Eks ART Gugat Majikan Rp1 Miliar
Di sudut ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, seorang perempuan paruh baya dengan jilbab lusuh menggenggam erat map merah. Matanya berkaca-kaca saat namanya dipanggil. Nur Rohmah, 42 tahun, m...
Di sudut ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, seorang perempuan paruh baya dengan jilbab lusuh menggenggam erat map merah. Matanya berkaca-kaca saat namanya dipanggil. Nur Rohmah, 42 tahun, mantan asisten rumah tangga (ART), maju ke meja hijau untuk mengajukan gugatan perdata senilai Rp1 miliar terhadap Erin, majikannya di masa lalu. Bagi banyak orang, angka itu mungkin terdengar fantastis. Tapi bagi Nur, ini bukan soal uang semata — ini tentang martabat dan keadilan yang telah lama ia perjuangkan.
"Saya bukan orang yang suka ribut. Tapi kalau sudah menyangkut harga diri dan hak anak-anak saya, saya harus berani," ujarnya lirih di lorong pengadilan, suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk wartawan yang berdesakan. Air matanya tak tertahan saat ia mengingat saat-saat gelap yang mendorongnya mengambil langkah nekat ini.
Perjalanan Seorang Ibu yang Tak Pernah Menyerah
Nur datang dari desa kecil di Gunung Kidul, Yogyakarta. Ia meninggalkan suami dan dua anaknya demi bekerja di ibu kota. Selama enam tahun, ia mengabdi sebagai ART di rumah Erin, merawat anak majikan, membersihkan rumah hingga larut malam, dan menerima gaji yang tak sebanding dengan keringat yang ia keluarkan. "Setiap bulan, saya cuma dapat Rp400 ribu. Itu pun sering ditunda-tunda," kenangnya sambil menunduk. Lebih menyakitkan, ia sering mendapat perlakuan kasar — dibentak, dianggap tidak becus, bahkan dilarang pulang saat Lebaran.
Namun, puncaknya terjadi setahun lalu saat ia dipecat tanpa pesangon sepulang dari cuti panjang merawat ibunya yang sakit. "Saya pulang bawa kabar duka, ibu saya meninggal. Tapi yang saya terima justru surat pemutusan kontak dari Erin. Tidak ada salam, tidak ada terima kasih. Hanya perintah untuk tidak kembali," ceritanya dengan suara bergetar. Momen mengharukan itu yang membuatnya bangkit. Dengan bantuan LSM lokalisasi buruh migran, Nur mengumpulkan bukti slip gaji, rekaman percakapan, dan kesaksian tetangga sekitar rumah majikan. Ia menggugat dengan tuduhan pelanggaran kontrak, upah tidak layak, dan kerugian psikologis.
Di Balik Layar Perjuangan yang Tak Terlihat
Proses hukum bukanlah hal mudah bagi seorang ART seperti Nur. Ia harus bolak-balik antara Jakarta dan Gunung Kidul, meninggalkan anak-anaknya yang masih SD. "Biaya transportasi sudah habis untuk naik angkot. Kadang saya nebeng teman di truk sayur hanya agar bisa ke pengadilan," katanya dengan senyum getir. Saat ditanya apakah ia tak takut kehilangan lagi, Nur menjawab tegas, "Saya sudah kehilangan segalanya. Yang hilang bisa dicari, yang mati tidak bisa kembali. Tapi keadilan harus saya perjuangkan untuk anak-anak saya, agar mereka tahu ibunya tidak semudah itu dikalahkan."
Di setiap sidang, Nur selalu datang sendiri — tanpa pengacara mahal, hanya ditemani satu lembar kertas permohonan yang ia tulis ulang puluhan kali. Suasana ruang sidang terasa berat, namun ia teguh. Hakim pun tampak terharu saat mendengar kisahnya: bagaimana ia harus menjual satu-satunya perhiasan emas untuk membayar biaya pengacara pro bono, dan bagaimana ia menahan lapar demi memberi makan anak-anaknya.
Inspirasi dari Sebuah Mimpi Sederhana
Kisah Nur Rohmah bukan sekadar gugatan perdata. Ini adalah perjalanan seorang perempuan sederhana yang memilih berjuang di atas keadilan kata hati. "Saya hanya ingin majikan saya mengakui kesalahan. Uang Rp1 miliar itu simbol dari semua derita yang saya tanggung selama ini. Seandainya dikabulkan, saya akan gunakan untuk biaya sekolah anak-anak saya. Mereka yang akan meneruskan perjuangan saya," ujarnya sambil tersenyum. Di tengah skeptisisme publik, banyak yang menganggap gugatan ini berlebihan. Namun bagi Nur, setiap langkah yang diambil adalah bentuk keberanian untuk menyuarakan mimpi yang nyaris padam.
Hingga saat ini, sidang masih bergulir. Nur belum mendapat keputusan, tapi hatinya sudah merasa lega. "Dulu saya hanya bisa menangis dalam diam. Sekarang, setidaknya saya bisa bicara di depan hukum. Itu sudah lebih dari cukup untuk saya," pungkasnya. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, ia berdiri — seorang ibu, seorang pejuang, dan seorang yang tak pernah putus asa memperjuangkan keadilan yang tak semestinya hanya milik orang kaya.
Comments (0)