Di Balik Gemerlap Desember, Mereka Memilih Jalan Sendiri
Di sudut kota yang mulai berhias lampu warna-warni, seorang perempuan berambut pendek duduk sendiri di balkon apartemennya. Ia menatap ke bawah, menyaksikan antrean mobil yang akan menuju pusat perbel...
Di sudut kota yang mulai berhias lampu warna-warni, seorang perempuan berambut pendek duduk sendiri di balkon apartemennya. Ia menatap ke bawah, menyaksikan antrean mobil yang akan menuju pusat perbelanjaan untuk berburu hadiah Natal. Tangannya menggenggam secangkir teh hangat. Tidak ada pohon cemara atau dekorasi merah-hijau di ruang tamunya. Baginya, Desember bukanlah bulan perayaan, melainkan waktu untuk merenung.
Perempuan itu adalah salah satu dari sedikit publik figur yang, di tengah budaya arus utama yang gemar merayakan Natal dengan gegap gempita, memilih untuk tidak ikut serta. Bukan karena kebencian atau ketidakpedulian, melainkan karena keyakinan, pergulatan batin, atau luka masa lalu yang menjadikan bulan Desember bukan lagi panggung sukacita.
Bukan Soal Toleransi, Melainkan Keyakinan Pribadi
Bagi sebagian artis Muslim, menghindari perayaan Natal adalah bagian dari prinsip akidah. Mereka tidak sekadar menolak ikut ibadah, tetapi juga menolak elemen-elemen perayaan yang dianggap mencampuradukkan keyakinan. Namun, sikap ini seringkali disalahpahami. "Saya tidak anti-Natal. Saya hanya tidak merayakannya. Itu hak saya, seperti orang lain punya hak merayakannya," ujar seorang penyanyi dangdut ternama yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku lebih memilih menghabiskan malam 24 Desember bersama keluarga, menonton film, atau sekadar tidur lebih awal.
Pilihan ini, katanya, justru mendatangkan kedamaian. Tidak ada tekanan sosial untuk tampil bahagia hanya karena kalender menunjukkan tanggal tertentu. Ia menolak undangan pesta Natal dari rekan-rekan artis dengan sopan, tanpa merasa perlu menjelaskan panjang lebar. "Teman-teman saya yang Kristen juga sudah paham. Mereka menghormati. Justru kalau saya datang, nanti mereka yang merasa tidak enak karena harus menyediakan makanan halal atau menjaga suasana," tambahnya sambil tersenyum kecil.
Luka Lama di Bulan yang Katanya Penuh Cinta
Tidak semua penolakan terhadap Natal didasari oleh agama. Ada publik figur yang menyimpan trauma mendalam justru pada momen yang identik dengan kehangatan keluarga ini. Seorang aktor film layar lebar, sebut saja Bima, kehilangan ibunya tepat pada malam Natal sepuluh tahun lalu. Sejak saat itu, setiap kali mendengar lagu-lagu Natal, dadanya terasa sesak. "Bagi banyak orang, Jingle Bells adalah melodi gembira. Bagi saya, itu adalah soundtrack kehilangan terdalam dalam hidup saya," kisahnya, matanya menerawang ke masa lalu.
Bima bukanlah pemeluk agama Islam yang ketat; ia seorang Katolik yang dibesarkan dalam tradisi perayaan Natal. Namun, kematian sang ibu membuatnya memutuskan untuk menghindari semua ritual. "Saya tidak lagi bisa duduk di depan pohon Natal tanpa dibanjiri kenangan tentang Ibu. Saya memilih untuk tidak memaksakan diri. Saya hanya pergi ke gereja untuk misa malam Natal, lalu pulang. Tidak ada perayaan," ungkapnya. Ia bahkan sempat dicibir kerabat yang menganggapnya aneh. Tapi Bima memilih untuk memprioritaskan kesehatan mentalnya.
Menemukan Makna di Luar Gemerlap
Di dunia hiburan yang penuh pesta dan sorotan, menolak perayaan Natal bisa dianggap sebagai tindakan yang merusak jaringan pertemanan. Tapi ada juga yang menemukan kebebasan darinya. Seorang komedian tunggal, yang dikenal dengan nama panggung Cak Dika, malah menjadikan Desember sebagai bulan untuk berlibur ke tempat-tempat sepi. "Saya sudah bosan dengan kemacetan dan hiruk-pikuk pusat perbelanjaan. Setiap Desember, saya dan istri pergi ke desa terpencil, mencari homestay yang tidak memasang dekorasi Natal, dan menikmati alam. Itu cara kami merayakan kehidupan tanpa ikut-ikutan tren," katanya.
Baginya, pilihan ini bukanlah bentuk eksklusivitas, melainkan bentuk perlawanan terhadap konsumerisme. Ia merasa bahwa perayaan Natal telah bergeser menjadi ajang pamer hadiah dan pesta pora. "Natal itu aslinya sederhana: palungan dan bayi di kandang domba. Tapi sekarang berubah jadi pohon plastik dan diskon besar-besaran. Saya memilih untuk mencari kesederhanaan itu di tempat lain," jelasnya, diiringi tawa renyah yang menjadi ciri khasnya.
Ketika Diam Menjadi Pilihan yang Paling Jujur
Di tengah gempita media sosial yang dipenuhi ucapan "Selamat Natal" dan foto-foto perayaan, para publik figur ini memilih diam. Bukan karena tidak menghargai teman-teman yang merayakan, melainkan karena diam adalah ekspresi paling jujur dari posisi mereka. Mereka tidak ingin berpura-pura. Mereka memahami bahwa di Indonesia yang majemuk, perbedaan pilihan ini tidak perlu diributkan, selama saling menghormati tetap dijaga.
Seorang psikolog sosial, saat dimintai komentar, menjelaskan bahwa fenomena ini semakin umum di era di mana batas-batas antara wilayah privat dan publik semakin kabur. "Orang-orang sekarang lebih berani menyatakan pilihan personal mereka, termasuk memilih untuk tidak merayakan suatu hari besar. Itu adalah hak asasi. Yang penting, jangan sampai pilihan itu diiringi dengan ujaran kebencian terhadap pihak lain," ujarnya.
Kisah-kisah ini mengingatkan kita bahwa Desember tidak selalu identik dengan kegembiraan bagi semua orang. Ada mereka yang memilih berjalan di jalan yang berbeda, bukan karena benci, tetapi karena mereka ingin setia pada diri sendiri. Di balik gemerlap lampu dan hingar-bingar lagu Natal, selalu ada cerita sunyi yang menunggu untuk didengarkan.
Comments (0)