Fadli Zon: Lukisan Purba Muna 67.800 Tahun, Tertua di Dunia
Di balik dinding karst yang tersembunyi di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, tersimpan bisikan peradaban yang berusia puluhan ribu tahun. Bukan sekadar coretan, melainkan kisah purba yang terabadikan dal...
Di balik dinding karst yang tersembunyi di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, tersimpan bisikan peradaban yang berusia puluhan ribu tahun. Bukan sekadar coretan, melainkan kisah purba yang terabadikan dalam pigmen merah dan hitam—menggambarkan sosok manusia, hewan, dan geometri yang hingga kini masih menyisakan teka-teki. Namun, satu kepastian kini mengemuka: lukisan di Gua Muna telah dinobatkan sebagai lukisan gua tertua di dunia, dengan perkiraan usia mencapai 67.800 tahun.
Konfirmasi tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yang dalam lawatan kerjanya ke Sulawesi Tenggara menyebut temuan ini sebagai ‘lompatan besar dalam pemahaman kita tentang asal-usul peradaban.’ Lewat penanggalan uranium-series pada lapisan kalsit yang membalut lukisan, para peneliti berhasil membuktikan bahwa karya di Liang Kobori dan situs sekitarnya jauh melampaui usia lukisan purba yang sebelumnya dianggap tertua di kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.
Menggeser Tahta Maros-Pangkep
Selama beberapa dekade, dunia arkeologi memandang Maros-Pangkep sebagai rumah bagi lukisan gua paling awal yang diketahui manusia. Penemuan babi rusa Sulawesi berusia 45.500 tahun di Leang Tedongnge menjadi ikon global dan menegaskan posisi Indonesia dalam peta prasejarah. Akan tetapi, riset kolaboratif yang dipublikasikan pada awal 2026 menunjukkan bahwa di Muna terdapat gugusan lukisan yang hampir 20.000 tahun lebih tua.
‘Ini bukan sekadar angka; ini tentang perjalanan manusia, tentang ekspresi tertua yang berhasil kita temukan,’ ujar Fadli Zon dalam sesi diskusi bersama arkeolog dan pemangku adat setempat. Ia menekankan bahwa temuan di Muna mendobrak asumsi lama bahwa pusat budaya prasejarah Asia Tenggara hanya terkonsentrasi di Sulawesi Selatan. Kehadiran lukisan figuratif—yang diduga menggambarkan ritual, perburuan, atau peta langit—menandakan bahwa manusia modern awal telah mengembangkan pemikiran simbolik yang kompleks di kawasan Wallacea jauh lebih awal.
Dari Dinding Gua ke Panggung Dunia
Kunjungan Fadli Zon ke Muna bukan hanya ceremonial. Ia membawa serta tim ahli dan menjanjikan dukungan penuh untuk menjadikan Sulawesi Tenggara sebagai pusat studi prasejarah nasional, bahkan dunia. Rencananya, Kementerian Kebudayaan akan memfasilitasi pendirian laboratorium riset di Baubau atau Kendari yang dapat menampung analisis lanjutan, termasuk penanggalan lebih presisi, studi iklim purba, dan pemetaan digital tiga dimensi seluruh situs.
‘Kami ingin generasi muda dan peneliti dari mancanegara datang ke sini, bukan hanya untuk mengagumi, tapi juga untuk belajar. Ini aset yang tak ternilai,’ tegasnya. Pemerintah daerah menyambut hangat. Gubernur Sulawesi Tenggara berkomitmen menyiapkan infrastruktur pendukung—akses jalan, pusat informasi, dan pelatihan masyarakat—tanpa harus mengganggu keutuhan ekologi karst. Leluhur kita sudah menyapa kita lewat karya ini; sekarang tugas kita menjawabnya dengan penghormatan setinggi-tingginya. Ia juga menyoroti peran vital masyarakat lokal Suku Muna dan petugas pelestari yang selama ini menjaga situs secara swadaya. ‘Mereka adalah pahlawan kebudayaan yang selama ini bekerja dalam sunyi,’ imbuhnya.
