Gereja Blenduk dan Rengginang Ketan: Kisah dari Semarang

Pagi itu, mentari Kota Semarang malu-malu menyembul di balik kubah Gereja Blenduk. Di sudut jalan Letjen Suprapto, aroma kopi tubruk warung tenda berbaur dengan bau tanah basah sisa hujan semalam. Seo...

Jul 11, 2026 - 21:26
0 0
Gereja Blenduk dan Rengginang Ketan: Kisah dari Semarang

Pagi itu, mentari Kota Semarang malu-malu menyembul di balik kubah Gereja Blenduk. Di sudut jalan Letjen Suprapto, aroma kopi tubruk warung tenda berbaur dengan bau tanah basah sisa hujan semalam. Seorang bapak setengah baya dengan sepeda ontelnya melintas, sesekali membunyikan bel—menciptakan simfoni pagi di kawasan Kota Lama. Di sinilah saya memulai perjalanan, bukan sekadar menapaki masa lalu, tetapi juga menyelami kenikmatan sederhana yang lahir dari tangan-tangan penuh cinta.

Kubah Ikonik yang Menyimpan Sunyi

Gereja Blenduk berdiri megah, bangunan serba putih dengan garis arsitektur neo-klasik yang mencolok. Dibangun pada 1753, gereja ini merupakan salah satu saksi bisu perjalanan kota. Di dalamnya, sinar mentari menerobos jendela kaca patri, menghasilkan spektrum warna yang menyapu lantai marmer. Saya duduk di bangku kayu jati yang sudah berusia ratusan tahun, merasakan hawa sejuk yang menusuk pori. “Dulu, banyak pasangan Belanda menikah di sini,” bisik seorang petugas, sembari menunjuk altar yang masih asli. Ada keheningan yang menenangkan, seolah ribuan doa yang pernah dipanjatkan di sini masih menggantung di langit-langit berkubah. Di luar, para fotografer membidik keindahan fasad, tetapi di dalam, saya menemukan sesuatu yang lebih personal: rasa syukur akan kesempatan untuk diam sejenak dari hiruk-pikuk kekinian.

“Setiap sudut gereja ini menyimpan cerita. Kalau bisa bicara, mungkin dia akan menangis haru,” ujar Pak Sutarno, pemandu yang sudah 15 tahun menemani turis.

Dari Altar ke Dapur: Kisah Rengginang Ketan

Meninggalkan Blenduk, saya berjalan menyusuri gang kecil di belakangnya. Di sinilah saya bertemu Mbah Sri, seorang nenek 72 tahun yang setiap pagi membuat rengginang ketan di rumah petaknya yang mungil. Tangan keriputnya dengan lincah membentuk bulatan-bulatan ketan yang sudah dimasak dengan santan dan garam. Aroma pandan menguar lembut. “Ini resep dari simbah saya dulu, tidak pernah berubah,” katanya sambil tersenyum, matanya mengerjap di bawah caping kecilnya.

Rengginang ketan buatan Mbah Sri berbeda. Ada keseimbangan sempurna antara gurih santan dan manis alami ketan yang dijemur tiga hari. Setelah kering, rengginang digoreng dalam minyak kelapa hingga mengembang jadi kecokelatan. Teksturnya renyah di luar, kenyal di dalam. Bukan sekadar camilan, ini adalah warisan.

Resolusi Rasa dalam Kehangatan Keluarga

Mbah Sri mengisahkan, dulu rengginang adalah hidangan wajib saat Lebaran. Semua anggota keluarga berkumpul, membentuk bulatan rengginang bersama. Sekarang, ia sendirian. Suaminya telah tiada, anak-anaknya merantau. Namun setiap kali membuat rengginang, ia merasa seolah mereka ada di sisinya. “Ini bukan hanya soal perut, Nak. Ini soal kenangan,” bisiknya. Saya mendapati air mata menggenang di pelupuk matanya.

Proses pembuatan rengginang pun dipenuhi detail kasih sayang: beras ketan direndam semalam, lalu ditanak dengan santan segar, garam secukupnya, dan dua lembar daun pandan. Setelah matang, ketan ditumbuk sedikit agar lengket, lalu dibentuk bundar pipih. Penjemuran butuh sinar matahari penuh—Mbah Sri selalu memilih halaman belakang yang teduh namun terkena cahaya dari pagi sampai siang. “Kalau musim hujan, saya kadang menangis karena rengginang tidak bisa kering,” ceritanya polos.

Ketika akhirnya kering, rengginang digoreng dalam minyak panas. Proses ini seperti sihir: bulatan keras berubah jadi kerupuk mengembang renyah. Mbah Sri menyajikannya dengan taburan gula pasir di atasnya untuk versi manis, dan sejumput garam untuk yang gurih. Saya mencoba keduanya. Satu gigitan membawa saya ke masa lalu—mungkin ke masa kecil saya sendiri, ketika ibu membuatkan camilan serupa.

“Rengginang itu sabar. Dari rendaman sampai penggorengan, semua butuh waktu. Sama seperti hidup, tidak ada yang instan,” kata Mbah Sri dengan nada bijak.

Sebelum pamit, saya membeli sekantong besar rengginang. Mbah Sri menolak uang lebihnya. “Yang penting kamu suka, itu sudah cukup,” ujarnya. Sebuah pelajaran sederhana tentang ketulusan yang langka di zaman serba transaksional ini.

Sore merayap di Kota Lama. Gereja Blenduk kembali bercahaya keemasan. Saya duduk di bangku taman, mengunyah rengginang, menatap kubah ikonik yang kini bersahabat. Dua hal yang tampak jauh—bangunan warisan kolonial dan rengginang tradisional—ternyata diikat oleh benang yang sama: keduanya adalah penanda waktu yang setia. Gereja itu bertahan melewati peperangan dan modernisasi, sementara rengginang bertahan di tengah gempuran snack pabrikan. Keduanya hidup dalam denyut lambat yang memilih untuk tidak tergerus zaman.

Di sinilah saya menemukan Semarang yang sebenarnya: bukan hanya tentang gedung tua yang dipugar, tapi juga tentang tangan-tangan yang tetap merawat warisan rasa. Perjalanan ini mengajarkan bahwa keindahan seringkali bersembunyi di tempat-tempat sederhana: di altar yang hening, di dapur yang berasap, dan di sepotong rengginang yang hangat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User