Di tengah gempuran konten digital dan media sosial yang masif, kabar membanggakan datang dari kalangan generasi muda di Kota Denpasar, Bali. Alih-alih larut dalam tren modern semata, minat para pelajar tingkat sekolah menengah pertama (SMP) untuk mendalami seni melantunkan kidung suci keagamaan Hindu atau Dharmagita justru menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Fenomena positif ini terlihat jelas di sejumlah sekolah, antara lain SMPN 15 Denpasar dan SMPN 11 Denpasar. Puluhan peserta didik secara konsisten meluangkan waktu di luar jam belajar formal untuk menekuni pelafalan sloka, palawakya, hingga kidung keagamaan yang sarat nilai spiritual dan kearifan lokal.
Dukungan Penuh Sekolah Pacu Semangat Generasi Muda
Kepala SMPN 15 Denpasar, Dra. Ni Wayan Purnasih, membeberkan bahwa saat ini terdapat sedikitnya 23 siswa yang aktif terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler Utsawa Dharmagita. Menurutnya, antusiasme siswa tidak tumbuh secara instan, melainkan dipicu oleh ekosistem pembelajaran yang suportif serta apresiasi nyata dari pihak sekolah.
"Di SMP Negeri 15 Denpasar siswa termotivasi untuk ikut dalam ekstrakurikuler Utsawa Dharmagita karena setiap kegiatan, baik latihan maupun lomba, pihak sekolah sangat mendukung dan mengapresiasi siswa yang mendapat juara," ungkap Ni Wayan Purnasih.
Tidak hanya terpaku pada teori di ruang kelas, para siswa juga langsung dilibatkan dalam praktik keagamaan dan berbagai ajang kompetisi bergengsi guna mengasah mental serta kepercayaan diri mereka.
Kronologi Pembinaan: Dari Ruang Latihan ke Panggung Festival
Pola pembinaan ekstrakurikuler seni sastra dan kidung keagamaan di sekolah dirancang terstruktur agar para siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang dipelajari secara berkelanjutan:
- Latihan Rutin Mingguan: Siswa mengikuti pendalaman teknik vokal, penghayatan lirik, serta pemenggalan wirama kidung setiap pekan di bawah bimbingan guru dan pembina ahli.
- Penerapan dalam Ritual Keagamaan: Siswa diberi panggung nyata untuk melantunkan Dharmagita pada persembahyangan berkala seperti Rahina Purnama, Tilem, hingga upacara Piodalan Hari Suci Saraswati di lingkungan sekolah.
- Unjuk Gigi di Ajang Kompetisi: Sekolah mendaftarkan talenta-talenta muda ini ke berbagai perlombaan tingkat kota maupun provinsi, mulai dari Bulan Bahasa Bali, Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), Pekan Seni Remaja (PSR), hingga ajang resmi Utsawa Dharmagita.
SMPN 11 Denpasar Perluas Ranah Dharmasastra
Semangat pelestarian budaya serupa tercatat di SMPN 11 Denpasar. Kepala SMPN 11 Denpasar, Komang Anggraeni, menjelaskan bahwa sekitar 20 siswa tercatat aktif mengikuti ekstrakurikuler Dharmasastra. Program ini mencakup spektrum literasi tradisional yang lebih luas, seperti pelantunan Dharmagita, keterampilan nyurat aksara Bali di atas daun lontar, penguasaan susastra, hingga seni pidarta (orasi/pidato berbahasa Bali).
"Saat ini terdapat sekitar 20 siswa yang aktif. Keikutsertaan peserta mengalami peningkatan dan ini membuktikan anak-anak kita tetap mencintai tradisi leluhurnya," jelas Komang Anggraeni.
Tumbuhnya kecintaan generasi Z terhadap Dharmagita menjadi bukti nyata bahwa tradisi adiluhung Bali mampu beradaptasi dan tetap relevan, sekaligus menjadi benteng penguatan karakter pelajar di tengah arus globalisasi yang kian deras.
Comments (0)