Di Gerai Mungil IKN, Asa Produk Lokal Menemukan Panggungnya
Di sudut sebuah bangunan semi permanen yang masih samar-samar menguarkan aroma kayu baru, seorang perempuan separuh baya menyusun satu per satu anyaman rotan di atas meja pajangan. Jemarinya bergerak ...
Di sudut sebuah bangunan semi permanen yang masih samar-samar menguarkan aroma kayu baru, seorang perempuan separuh baya menyusun satu per satu anyaman rotan di atas meja pajangan. Jemarinya bergerak luwes, sesekali menyeka keringat yang menetes di pelipis. Matanya menerawang sejenak ke arah jalanan Ibu Kota Nusantara yang masih dipenuhi alat berat dan material pembangunan. Ada keharuan yang sulit disembunyikan dari wajah Sari—itulah kali pertama produk buatannya mejeng di sebuah gerai resmi di jantung proyek strategis nasional.
Gerai berukuran sekitar tiga kali empat meter itu hanyalah satu dari puluhan booth yang disediakan oleh Otorita IKN bersama mitra-mitra pembangunan. Lewat program ini, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah tak lagi sekadar menjadi penonton di tengah gegap gempita pembangunan. Mereka kini menjelma bagian dari kisah besar yang sedang ditulis di atas tanah Kalimantan Timur.
Dari Dapur Sempit ke Etalase Kebanggaan
Perjalanan Sari mengisahkan betapa tidak mudahnya meniti jalan sebagai perajin anyaman di era produk pabrikan. Bertahun-tahun ia hanya mengandalkan pesanan tetangga dan sesekali lapak dadakan di pasar rakyat. "Kadang sehari cuma laku satu potong, itu pun sudah bikin hati berbunga," kenangnya dengan suara bergetar. Kini, berdiri di gerai yang dikelola bersama para mitra pembangunan, ia seakan tak percaya bahwa anyaman rotan tradisionalnya bisa dipajang di tempat yang begitu prestisius.
Tidak sekadar menyediakan ruang pajang, Otorita IKN juga menghadirkan pendampingan intensif. Para pelaku UMKM diajari cara mengelola stok, mengatur pembukuan sederhana, hingga memanfaatkan sistem pembayaran digital. Tujuannya tak lain agar mimpi-mimpi kecil seperti milik Sari bisa tumbuh berkelanjutan, tidak hanya ramai di awal lalu tenggelam tanpa jejak.
Apresiasi yang Melampaui Angka
Di balik gemerlap pembangunan fisik IKN, ada perhatian serius terhadap pemanfaatan komponen dan produk dalam negeri. Inilah yang menjadi sorotan utama Komisi VII DPR RI saat mengunjungi kawasan inti ibu kota baru. Mereka melihat langsung bagaimana gerai-gerai UMKM diisi hampir seluruhnya oleh produk lokal—dari kerajinan tangan, kuliner khas, hingga material bangunan ringan buatan perajin setempat.
"Ini bukan sekadar soal target persentase kandungan lokal," ujar salah satu anggota dewan yang hadir dalam kunjungan tersebut, suaranya penuh penekanan. "Ini tentang menjaga harga diri bangsa, tentang memastikan bahwa pelaku usaha kecil ikut merasakan manfaat dari proyek sebesar ini." Kata-kata itu membekas dalam ingatan Sari yang mendengarnya dari kejauhan. Bagi dia, apresiasi semacam itu bak suntikan semangat yang tak terhingga.
Sari pun bercerita tentang momen haru yang dialaminya ketika seorang pejabat berhenti cukup lama di depan gerainya, mengamati detail anyaman, lalu membeli dua buah tas rotan untuk oleh-oleh. "Saya sampai menitikkan air mata, Pak. Rasanya seperti diakui setelah puluhan tahun bekerja," tuturnya lirih sambil tersenyum. Momen itu membuktikan bahwa apresiasi tak selalu harus hadir dalam bentuk penghargaan formal. Satu tindakan kecil dari pemangku kebijakan sudah cukup untuk menghidupkan kembali asa yang nyaris padam.
Ruang Kolaborasi yang Melahirkan Harapan Baru
Kehadiran gerai-gerai UMKM di IKN adalah buah dari kolaborasi erat antara Otorita IKN dengan berbagai pihak, termasuk kontraktor dan investor pembangunan. Para mitra ini turut bertanggung jawab dalam pengelolaan booth, memastikan setiap produk yang dipajang memenuhi standar kualitas sekaligus tetap mempertahankan keunikan lokalnya. Dengan begitu, perluasan akses pasar yang diimpikan para pelaku UMKM tidak berhenti pada seremoni peresmian saja, melainkan berlanjut menjadi ekosistem usaha yang saling menguatkan.
Bagi Sari dan puluhan pelaku UMKM lainnya, gerai di IKN hanyalah permulaan. Mereka bermimpi produknya bisa menembus pasar yang lebih luas, bahkan hingga ke luar negeri, membawa nama Indonesia dari sudut-sudut paling sederhana di ibu kota baru. "Kalau ada kemauan dan ada yang mendukung, kenapa tidak?" ucap Sari dengan nada optimis yang menular.
Di tengah hingar-bingar mesin konstruksi dan perlahan berdirinya gedung-gedung pencakar langit, cerita Sari menjadi pengingat bahwa sebuah ibu kota tidak semata dibangun dari beton dan baja. Ia juga tumbuh dari tangan-tangan perajin yang gigih, dari perjuangan tanpa henti, dan dari keyakinan bahwa setiap produk lokal layak mendapatkan panggungnya sendiri. IKN, dengan segala kemegahan yang sedang dibangun, kini juga menjadi saksi bahwa di balik setiap gerai mungil, bersemayam mimpi yang tak kenal kata menyerah.
Baca juga:
Comments (0)