Ferry Juliantono Dorong Koperasi Hijau di Forum Ekonomi PLN
Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat transformasi koperasi menuju ekonomi hijau. Hal itu disampaika
Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat transformasi koperasi menuju ekonomi hijau. Hal itu disampaikannya usai menghadiri Forum Ekonomi Hijau yang diselenggarakan di Kantor Pusat PLN, Jakarta, pada Selasa (17/6/2026). Dalam forum yang dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan dari sektor energi, perbankan, dan koperasi, Ferry mendorong agar koperasi tidak hanya menjadi penonton, melainkan motor penggerak transisi energi bersih di Tanah Air.
Koperasi sebagai Penggerak Transisi Energi
Ferry Juliantono mengungkapkan bahwa dari total 127.000 koperasi aktif di Indonesia, baru sekitar 2% yang bergerak di sektor energi terbarukan dan pengelolaan lingkungan. “Potensinya sangat besar. Koperasi bisa menjadi agregator pembiayaan mikro untuk instalasi panel surya, pengelolaan limbah, hingga ekowisata,” ujarnya. Pemerintah, melalui Kementerian Koperasi dan UKM, menargetkan terbentuknya 1.000 koperasi hijau pada tahun 2029 yang fokus pada bisnis berkelanjutan.
“Koperasi harus menjadi motor ekonomi hijau yang inklusif. Kami akan berikan insentif berupa pelatihan, akses permodalan bunga rendah, dan kemitraan dengan BUMN seperti PLN.” — Ferry Juliantono, Menteri Koperasi
Kolaborasi dengan PLN dan Lembaga Keuangan
Dalam forum tersebut, Ferry menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, tentang pengembangan ekosistem koperasi energi. Salah satu poin penting adalah penyediaan teknologi solar home system melalui koperasi di daerah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal) dengan skema kredit mikro. Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM menyatakan kesiapan menyalurkan dana hingga Rp500 miliar untuk koperasi hijau pada tahun 2026.
Analisis: Potensi dan Tantangan Koperasi Hijau
Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, potensi energi terbarukan Indonesia mencapai 3.686 GW, namun pemanfaatannya baru sekitar 0,3%. Koperasi dapat mengisi celah ini dengan model bisnis berbasis komunitas. Berikut gambaran sektor potensial yang dapat digarap koperasi hijau:
| Sektor | Potensi Ekonomi | Contoh Model Koperasi |
|---|---|---|
| Energi surya | Rp15 triliun | Koperasi penyedia panel surya atap rumah tangga |
| Limbah terpadu | Rp5 triliun | Koperasi bank sampah dan produksi RDF |
| Ekowisata | Rp8 triliun | Koperasi pengelola wisata alam berbasis konservasi |
Namun, tantangan masih menghadang. Pengamat koperasi dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Slamet Riyadi, menyebut bahwa literasi digital anggota koperasi, akses pasar karbon, dan tata kelola masih menjadi pekerjaan rumah. “Tanpa standarisasi dan dukungan teknologi, koperasi hijau akan sulit bersaing dengan korporasi besar,” katanya.
Langkah Strategis ke Depan
Untuk mengakselerasi program ini, Kementerian Koperasi dan UKM menyiapkan platform digital bernama KoperasiHijau.id yang akan meluncur pada Agustus 2026. Platform ini akan menghubungkan koperasi dengan investor, penyedia teknologi, dan pasar karbon. “Digitalisasi adalah kunci. Koperasi harus bertransformasi menjadi tech-savvy enterprise agar mampu bersaing,” tutup Ferry.
[SOCIAL_TWEET]: Menteri Koperasi Ferry Juliantono dorong lahirnya 1.000 koperasi hijau hingga 2029! Kolaborasi dengan PLN & BRI siapkan dana Rp500M. Ekonomi hijau makin inklusif. #KoperasiHijau #EkonomiHijau #FerryJuliantono[SOCIAL_TG]: ♻️ Koperasi go green! Menteri Ferry targetkan 1.000 koperasi hijau, MoU dengan PLN dan dukungan dana Rp500M. Masa depan koperasi berkelanjutan dimulai.
Comments (0)