Dari Jepara ke PBB: Pemikiran Kartini yang Mendunia

Lampu-lampu di salah satu ruang konferensi Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York meredup. Layar lebar di depan perlahan menyala, menampilkan sosok perempuan Jawa bersanggul, duduk ...

Jul 13, 2026 - 04:23
0 0

Lampu-lampu di salah satu ruang konferensi Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York meredup. Layar lebar di depan perlahan menyala, menampilkan sosok perempuan Jawa bersanggul, duduk di depan meja kayu sambil memegang pena. Hening. Lalu suara narator mengalun, mengisahkan surat-surat yang ditulis lebih dari seabad silam. Beberapa penonton—diplomat, aktivis, pelajar dari berbagai negara—mulai menyeka sudut mata mereka. Malam itu, Kartini tidak hanya hadir sebagai nama jalan di kota-kota Indonesia; ia hadir sebagai nyala pemikiran yang menembus batas geografis dan zaman.

Di barisan depan, Hanung Bramantyo, sutradara film Kartini (2017), duduk dengan pandangan lekat ke layar. Baginya, malam itu adalah penegasan: perjuangan emansipasi yang disuarakan Kartini benar-benar mendunia. “Saya tidak pernah menyangka, surat-surat yang ditulis seorang perempuan Jawa lebih dari seratus tahun lalu bisa menggugah hati orang-orang di sini,” ujar Hanung, suaranya bergetar menahan haru, sesaat setelah pemutaran selesai.

Bukan Sekadar Film Biografi

Bagi Hanung, membawa kisah Kartini ke layar lebar adalah perjalanan batin yang panjang. Ia tidak ingin filmnya sekadar menjadi parade fakta sejarah. Ia memilih menyelami surat-surat asli Kartini, mencari benang merah pemikiran yang membuat perempuan itu melampaui zamannya. “Saya menemukan bahwa Kartini bukan hanya milik Indonesia. Pemikirannya tentang hak asasi manusia, tentang keadilan, tentang suara perempuan—itu universal,” tutur Hanung di hadapan para hadirin.

Dalam sesi diskusi singkat, Hanung mengisahkan betapa terkejutnya ia saat mendapati bahwa surat-surat Kartini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari sepuluh bahasa, dan menjadi bacaan para aktivis feminis di Eropa dan Afrika. “Kartini berbicara tentang pentingnya pendidikan, tentang hak untuk bermimpi, tentang melawan ketidakadilan dengan pikiran. Nilai-nilai itu tidak pernah kedaluwarsa,” tambahnya.

Momen Haru di Ruang Pemutaran

Suasana berubah menjadi sangat emosional ketika adegan Kartini muda dipaksa berhenti sekolah, lalu menulis di bawah cahaya lampu minyak, mulai tergambar di layar. Seorang diplomat perempuan dari Kenya, yang duduk di samping Hanung, terisak pelan. “Saya merasa kisah itu adalah kisah ibu saya, kisah nenek saya, dan juga kisah saya sendiri,” bisiknya setelah lampu kembali menyala. Momen itu menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan ketimpangan gender adalah cerita bersama manusia di seluruh dunia.

Film yang diputar versi khusus dengan narasi Bahasa Inggris itu disambut tepuk tangan panjang. Banyak yang terpaku, seolah tak percaya bahwa pemikiran progresif tentang kesetaraan telah muncul dari seorang perempuan di Jepara pada akhir abad ke-19. “Ini bukan sekadar nostalgia kolonial. Ini bukti bahwa suara dari Selatan juga bisa menjadi fondasi gerakan global,” komentar seorang aktivis dari Meksiko yang hadir.

Warisan yang Melampaui Zaman

Hanung menekankan bahwa pemikiran Kartini sangat relevan dengan isu-isu kontemporer: akses pendidikan yang tidak merata, kekerasan berbasis gender, dan representasi perempuan di ruang pengambilan keputusan. “Apa yang kita rayakan malam ini bukan hanya keberhasilan film, tetapi kemenangan semangat Kartini yang terus hidup di setiap perempuan yang berani bersuara,” katanya lirih.

Pemutaran di PBB itu sendiri merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan Hari Perempuan Internasional yang diselenggarakan oleh misi tetap Indonesia dan badan-badan PBB yang fokus pada kesetaraan gender. Film Kartini dipilih karena dianggap mampu menjadi jembatan dialog antarbudaya: menampilkan wajah perjuangan yang personal, jujur, dan bebas dari retorika politik yang kerap memecah belah.

Di akhir acara, seorang remaja putri keturunan Indonesia yang lahir dan besar di Amerika Serikat menghampiri Hanung. Dengan suara tercekat, ia berkata, “Saya baru mengerti sekarang, mengapa nenek saya selalu bilang agar saya tidak pernah berhenti belajar.” Bagi Hanung, kalimat sederhana itu adalah hadiah terbesar dari malam panjang yang penuh air mata dan inspirasi itu.

Ketika ditanya apa harapannya setelah pemutaran ini, Hanung menjawab dengan mata berbinar: “Saya ingin setiap orang yang menonton film ini pulang dengan satu pertanyaan: apa yang bisa saya perjuangkan hari ini, untuk anak perempuan saya, untuk tetangga saya, untuk dunia yang lebih adil?” Pertanyaan itu menggantung di udara, membawa pulang penonton bukan dengan hiburan semata, melainkan dengan bara semangat yang dulu dinyalakan oleh seorang perempuan muda dari Jepara—dan kini berkobar di jantung diplomasi dunia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User