IHSG 2022 Ditutup Melemah 0,14 Persen ke 6.850,62
Perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengakhiri tahun 2022 dengan catatan koreksi tipis. Berdasarkan data penutupan, Indeks Harga Saham G
Perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengakhiri tahun 2022 dengan catatan koreksi tipis. Berdasarkan data penutupan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau lesu 0,14% atau setara 9,46 poin dan parkir di level 6.850,62. Sejumlah karyawan dan partisipan pasar tampak melintasi layar besar yang menampilkan pergerakan indeks tersebut saat seremoni simbolis di Jakarta, Jumat (30/12/2022).
Kronologi Penutupan Perdagangan Akhir Tahun
Sesi perdagangan Jumat pekan terakhir 2022 berjalan relatif sepi volume. Sejak pembukaan, IHSG sempat bergerak di zona hijau tipis, namun tekanan jual di menit-menit akhir membuat indeks harus puas ditutup di teritori negatif. Berikut detil rangkaiannya:
- Pukul 09.00 WIB: IHSG dibuka menguat 12,3 poin ke 6.872,38. Sentimen positif awal datang dari rilis data inflasi domestik yang melandai serta pergerakan bursa Asia yang mayoritas hijau.
- Pukul 11.30 WIB: Indeks berangsur kehilangan tenaga, berbalik melemah 5 poin. Sejumlah saham big cap seperti BBCA, TLKM, dan ASII mulai dikoleksi profit.
- Pukul 14.00 WIB: IHSG merosot lebih dari 15 poin dipicu aksi window dressing yang mulai pudar. Investor asing tercatat melakukan net sell hingga Rp340 miliar di sesi siang.
- Pukul 16.00 WIB: Papan perdagangan ditutup dengan IHSG turun 9,46 poin ke 6.850,62. Total transaksi mencapai Rp11,2 triliun dengan volume 18,7 miliar saham.
IHSG Sepanjang 2022: Volatil tapi Bertahan di 6.800
Jika dirunut dari awal tahun, IHSG sebenarnya mencatatkan penguatan sepanjang 2022 sekitar 5,13% dibanding penutupan akhir 2021 yang berada di level 6.606. Namun perjalanannya penuh gejolak. Pada April 2022 indeks sempat menembus level 7.300 menyusul membaiknya harga komoditas dan pulihnya mobilitas pasca pandemi, namun kembali terkoreksi menyusul kekhawatiran resesi global dan normalisasi suku bunga The Fed.
Sektor energi dan barang baku menjadi penopang utama kinerja IHSG tahun ini, sementara sektor teknologi dan properti justru tertekan. Analis mencatat volatilitas tertinggi terjadi pada kuartal ketiga saat indeks sempat amblas ke 6.200.
“Pasar kita cukup resilien. Meskipun secara year-to-date kenaikannya tidak spektakuler, fundamental emiten relatif solid. Penurunan di pengujung tahun lebih didorong faktor teknikal dan antisipasi tahun baru yang panjang,” ujar Ekonom Senior Mirae Asset Sekuritas, Hendra Gunawan, saat dihubungi di sela penutupan.
Banjir IPO Cetak Rekor 2022
Di tengah lesunya indeks penutupan, kabar membanggakan datang dari pencatatan saham baru. Sepanjang 2022, BEI mencatatkan 59 perusahaan melantai melalui Initial Public Offering (IPO), menjadikannya sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah bursa saham Indonesia. Angka ini melampaui capaian 2021 yang hanya 54 IPO dan jauh di atas rata-rata tahunan pra-pandemi yang berkisar 25–30 perusahaan.
Beberapa IPO jumbo turut mewarnai, antara lain PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan dana dihimpun Rp13,7 triliun, PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) di sektor energi, dan berbagai perusahaan digital lainnya. Para analis menilai euforia IPO ini didorong oleh masih tingginya likuiditas domestik serta keinginan emiten untuk memperluas ekspansi sebelum perlambatan ekonomi global semakin nyata.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, dalam sambutan penutupan menyatakan optimisme bahwa meski IHSG parkir datar, banyaknya perusahaan yang berani go public mencerminkan kepercayaan pasar. “Kami optimistis tahun depan kesadaran perusahaan masuk pasar modal akan terus tumbuh, didukung oleh program pendalaman pasar dan insentif dari regulator,” katanya.
Prospek 2023: Antara Resesi dan Peluang
Menatap tahun 2023, para pelaku pasar mencermati sejumlah ketidakpastian. Kebijakan moneter Bank Sentral AS yang diperkirakan masih hawkish, inflasi global yang tinggi, serta dinamika geopolitik perang Rusia-Ukraina menjadi risiko utama. Meski demikian, valuasi IHSG yang kini berada di kisaran 12,5 kali estimasi laba bersih (price-to-earnings) dinilai cukup murah dan dapat menjadi bantalan jika sentimen global membaik.
Di dalam negeri, kelanjutan program hilirisasi, pemulihan konsumsi rumah tangga, dan potensi peningkatan harga komoditas emas dan CPO akan menjadi katalis positif. Sejumlah analis memproyeksikan IHSG dapat kembali menuju level 7.200—7.500 pada akhir 2023, dengan catatan bahwa inflasi domestik terkendali dan tidak ada gejolak politik berarti menjelang Pemilu 2024.
Frekuensi perdagangan di hari terakhir yang mencapai lebih dari 480 ribu lot juga menandakan bahwa likuiditas pasar tetap terjaga. Data menunjukkan bahwa sejak awal tahun, investor ritel bertambah lebih dari 2,3 juta SID (Single Investor Identification), membuktikan minat masyarakat pada instrumen saham terus bertumbuh.
Penutupan lesu IHSG di hari terakhir 2022 ibarat cermin pasar yang tengah mencerna beragam sentimen. Satu catatan pasti: bursa saham Indonesia tetap menawarkan harapan baru dengan deretan perusahaan segar yang siap bersaing.
[SOCIAL_TWEET]: Meski IHSG tutup tahun 2022 lesu 0,14% di 6.850,62, BEI cetak rekor 59 IPO sepanjang tahun! Prospek 2023 tetap optimistis di tengah risiko resesi global. #IHSG #BEI #IPO[SOCIAL_TG]: 📉 IHSG akhir 2022 parkir di 6.850,62 — turun 0,14%. Tapi kabar baiknya: 59 perusahaan melantai, rekor IPO tertinggi sepanjang masa. Pasar modal kita tangguh!
Comments (0)