Suara Lirih dari Ruang Konferensi: Ratna Riantiarno Bicara Asa untuk Kesehatan Mental
Udara di lobi utama Rumah Sakit Jiwa itu terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena lembap Jakarta yang menyergap di pertengahan Juli, melainkan oleh jejak sunyi yang ditinggalkan oleh ribuan pasa...
Udara di lobi utama Rumah Sakit Jiwa itu terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena lembap Jakarta yang menyergap di pertengahan Juli, melainkan oleh jejak sunyi yang ditinggalkan oleh ribuan pasang mata yang pernah menatap kosong ke luar jendela. Di sudut ruang pertemuan, seorang perempuan berambut pendek dengan balutan kebaya abu-abu muda duduk tenang di deretan kursi depan. Tangannya sesekali meremas secarik kertas, lalu melepaskannya lagi. Itu bukan kertas biasa—di sana tertulis puisi pendek yang diberikan seorang pasien tadi pagi, tentang hujan dan harapan yang tak kunjung reda. Perempuan itu, Ratna Riantiarno, melangkah ke podium dengan suara yang nyaris bergetar. Namun tatapannya teguh: ia bukan sekadar berbicara. Ia adalah jembatan bagi suara-suara yang selama ini hanya bergema di balik tembok sunyi.
Konferensi pers yang digelar di Rumah Sakit Jiwa Jakarta, Kamis (10/7/2026), memang tampak seperti jumpa media biasa. Namun sejak menit pertama, ruang itu berubah menjadi ruang dengar. Bukan tentang angka atau program institusi, melainkan tentang manusia di balik stigma. Ratna, yang dikenal sebagai pegiat seni dan kesehatan mental, hadir bukan untuk membacakan data yang kaku; ia membawa potongan-potongan kisah yang selama belasan tahun ia temui. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, suara tawanya yang pelan berbenturan dengan isak tangis yang ditahannya sendiri.
Lebih dari Sekadar Bangunan
Rumah Sakit Jiwa sering kali digambarkan sebagai tempat yang menakutkan: jeruji besi, tatapan hampa, dan lorong-lorong yang menggema oleh suara-suara tak terjangkau nalar. Namun Ratna mengajak hadirin untuk melihat lebih dalam. "Kalau kita hanya melihat dindingnya, kita akan pulang membawa ketakutan. Tapi kalau kita berani masuk dan duduk di samping mereka yang di dalam, kita akan pulang membawa cermin," ucapnya, suaranya lirih namun menusuk. Cermin yang ia maksud bukan sekadar refleksi fisik, melainkan pengingat bahwa setiap manusia bisa rapuh, bahwa kondisi mental adalah bagian dari kemanusiaan yang justru harus dijaga, bukan dijauhi.
Ratna bercerita tentang sepasang suami istri yang baru pertama kali mengunjungi rumah sakit jiwa untuk menjenguk anak mereka yang dirawat karena skizofrenia. Sang ayah, seorang buruh bangunan, berdiri kaku di depan pintu bangsal, enggan melangkah masuk. Perlu waktu dua jam bagi Ratna untuk meyakinkan bahwa sang anak yang tertawa sendiri di sudut ranjang tetaplah putra yang dulu suka memanjat pohon jambu di belakang rumah. Momen itu, kenang Ratna, mengajarkan bahwa penyembuhan sejati dimulai ketika keluarga berhenti merasa malu.
Jejak Luka dan Benih Asa
Dalam kesempatan itu, Ratna membacakan sepenggal catatan dari seorang remaja berinisial D, yang sudah tiga bulan menjalani terapi. "Aku ingin Ibu tahu, di sini aku belajar bahwa tanganku yang suka gemetar bukan kutukan. Di sini aku diajari menggambar, dan gemetar itu ternyata bisa jadi garis-garis indah," begitu bunyi catatan itu. Suasana hening seketika. Beberapa jurnalis menunduk, menyembunyikan mata yang mulai berkaca. Ratna menyeka ujung matanya, lalu melanjutkan, "Dulu saya pikir, kesehatan mental adalah soal obat dan dokter. Tapi setelah bertahun-tahun mendampingi, saya sadar ia adalah soal dilihat dan didengar."
Bukan hanya cerita sedih yang mengalir. Ratna juga menyelipkan kisah-kisah tentang bangkit. Seorang mantan pasien, yang kini menjadi relawan di komunitas yang sama, diam-diam hadir di antara hadirin. Ia tersenyum malu-malu ketika Ratna menyebut namanya—sudah setahun ia bekerja sebagai barista berkat program pelatihan yang diselenggarakan rumah sakit dan mitra swadaya. "Dulu saya dikurung di rumah sendiri oleh keluarga karena malu. Sekarang saya yang membuatkan kopi untuk mereka," katanya, memancing tawa haru dari seluruh ruangan.
Menyalakan Lilin di Tengah Badai
Di tengah konferensi pers, Ratna meluncurkan sebuah gerakan bernama "Rangkul Tanpa Syarat"—sebuah inisiatif sederhana yang mengajak masyarakat untuk menghentikan penggunaan kata-kata yang menyakiti, seperti "gila" atau "sinting", yang sering terlontar tanpa pikir. Baginya, perubahan besar harus dimulai dari bahasa, karena di sanalah luka paling dalam sering bersemayam. "Satu kata bisa memadamkan lilin kecil yang sedang berusaha menyala di hati seseorang," tegasnya. Gerakan ini akan melibatkan sekolah, pasar tradisional, hingga warung kopi—tempat-tempat di mana interaksi paling alami terjadi.
Ratna menutup sesi dengan memberikan satu puisi yang ia tulis sendiri untuk para pasien: "Kita adalah taman yang sama, hanya bunga yang berbeda—ada yang mekar di pagi, ada yang butuh hujan lebih lama." Tepuk tangan menyambut, tapi yang lebih keras adalah keheningan setelahnya: keheningan yang membawa pulang pertanyaan, bukan lagi penghakiman. Di luar, langit Jakarta mulai mendung, seolah ikut menyimpan sejuta cerita yang belum sempat terucap.
Hari itu, sebuah rumah sakit jiwa bukan lagi sekadar gedung putih kusam dengan pagar tinggi. Ia menjelma menjadi saksi bahwa dari dalam ruang-ruang yang kerap dilupakan, bisa lahir mimpi-mimpi sederhana yang menyembuhkan. Dan Ratna Riantiarno, dengan suara lirihnya, telah menyalakan satu lilin lagi—bukan untuk menerangi seluruh dunia, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa di sekitar kita selalu ada tangan yang siap merangkul, tanpa syarat.
Baca juga:
Comments (0)