Melampaui Rekor: Makna di Balik Usia
Lebih dari sekadar pemecahan rekor, temuan Muna mengundang pertanyaan yang lebih dalam: siapa pelukisnya, apa yang mendorong mereka mencipta, dan bagaimana mereka bertahan dari perubahan iklim ekstrem yang menyapu kepulauan Nusantara ribuan tahun silam? Lukisan-lukisan tersebut didominasi figur stensil tangan dan motif binatang endemik, seperti anoa dan babi rusa; sebagian dilapisi endapan stalaktit yang ikut mengawetkan pigmen sepanjang zaman.
Para peneliti menduga bahwa gua-gua ini bukan sekadar hunian, melainkan juga ruang spiritual—semacam 'perpustakaan visual' yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya. Kini, dengan bukti usia 67.800 tahun, Muna menantang pusat-pusat seni parietal di Eropa seperti Gua Chauvet yang berusia sekitar 30.000 tahun. Menteri Fadli Zon dengan rendah hati menyatakan, ‘Kita tidak perlu berkompetisi. Yang terpenting, fakta ini membuka mata bahwa Indonesia adalah benua yang hilang dari peta peradaban awal—dan sekarang mulai kita temukan kembali.’
Menjaga Jejak yang Rapuh
Di tengah antusiasme, ancaman kerusakan tetap membayangi. Erosi alam, lumut, dan sentuhan tangan pengunjung yang tidak terkontrol telah meninggalkan jejak pada beberapa panel. Vandalisme masa lalu juga menyisakan coretan di dekat lukisan asli. Oleh karena itu, Kementerian Kebudayaan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyusun cetak biru konservasi yang meliputi pemasangan sensor kelembaban, pengaturan akses wisata berbasis reservasi, dan pembersihan lumut dengan metode non-kimia.
‘Ini perlombaan melawan waktu. Kita harus bergerak cepat sebelum sapuan kuas masa purba itu benar-benar lenyap,’ ujar Fadli Zon di hadapan awak media. Ia mengimbau agar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan karst ikut dilibatkan sebagai pemandu dan penjaga situs—menjadikan ekowisata budaya sebagai sumber mata pencaharian yang lestari. Sejumlah komunitas adat telah menyatakan kesiapan untuk mengaktifkan kembali tradisi lisan yang berkaitan dengan gua-gua leluhur itu.
Panggung Baru Ilmu Pengetahuan
Kurator museum-museum besar dunia dikabarkan telah menyatakan minat untuk meminjam artefak atau replika lukisan Muna bagi pameran internasional. Sementara itu, universitas-universitas ternama bersiap membuka posko penelitian di Pulau Muna. Kementerian Kebudayaan melihat ini sebagai momentum diplomasi budaya: Indonesia tidak hanya menjadi tujuan wisata alam, tetapi juga kiblat pemahaman asal-usul manusia.
Di tingkat lokal, sekolah-sekolah mulai menyusun kurikulum muatan lokal tentang kepurbakalaan Muna. ‘Anak-anak harus tahu bahwa di tanah mereka ada mahakarya yang lebih tua dari piramida,’ kata salah seorang guru. Bagi siswa, cerita tentang gua kini bukan lagi dongeng misteri, melainkan kebanggaan yang bisa mereka telusuri langsung. Fadli Zon berharap generasi mendatang akan tumbuh dengan kesadaran bahwa peradaban Nusantara adalah salah satu yang paling awal, dan bahwa penghormatan pada masa lalu adalah kunci untuk melangkah ke masa depan.
Dengan demikian, Sulawesi Tenggara tak lagi sekadar pintu gerbang jalur rempah; kini, provinsi itu berpeluang menjadi pusat prasejarah dunia, tempat setiap lapisan batu menyimpan nyanyian panjang perjalanan manusia. Lukisan-lukisan purba di Muna, dengan usianya yang mencengangkan, adalah undangan untuk mendengarkan kembali bisikan nenek moyang—dan memastikan bahwa suara mereka tidak akan pernah hilang ditelan zaman.
Baca juga:
Comments (0)