Lionel Scaloni dan Senyum yang Meredakan Sejarah

Hening sejenak. Di ruang pers yang sesak di Media Center Lusail, puluhan jurnalis dari dua benua saling pandang saat Lionel Scaloni masuk, mengenakan setelan abu-abu sederhana dengan langkah tenang. S...

Jul 13, 2026 - 14:12
0 0

Hening sejenak. Di ruang pers yang sesak di Media Center Lusail, puluhan jurnalis dari dua benua saling pandang saat Lionel Scaloni masuk, mengenakan setelan abu-abu sederhana dengan langkah tenang. Semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris bukan sekadar pertandingan sepak bola bagi sebagian besar dunia—ia adalah palung sejarah yang dipenuhi luka Malvinas, “Tangan Tuhan,” dan kartu merah David Beckham. Tapi pagi itu, sang pelatih membawa senyum teduh seolah meredakan bara yang puluhan tahun tak padam.

Negarawan di Tepi Lapangan

Scaloni duduk, menyesap air putih, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Sorot matanya tidak mencari konfrontasi. Ketika salah satu wartawan Inggris mengangkat tangan dan bertanya tentang “rumitnya hubungan kedua negara,” ia tersenyum tipis. “Saya mengerti ini laga yang punya banyak cerita,” katanya perlahan, “tapi di dalam garis lapangan, cerita itu tidak berlaku.” Kalimat itu bukan sensor politik; lebih seperti doa agar dunia melihat 22 pemain yang berlari, bukan dua kedaulatan yang pernah bersitegang.

Dari belakang panggung, delegasi Argentina dan Inggris yang semalam sebelumnya sempat bertemu dalam jamuan formal, menggeleng-geleng kecil. Mereka tahu, suhu media bisa menyulut hal-hal di luar kendali. Namun Scaloni—seorang pria yang dulu hanya dianggap sebagai pelatih sementara—kini tampil layaknya negarawan. Ia memilih panggungnya bukan di podium diplomasi, melainkan di tepi lapangan hijau, dan pesannya lurus: sepak bola harus menjadi perekat, bukan sobekan baru.

Meluruhkan Bayang-Bayang Malvinas

Di Buenos Aires, mural-mural tentang “Las Malvinas son argentinas” masih menghiasi sudut jalan. Di London, para veteran Perang Falklands kadang masih menyimpan getir. Tapi Scaloni, yang lahir di Pujato—desa kecil dengan 3.000 penduduk—membawa pendekatan manusiawi. Ia bercerita tentang masa kecilnya bermain bola di tanah berlumpur, di mana tetangga keturunan Inggris dan Argentina bercanda bersama. “Yang pernah saya pelajari dari hidup sederhana: orang-orang tidak saling benci karena sepak bola. Justru sebaliknya, bola bisa menjadi bahasa yang dipahami semua orang, melampaui peta dan bendera.

Yang pernah saya pelajari dari hidup sederhana: bola bisa menjadi bahasa yang dipahami semua orang, melampaui peta dan bendera.

Ucapannya itu segera beredar di grup-grup WhatsApp keluarga pemain. Alexis Mac Allister, gelandang Albiceleste yang juga bermain untuk Liverpool, menyebut pelatihnya sebagai “tuan rumah yang merangkul tamu meski pertandingan belum dimulai.” Ibu Mac Allister, Silvana, berkaca-kaca membaca berita itu. “Dia tahu anak saya punya banyak teman di Inggris. Scaloni bukan hanya menjaga skuadnya, dia menjaga hati setiap keluarga yang menitipkan anaknya di Piala Dunia,” tulis Silvana di Twitter pribadinya.

Jembatan di Tengah Teriakan Fanatik

Sore harinya, di Hotel Al Messila, Scaloni mengumpulkan seluruh pemain. Bukan untuk membahas taktik, melainkan menayangkan cuplikan pendek: potongan video tentang sportsmanship. Terlihat adegan Bobby Moore dan Pelé bertukar jersey di Piala Dunia 1970, lalu potongan momen Lionel Messi berpelukan dengan Jamie Vardy seusai finalissima 2022. “Ini yang kita bawa ke lapangan,” ujarnya dengan suara nyaris berbisik. “Mereka akan meneriakkan sejarah, kita jawab dengan gol. Mereka akan mengibarkan bendera masa lalu, kita jawab dengan operan.”

Striker Lautaro Martínez menceritakan momen itu sebagai “titik balik perasaan tim.” “Biasanya sebelum laga besar kami tegang, tapi kali ini coach membuat kami justru merasa bertanggung jawab menjaga suasana. Bukan hanya untuk Argentina, tapi juga untuk jutaan orang yang akan menonton dan menginginkan laga bersih.” Di sisi lain, kapten Inggris Harry Kane menyambut baik inisiatif itu. “Kami semua profesional. Kami tahu ada cerita panjang, tapi di lapangan kami saudara,” kata Kane dalam sesi jumpa pers terpisah. Kata “saudara” itu bergema sampai ke kolom komentar media sosial yang biasanya panas, dan tiba-tiba puluhan ribu warganet membalas dengan emoji dua bendera bersilang.

Di tribun, federasi kedua negara sepakat memutar lagu tema resmi Piala Dunia “Hekayat Al Salam” (Cerita Perdamaian) tepat sebelum kick-off. Langkah kecil ini adalah hasil lobi Scaloni kepada presiden AFA, yang awalnya ragu tetapi kemudian setuju setelah menyaksikan dampak kata-kata pelatihnya di media. Kini, bukan hanya Argentina dan Inggris yang menanti. Seluruh dunia menunggu apakah denting peluit wasit akan menjadi sinyal perdamaian sejati.

Senja di Doha menutup hari terakhir sebelum semifinal. Scaloni berdiri di pinggir lapangan latihan, memperhatikan Messi dan De Paul tertawa lepas. Di kejauhan, para jurnalis masih mengetik berita dengan narasi rivalitas. Tapi bagi pria berjaket biru itu, yang terpenting adalah bunyi bola yang berdebum lembut di atas rumput—bunyi yang mengisahkan bahwa sepak bola, pada akhirnya, adalah perjalanan manusia yang jauh lebih sederhana daripada dendam dan politik.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User