Dokter Saraf Ungkap Ngorok Saat Tidur Bisa Picu Stroke

Jakarta - Kebiasaan mendengkur atau ngorok saat tidur sering kali dianggap remeh dan hanya dianggap sebagai gangguan sepele bagi teman sekamar. Namun, menu

Jul 11, 2026 - 17:45
0 0
Dokter Saraf Ungkap Ngorok Saat Tidur Bisa Picu Stroke

Jakarta - Kebiasaan mendengkur atau ngorok saat tidur sering kali dianggap remeh dan hanya dianggap sebagai gangguan sepele bagi teman sekamar. Namun, menurut dokter spesialis saraf, mendengkur dapat menjadi sinyal bahaya yang bisa berujung pada stroke hingga demensia. Suara berisik yang dihasilkan dari saluran napas yang menyempit ini ternyata bisa menjadi gejala utama dari kondisi serius yang disebut obstructive sleep apnea (OSA). Jika tidak ditangani, OSA secara langsung meningkatkan risiko terjadinya gangguan serebrovaskular seperti stroke.

Apa Itu Obstructive Sleep Apnea (OSA)?

OSA adalah gangguan tidur serius di mana saluran napas bagian atas tersumbat secara berulang-ulang saat seseorang tertidur. Akibat sumbatan ini, aliran udara terhenti sementara — kadang hingga sepuluh detik atau lebih — yang menyebabkan kadar oksigen dalam darah turun drastis. Otak kemudian membangunkan tubuh secara refleks agar otot-otot saluran napas kembali terbuka. Siklus ini bisa terjadi puluhan bahkan ratusan kali dalam semalam, membuat penderitanya tidak pernah mencapai tidur nyenyak. “Suara dengkuran adalah suara turbulensi udara yang dipaksakan melalui lorong yang sempit. Jika disertai jeda napas panjang diikuti suara tersedak, itu tanda kuat OSA,” jelas Dr. Andini Putri, Sp.S, dalam sebuah wawancara eksklusif.

Hubungan Langsung Ngorok Berat dan Stroke

Mengapa henti napas saat tidur bisa menyebabkan stroke? Mekanismenya kompleks namun saling terkait. Saat terjadi apnea, tubuh mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) dan hiperkapnia (peningkatan karbon dioksida). Kondisi ini memicu respons stres yang melepaskan hormon adrenalin dan kortisol, menyebabkan lonjakan tekanan darah dan denyut jantung yang tidak normal. Seiring waktu, hal ini dapat memicu:

  • Fibrilasi atrium: Irama jantung tidak teratur yang menjadi faktor risiko utama stroke iskemik.
  • Hipertensi resisten: Tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan, bahkan dengan obat-obatan, merupakan kontributor utama pecahnya pembuluh darah otak (stroke hemoragik).
  • Aterosklerosis: Stres oksidatif dan peradangan kronis akibat apnea mempercepat pembentukan plak di arteri, termasuk arteri yang menuju otak.
  • Gangguan koagulasi: Hipoksia berulang membuat darah cenderung lebih mudah membeku, meningkatkan risiko penyumbatan.

Meta-analisis yang diterbitkan di jurnal Lancet Respiratory Medicine menunjukkan bahwa penderita OSA memiliki risiko stroke 2–3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan populasi umum, bahkan setelah disesuaikan dengan faktor risiko klasik seperti diabetes dan kolesterol.

Gejala Tersembunyi yang Patut Diwaspadai

Tidak semua orang yang ngorok menderita OSA, namun ada beberapa tanda penyerta yang menjadi ‘alarm’ untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis saraf atau spesialis tidur:

  • Sering terbangun dengan sensasi tersedak atau napas terengah-engah.
  • Sakit kepala di pagi hari yang muncul tanpa sebab jelas lainnya.
  • Rasa mengantuk berlebihan di siang hari (hipersomnia) yang mengganggu aktivitas kerja atau berkendara.
  • Penurunan konsentrasi, mudah lupa, dan perubahan suasana hati yang mirip gejala depresi.
  • Mulut kering atau sakit tenggorokan saat bangun tidur karena seringnya bernapas lewat mulut.

“Seringkali pasien datang dengan keluhan sakit kepala kronis dan lemah separuh badan. Setelah dilakukan pemeriksaan polisomnografi, ternyata penyebab utamanya adalah apnea tidur berat yang sudah menyebabkan stroke ringan (TIA) tanpa disadari,” ungkap Dr. Andini.

Diagnosis dan Penanganan OSA untuk Cegah Stroke

Langkah pertama adalah menjalani polisomnografi (sleep study) untuk merekam aktivitas gelombang otak, pergerakan mata, otot, napas, dan kadar oksigen sepanjang malam. Bila terdiagnosis OSA, terapi utama adalah penggunaan mesin CPAP (Continuous Positive Airway Pressure), yaitu alat yang mengalirkan tekanan udara ringan melalui masker untuk menjaga saluran napas tetap terbuka. “Dengan menggunakan CPAP secara teratur, risiko kardiovaskular dan stroke bisa turun secara signifikan,” kata Dr. Andini.

Selain CPAP, penatalaksanaan meliputi perubahan gaya hidup seperti menurunkan berat badan, berhenti merokok, dan menghindari alkohol. Pada kasus tertentu, prosedur pembedahan untuk memperbaiki struktur saluran napas juga dapat dilakukan. Penting untuk diingat bahwa mengatasi OSA bukan hanya soal kenyamanan tidur, tetapi investasi jangka panjang untuk melindungi otak dan jantung.

Jadi, jika pasangan Anda mengeluh tentang dengkuran Anda yang terlalu keras, jangan abaikan. Jadikan itu sebagai momen untuk memeriksakan kesehatan serius Anda. Sebab, diam-diam, si ‘raksasa tidur’ ini bisa menjadi pemicu serangan otak yang mematikan.

[SOCIAL_TWEET]: Suara ngorok bukan cuma bikin pasangan kesal, tapi bisa jadi alarm stroke! Dokter saraf jelaskan hubungan obstructive sleep apnea dengan risiko pecah pembuluh darah otak. Cek gejalanya & jangan abaikan! #SleepApnea #StrokeAwareness #KesehatanOtak[SOCIAL_TG]: 🛌💤 Ngorok saat tidur bisa jadi silent killer! Dokter ungkap risiko stroke dan demensia akibat obstructive sleep apnea. Gejalanya? Sakit kepala pagi, mengantuk berat siang hari, dan ngorok disertai tersedak. Wajib waspada!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User