuan. Pakar ungkap kromosom X dan hormon estrogen jadi penyebab utamanya. Perempuan wajib waspada! #Kesehatan #Autoimun #Hormon[SOCIAL_TG]: 🔬 80% penderita autoimun adalah wanita. Faktor genetika (kromosom X) dan hormon estrogen jadi pemicu dominan. Yuk, deteksi dini dengan tes ANA! 💉🩺
Comments (0)