Nur Rohmah: Kisah Mantan ART yang Menggugat Rp1 Miliar

Di sebuah ruangan sederhana di pinggiran Jakarta, Nur Rohmah duduk dengan tangan gemetar memegang dokumen gugatan. Di hadapannya, tumpukan kertas berisi tuntutan yang tak hanya berbicara soal uang, ta...

Jul 19, 2026 - 11:26
0 0
Nur Rohmah: Kisah Mantan ART yang Menggugat Rp1 Miliar

Di sebuah ruangan sederhana di pinggiran Jakarta, Nur Rohmah duduk dengan tangan gemetar memegang dokumen gugatan. Di hadapannya, tumpukan kertas berisi tuntutan yang tak hanya berbicara soal uang, tapi juga tentang martabat yang selama ini ia perjuangkan. Wanita berusia 45 tahun ini — mantan asisten rumah tangga (ART) dari Rien Wartia Trigina — nekat melangkah ke jalur hukum. Ia menggugat ganti rugi sebesar Rp1 miliar atas apa yang ia sebut sebagai pengkhianatan kepercayaan dan perlakuan yang tidak manusiawi.

"Saya bukan mencari ketenaran. Saya hanya ingin keadilan. Selama bertahun-tahun saya bekerja, tapi harga diri saya seperti diinjak-injak," ujarnya lirih, matanya berkaca-kaca. Kisah Nur Rohmah bukan sekadar gugatan perdata biasa; ini adalah perjalanan seorang perempuan sederhana yang memilih bangkit dari keterpurukan.

Perjalanan Sebagai ART

Nur Rohmah mengenal Rien Wartia Trigina sejak lima tahun lalu. Saat itu, ia bekerja sebagai asisten rumah tangga yang merawat rumah dan anak-anak majikannya. "Saya menganggapnya seperti keluarga sendiri. Saya tinggal di rumah itu, membantu dari pagi hingga malam," kenangnya. Namun, di balik layar, Nur mengaku sering mendapat perlakuan yang merendahkan. Ia bercerita tentang jam kerja yang tak berkesudahan, upah yang tak sesuai janji, dan kata-kata kasar yang membuatnya merasa tak berharga.

"Setiap hari saya berjuang untuk bertahan. Tapi ada satu momen yang membuat saya sadar bahwa saya harus berhenti," kata Nur. Momen itu adalah saat ia dituduh mencuri perhiasan milik majikannya — tuduhan yang tak bisa dibuktikan. "Saya merasa dunia runtuh. Air mata saya tak berhenti mengalir. Saya tidak pernah mengambil barang orang lain, apalagi dari orang yang saya hormati," tambahnya.

Momen yang Mengubah Segalanya

Kejadian itulah yang mendorong Nur untuk meninggalkan pekerjaannya. Namun, ia tak bisa begitu saja melupakan. Luka batin yang dalam membuatnya harus berkonsultasi dengan psikolog. "Saya sering mimpi buruk. Rasanya seperti ada yang terus menghantui," ungkapnya. Dukungan dari suami dan anak-anaknya membuatnya berani mengambil langkah hukum. "Suami saya bilang, 'Bu, kalau tidak kita lawan, rasa sakit ini akan terus ada. Kita bukan orang kaya, tapi kita punya hak,'" kenang Nur sambil tersenyum tipis.

Proses pengumpulan bukti bukan perkara mudah. Nur harus mengumpulkan saksi, dokumen, dan catatan harian yang ia tulis selama bekerja. "Saya menyimpan semua pesan teks, rekaman suara, bahkan foto-foto yang menunjukkan kondisi saya saat itu. Semua itu adalah saksi bisu perjuangan saya," jelasnya. Pengacara yang membantunya pun mengaku terharu dengan keteguhan hati Nur. "Klien saya ini luar biasa. Dia seorang perempuan sederhana yang memilih berjuang, bukan diam,” ujar sang kuasa hukum.

Langkah Berani ke Meja Hijau

Gugatan Rp1 miliar yang diajukan Nur bukan tanpa pertimbangan. Ia ingin memberikan efek jera dan menjadi inspirasi bagi ART lain yang mungkin mengalami nasib serupa. "Saya tidak mau ini hanya berakhir di sini. Kalau saya diam, maka akan ada lebih banyak korban lainnya," tegasnya. Dalam sidang perdana, Nur tampil dengan pakaian sederhana namun penuh percaya diri. Ia tak gentar melihat kuasa hukum tergugat yang berpakaian rapi. "Saya hanya ingin mengatakan kebenaran. Biar hukum yang berbicara," katanya.

Di luar ruang sidang, beberapa rekan sesama ART datang mendukung. Mereka memegang spanduk bertuliskan “Keadilan untuk Pekerja Rumah Tangga” dan “Hentikan Perbudakan Modern”. Nur tersenyum haru melihat solidaritas itu. "Saya tidak sendirian. Ternyata banyak yang merasakan hal yang sama," ucapnya.

Harapan di Balik Gugatan

Terlepas dari hasil akhir, Nur Rohmah sudah merasa menang — setidaknya atas rasa takut yang selama ini menguasainya. Ia berharap kasus ini bisa membuka mata masyarakat tentang pentingnya melindungi hak-hak pekerja rumah tangga. "Kami bukan budak. Kami adalah manusia yang punya perasaan dan mimpi," katanya dengan suara bergetar.

Saat ini, Nur masih menanti keputusan hakim. Namun, apa pun hasilnya, ia telah membuktikan bahwa perjuangan seorang perempuan sederhana bisa mengguncang tatanan yang tidak adil. "Saya ingin anak cucu saya tahu bahwa neneknya pernah berjuang untuk keadilan. Itu lebih berharga dari uang Rp1 miliar," pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User