Di Usia 89, Irtja Tangahu Hadju Persembahkan Buku Gorontalo: Takdir Pohala’a

Sebuah perhelatan sederhana namun sarat makna berlangsung di sebuah ruang pertemuan di Kota Gorontalo pada akhir pekan lalu. Di tengah hadirin yang terdiri dari keluarga, akademisi, dan tokoh budaya, ...

Jul 13, 2026 - 13:36
0 0

Sebuah perhelatan sederhana namun sarat makna berlangsung di sebuah ruang pertemuan di Kota Gorontalo pada akhir pekan lalu. Di tengah hadirin yang terdiri dari keluarga, akademisi, dan tokoh budaya, seorang lelaki sepuh naik ke podium. Suaranya bergetar, bukan karena usia yang telah menginjak 89 tahun, melainkan oleh emosi yang tertahan selama dua dekade. Dialah Irtja Tangahu Hadju, yang pada hari itu secara resmi meluncurkan buku bertajuk Gorontalo: Takdir Pohala’a. Karya monumentalnya ini merupakan buah dari perjalanan riset panjang yang ia mulai ketika masih berusia 69 tahun.

Dua Puluh Tahun Merangkai Ingatan

Perjalanan intelektual Hadju bukanlah perjalanan instan. Sejak tahun 2000-an awal, ia mulai merasa gelisah melihat semakin tergerusnya ingatan kolektif masyarakat Gorontalo akan sejarah dan identitas mereka sendiri. Baginya, modernisasi yang pesat membawa kemajuan, tetapi juga menyisakan kekosongan apabila warisan leluhur tidak dirawat dengan saksama. Kegelisahan itulah yang menggerakkan langkah kakinya mendatangi para tetua adat, membuka arsip-arsip tua yang nyaris terlupakan, dan menghabiskan waktu tak terhitung di perpustakaan-perpustakaan daerah hingga nasional.

Hadju menyadari bahwa penulisan sejarah Gorontalo tidak bisa hanya bertumpu pada sumber tertulis yang terbatas. Ia harus menyelami tradisi lisan, menafsirkan simbol-simbol dalam upacara adat, dan memahami petuah-petuah kuno yang hanya dihafal oleh segelintir orang. “Saya tidak sedang menulis buku sejarah biasa. Saya sedang merangkai kembali memori yang nyaris putus. Ingatan yang jika tidak dicatat, akan lenyap bersama generasi yang mewarisinya,” ungkap Hadju dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di sela-sela acara peluncuran.

Buku setebal lebih dari 400 halaman ini memotret perjalanan sistem kemasyarakatan Gorontalo dari masa kerajaan-kerajaan kecil (pohala’a) hingga era kontemporer. Konsep pohala’a sendiri menjadi fondasi utama analisis Hadju. Ia memaknainya bukan sekadar unit politik, melainkan takdir budaya yang membentuk karakter masyarakat Gorontalo. Dalam pandangannya, pohala’a adalah cermin tata nilai adati hula-hula’a to Syara’, Syara’ hula-hula’a to Kitabullah (Adat bersendikan Syariat, Syariat bersendikan Kitabullah) yang sudah mengakar selama berabad-abad.

Merawat Benang Merah Identitas

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada upayanya menunjukkan benang merah antara masa lalu dan masa kini. Hadju tidak hanya memaparkan kronik raja-raja, tetapi juga mengulas bagaimana struktur sosial tradisional memengaruhi dinamika politik lokal hingga hari ini. Ia menelusuri jejak para pemimpin adat dan ulama yang berperan sebagai penjaga keseimbangan, serta bagaimana mereka bernegosiasi dengan kekuatan kolonial tanpa kehilangan jati diri.

Hadju juga menyoroti peran penting tradisi Huyula—semangat gotong royong—sebagai perekat komunitas. Dalam risetnya, ia menemukan bahwa praktik Huyula bukan semata aktivitas fisik, melainkan manifestasi spiritual yang mengajarkan bahwa setiap individu adalah bagian dari takdir kolektif. “Inilah yang saya sebut Takdir Pohala’a. Kita tidak bisa memisahkan diri dari akar. Identitas itu soal takdir, dan takdir itu harus dirawat dengan kesadaran,” jelasnya.

Proses penulisan bukan tanpa tantangan. Hadju mengakui bahwa mengakses sumber primer seringkali menemui tembok birokrasi dan wabah ketidakpercayaan. Beberapa manuskrip tua dalam aksara Arab-Melayu (Pegon) yang tersimpan di tangan pewaris keluarga kerabat kerajaan baru bisa dibuka setelah ia menjalin kedekatan personal bertahun-tahun. Selain itu, kesehatan yang menurun akibat usia lanjut memaksanya untuk mendiktekan bagian-bagian akhir buku kepada seorang relawan muda. Namun semangatnya tidak surut. “Setiap halaman yang selesai saya tulis, saya merasa seperti menanam bibit untuk anak cucu,” tuturnya.

Warisan untuk Generasi Muda

Peluncuran buku ini disambut haru oleh para akademisi dan pegiat budaya yang hadir. Sejarawan lokal, Dr. Salma Ismail, menyebut karya Hadju sebagai “saksi peradaban” yang selama ini absen dari rak-rak sejarah nasional. “Buku ini tidak hanya mengisi kekosongan literatur tentang Gorontalo, tetapi juga menjadi penegas bahwa daerah memiliki perspektif sendiri dalam membaca perjalanan bangsa,” ujarnya.

Hadju sendiri berharap bahwa Gorontalo: Takdir Pohala’a tidak sekadar menjadi pajangan di perpustakaan. Ia membayangkan buku ini akan menjadi bahan ajar bagi siswa dan mahasiswa agar mereka tumbuh dengan kebanggaan terhadap asal-usulnya. Di akhir acara, ia membagikan puluhan eksemplar secara cuma-cuma ke sejumlah sekolah dan perpustakaan desa. “Ini bukan milik saya. Ini milik seluruh Gorontalo. Saya cuma alat untuk menyampaikan pesan dari masa lalu,” pungkasnya dengan senyum teduh.

Sosok Irtja Tangahu Hadju adalah bukti bahwa usia hanyalah angka dan dedikasi tidak mengenal batas waktu. Dari ruang kerjanya yang sederhana, ia telah mewariskan sebuah permata yang akan terus bercahaya bagi generasi mendatang. Karyanya bukan sekadar buku; ia adalah ikrar cinta seorang anak manusia kepada tanah dan leluhurnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User